Tembakau Aset Industri Nasional Yang Miliki Sejarah Panjang

SUMALI, petani yang biasa menanam tembakau di sela-sela tanaman padinya di kecamatan Kalisat, kabupaten Jember, menjadi ngeri dengan berita-berita yang muncul di televisi tentang akan diberlakukannya Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan. Jika kemudian RPP yang rencananya akan diberlakukan tahun depan benar-benar diketok palu, maka habislah mata pencahariannya.

Di Jember, penghasilan tembakau na oogst besuki semakin menurun. Tembakau yang penanganannya memerlukan penanganan ekstra ini menjadi sangat turun tingkat produksinya setelah Indonesia mengalami cuaca buruk yang tidak menentu beberapa waktu terakhir. Dalam satu tahun, tembakau kualitas ekspor ini menyumbang 34 persen untuk kebutuhan dunia. Karena itu tembakau jenis ini menjadi salah satu unggulan di Jawa Timur.

Di wilayah madura sendiri, menanam tembakau sudah menjadi kultur yang tak bisa dilepaskan. Apalagi, dogma-dogma yang muncul seperti kalimat yang mengatakan “Beni lelakek mon tak nanem beko (bukan laki-laki kalau tidak menanam tembakau/dalam bahasa madura. Red). Ditambah dengan beberapa tanahnya yang hanya bisa ditanami tembakau.

Menurut pakar ekonomi yang juga sedang melakukan penelitian tentang tembakau, Adhitya Wardhono, yang harus dibenahi untuk mengendalikan pemakaian rokok bukanlah membatasi produksi tembakau apalagi sampai mematikannya. Pria yang mengaku tidak merokok ini justru menginginkan pemerintah menghentikan hegemoni asing yang masuk ke Indonesia melalui rezim saat ini.

Pria yang juga menjadi dosen di universitas negeri Jember ini mengatakan, jika tahun 2009 lalu Indonesia bisa mengekpor hingga 2,5 persen dari seluruh hasil pertanian, kini, Indonesia hanya mampu mengekspor 2,4 persen saja.

“Kalau industri dan pasar tembakau nasional kita dimatikan, masyarakat kita yang berjuta-juta itu mau diberi makan apa? Bayangkan saja, industri nasional tembakau di Indonesia itu, menyerap tenaga kerja nomer 2 setelah teh. Bisa dibayangkan berapa juta jiwa yang akan semakin miskin karena mata pencaharian mereka dihilangkan. Belum lagi kondisi kita yang akan semakin kolaps,” paparnya.

Menurut Adit, perilaku ekonomi sudah menjadi perilaku sosial yang erat hubungannya dengan hajat hidup banyak orang. Pendapatan cukai dari rokok di tahun 2010 mencapai 59,3 triliun yang masuk ke Indonesia. Belum lagi, jumlah pabrik rokok di Indonesia yang mencapai 1917 pabrik di tahun 2010. Dan, 1200 batang rokok jenis cigarillos yang dibuat dari tembakau na oogst besuki dikirim ke eropa setiap tahunnya.

Pabrik-pabrik rokok sendiri, kata Adit, berdiri di 98 kabupaten dari 12 propinsi di Indonesia. Dan jika dijumlahkan ada sekitar 6,1 juta jiwa pekerja pabrik yang menggantungkan hidupnya dari rokok. Asumsinya, lanjut Adit, jika setiap pekerja memiliki 3 orang anak, maka sebanyak 30,5 juta jiwa lainnya akan menderita karena kemiskinan yang semakin menjerat akibat berkurangnya pasar tembakau dan rokok.

Jika pemerintah kita pintar, pemberlakuan RPP dan pembatasan pasar tembakau akan mengakibatkan eskalasi yang sangat berat. Hal itu, lanjut dia, akan menjadi beban nasional yang luar biasa berat. Belum lagi perhitungan mengenai terjadinya chaos akan menjadi kemungkinan cukup besar.

“Kita itu kan masyarakat yang agro dan mina. Kita tidak punya industri nasional. Kita hanya punya industri rokok. Jadi seluruh kesejahteraan rakyat difokuskan pada hasil pertanian dan industri rokok,” katanya.

Ia mencontohkan ekspor tembakau Jember yang diekspor ke negara-negara Amerika. Jika ada satu saja tembakau yang mengandung pestisida berapapun persennya, mereka tidak mau menerima dan membayar sekaligus menyuruh pihak Indonesia untuk membakar tembakau tersebut. Hal itu, kata dia, sangat merugikan posisi Indonesia.

Adit menambahkan, Indonesia haruslah memiliki system kelembagaan yang kuat dalam mengontrol industrinya. Saat ini, Philip moris telah membeli 98 persen saham sampoerna dan juga bentoel. Jika kemudian djarum dan pabrik-pabrik rokok di Indonesia dibeli, kata dia, maka habislah Indonesia sebagai negara yang tidak mampu mempertahankan industri nasionalnya.

“Tembakau adalah tanaman politik yang sangat berpengaruh. Seperti misalnya kedelai. Ketika kita tidak lagi membudidayakan kedelai, dan tiba-tiba harga kedelai melejit sangat jauh, kita tidak akan bisa menggapai itu karena pihak asing akan menjualnya dengan sangat mahal. Begitu juga dengan tembakau. Jika kita menghilangkan budidaya tembakau, maka kebutuhan masyarakat akan tembakau yang selama ini tidak bisa dilepaskan akan sangat bergantung pada pihak asing,” jelasnya.

Dan pihak asing, lanjut dia, akan berlomba-lomba untuk menawarkan rokok putihnya dengan sangat mahal pada kita yang sudah sangat tergantung pada rokok dan tembakau.

“Pemerintah harus mengkaji lagi dalam-dalam. Tembakau sudah menjadi bagian dari hidup kita, bangsa Indonesia. Dan menghapuskan budidaya tembakau sekaligus meniadakan industrinya khususnya kretek sebagai produk asli Indonesia yang isinya juga termasuk cengkeh, akan membuat kita kolaps luar biasa. Fatwa haram yang dikeluarkan MUI tidak beralasan. Kalau mereka mengeluarkan fatwa itu, yang harus dipikirkan adalah mata rantai sosiologis yang akan mereka putus dengan kejam itu,” tandasnya. (vhivhie)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • rokok merusak rakyat.
    kebon tembakau agar diganti segera dg kebon tebu atau lainnya.
    industri rokok harus menanggung rugi pengobatan rakyat yg berpenyakit tbs, stroke, impoten dll.
    pabrik rokok harus segera ditutup.
    agar rakyat sehat, negara kuat, sejahtera.