Tidak Punya KTP, 16 Ribu Warga Tanah Merah Kehilangan Hak Politik Di Pilkada

Sedikitnya 16.000 warga Tanah Merah, Plumpang, Jakarta Utara, terancam kehilangan hak politiknya dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta pada tanggal 11 Juli 2012 mendatang.

Pasalnya, dari 24 ribu warga Tanah Merah yang mestinya punya hak pilih, hanya 8000 warga yang terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). “Ini karena cuma 8000an itu yang punya KTP DKI Jakarta,” kata Purwanto.

Purwanto, yang menjabat sebagai sekretaris Forum Komunikasi Tanah Merah Bersatu (FKTMB), menyampaikan hal ini saat sedang menggelar aksi massa bersama sedikitnya 1500 warga Tanah Merah di Kantor Balaikota DKI Jakarta (5/7/2012).

Purwanto menyayangkan sikap Pemprov DKI Jakarta yang mengabaikan hak warga Tanah Merah untuk mendapatkan dokumen kependudukan. Padahal, warga Tanah Merah adalah warga negara Republik Indonesia.

“Kami sudah 20-an tahun tinggal di Tanah Merah. Kami warga negara Republik Indonesia. Tapi, kok, sepertinya pemerintah DKI Jakarta tak mau mengakui kami,” kata Purwanto.

Tidak hanya di lapangan politik, Purwanto mengatakan, warga Tanah Merah juga kesulitan mengakses hak-hak di lapangan ekonomi. Termasuk dalam mengakses layanan publik dan kebijakan pemerintah DKI Jakarta.

Purwanto menceritakan, akibat ketiadaan dokumen kependudukan (KTP, KK, dan Akta Kelahiran), warga Tanah Merah sangat kesulitan mengakses layanan publik pemerintah DKI Jakarta.

“Warga kesulitan mencari pekerjaan, menyekolahkan anak, mendapatkan layanan kesehatan, dan berbagai bentuk layanan publik lainnya. Warga Tanah Merah nyaris tidak tersentuh program pembangunan,” ungkapnya.

Selain menuntut dokumen kependudukan, warga Tanah Merah juga menuntut legalisasi Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW). Pasalnya, sampai sekarang Tanah Merah belum punya RT/RW resmi.

Aksi ini berlangsung sejak pukul 10.00 WIB. Begitu sampai di depan kantor Balaikota, massa segera menggelar orasi-orasi politik.

Tak lama kemudian, karena tak juga direspon oleh pihak Pemrov, ribuan warga Tanah Merah ini mulai menggoyang pintu pagar. Akibatnya, pintu pagar kantor Balaikota pun roboh. Meski begitu, sebagian besar massa tetap menggelar aksi di depan pagar.

ULFA ILYAS

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut