Polisi Dan Sumbangan Pengusaha

Apakah jadinya bila Polisi menerima sumbangan dari pengusaha? Inilah yang terjadi baru-baru ini: markas Polsek Tamalate di Makassar, Sulawesi Selatan, merupakan hasil sumbangan dari pengusaha. Polisi mendapat hibah tanah seluas 1.411 hektar, dibangunkan markas baru senilai nilai Rp1,5 milyar, dan mobil.

Bahkan, seperti diakui  Kepala Bidang Humas Polda Sulsel Kombes Chevy Ahmad Sopari, Polda Sulsel telah menerima bantuan senilai Rp 7.829.262.150 dalam bentuk peralatan video conference, pembangunan dan renovasi gedung, serta kendaraan roda empat dan roda dua. Bantuan itu didapat dari sejumlah pengusaha di Sulsel.

Orang pantas mencurigai bantuan itu. Maklum, di jaman sekarang mana ada bantuan yang sifatnya cuma-cuma. Tidak ada bantuan yang bebas kepentingan. Apalagi, ini bantuan dari sekelompok pengusaha: mereka memang terbiasa memberi bantuan cuma-cuma sebagai jalan memperlancar bisnis. Mottonya: no free lunch!

Pertama, Kepolisian RI adalah alat keamanan negara. Karenanya, sebagai alat keamanan negara, polisi mestinya hanya tunduk pada UU/konstitusi. Polisi harus kebal dari berbagai sogokan dan upaya pemanfaatan (penyewaan) oleh pihak lain di luar negara.

Karena itu, Polisi tidak boleh menerima sumbangan apapun. Apalagi menerima sumbangan dari pihak pengusaha. Nantinya, orang bisa beranggapan, polisi tak ubahnya alat keamanan swasta: bisa dibeli dan dipakai oleh mereka yang punya uang.

Kedua, pemberian sumbangan tak ubahanya “upeti”. Anda ketahui, upeti selalu berlandaskan motif tertentu. Kalau pengusaha, ya, supaya usaha dan kepentingan bisnisnya berjalan lancar. Nah, bagaimana jika bisnis si pengusaha itu berbenturan dengan kepentingan rakyat banyak. Taruhlah, misalnya, pengusaha itu butuh tanah untuk kepentingan usahanya dan itu dilakukan dengan menggusur pemukiman rakyat. Bisahkah Polisi bertindak netral dalam situasi seperti ini?

Kita sudah sering menyaksikan dalam banyak kasus. Dalam konflik agraria, misalnya, polisi sering memilih berpihak pada pengusaha. Inilah yang terjadi di Mesuji (Lampung), Bima (NTB), dan sejumlah tempat. Dan, kita tidak mau kasus semacam ini terus terjadi.

Ketiga, Polri mestinya merespon tuntutan publik mengenai transparansi dan akuntabilitas. Apalagi, Polri sendiri sedang gembar-gembor soal reformasi di internalnya. Bukankah tindakan menerima sumbangan itu justru menciutkan harapan dan kepercayaan publik mengenai reformasi di tubuh Polri.

Kita takut apa yang biasa ditonton di film-film menjadi kenyataan di sini: pengusaha membeli aparat penegak hukum. Dan, pada gilirannya, hukum juga bisa dibeli pengusaha. Pada saat itu, rakyat tahu kemana lagi harus mencari keadilan.

Ada hal yang janggal dalam mental aparatus negara saat ini: semua aparatus negara berlomba-lomba menuntut fasilitas terbaik. Sementara kinerja dan pengabdian mereka kepada rakyat masih sangat buruk.

Kepercayaan rakyat terhadap polisi makin menurun. Indonesia Police Watch (IPW) mencatat, sepanjang 2011 tercatat 97 orang tidak bersalah ditembak polisi, 19 tewas, dan 78 lainnya luka. Sementara Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (Kontras) mencatat, setidaknya terjadi 60 kasus pelanggaran dan penyalahgunaan wewenang aparat kepolisian sepanjang 2011 hingga pertengahan 2012. Ini meliputi: 14 kasus praktik penyiksaan, 20 kasus penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang, 11 kasus penggunaan kekuatan senjata api secara berlebihan, tujuh kasus pembubaran paksa terhadap kegiatan damai, dan delapan kasus pembiaran tindak kekerasan dari kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas. Juga, pada tahun 2011 terdapat 65 kantor polisi dirusak dan dibakar oleh massa-rakyat. Sebelumnya, pada tahun 2010, ada 20 kantor polisi yang dirusak dan dibakar oleh massa-rakyat

Bagi kami, yang paling perlu dihadirkan aparatus negara sekarang, termasuk kepolisian, adalah pengabdian kepada negara dan keberpihakan kepada rakyat. Maka, jangan heran, sosok polisi seperti Hoegeng terus dirindukan oleh rakyat: jujur, patriotik, sederhana, dan melindungi rakyat.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut