Kepergian Wartawan Tiga Jaman

Kemarin pagi, sekitar pukul 08.15 WIB, dunia jurnalisme Indonesia kehilangan salah satu tokoh besarnya: Rosihan Anwar. Ia dijuluki sebagai wartawan tiga jaman: perjuangan kemerdekaan, orde baru, dan masa reformasi.

Akan tetapi, keperkasaan Rosihan Anwar di atas panggung sejarah jurnalisme Indonesia adalah karena kecelakaan sejarah. Tahun 1965, titik dimana situasi politik Indonesia balik-badan, Rosihan Anwar tampil sebagai pemenang bersama dengan golongan kanan lainnya. Lawan-lawannya di pihak kiri, yang keperkasaannya tidak kalah dengan Rosihan Anwar, telah dihapuskan dari buku-buku sejarah. Diantaranya: Francisca C. Fanggidaej dan Umar Said. Masih banyak yang lain.

Sejarah memang selalu ditulis oleh pemenang. Meskipun Rosihan sedikit kritis terhadap orde baru, bahkan pernah menolak tawaran Soeharto untuk menjadikan dirinya sebagai dubes di Vietnam, tetapi Rosihan tidak pernah jujur saat menulis peristiwa 1965 dan mengenai lawan-lawan politiknya saat itu.

Bahkan, karena sangat terjangkit oleh penyakit Komunis-Phobia, Rosihan tidak segan-segan untuk menihilkan peran kaum kiri dalam gelanggang sejarah perjuangan bangsa. Dalam berkisah soal pertempuran 10 November 1945, misalnya, Rosihan selalu berusaha menulis dengan menihilkan peranan Soemarsono. Pada 10 November 2010 lalu, Rosihan masih sempat menulis di kompas dan mengatakan bahwa pemuda Soemarsono tidak ada di lokasi pertempuran. Padahal, melalui buku Revolusi Agustus Soemarsono berusaha membuka mata rakyat Indonesia dan generasi sekarang mengenai betapa heroiknya pertempuran 10 November dan peran yang dimainkannya dalam perjuangan itu.

Terhadap Bung Karno, Rosihan juga menyatakan ketidaksukaannya. Rosihan pernah menulis begini, “Hatta bersikap teguh, konsisten dan konsekuen. Sebaliknya Sukarno, ahli pidato yang bergembar-gembor, lekas bertekuk lutut jika menghadapi keadaan yang sulit dan tidak menyenangkan bagi dirinya pribadi.” Untuk memperkuat argumentasinya, Rosihan pun memungut argumentasi John Ingleson dalam buku “Jalan ke pengasingan : pergerakan nasionalis Indonesia tahun 1927-1934”. Kontan saja, pendapat Rosihan itu mendapat tanggapan dua orang: Mahbub Djunaidi (kolumnis) dan Mohamad Roem (mantan dubes di era revolusi kemerdekaan). Mahbud Djunadi, yang mengaku pernah mengkonfirmasi hal ini kepada Inggit Ginarsih, istri Bung karno, meragukan surat berisi permintaan ampun Bung karno tersebut. Sedang M. Roem meragukan keaslian surat itu karena tidak ada tandatangan asli Bung Karno di situ.

Gaya “hantam kanan-kiri” inilah yang menyebabkan Rosihan sering sekali mendekam dalam penjara. Dalam hal ini, kita perlu mengakui adanya prinsip yang kuat dan jiwa merdeka di dalam diri Rosihan. Tetapi, kita juga harus mengakui bahwa metode hantam kanan-kiri tidak selamanya merupakan metode yang tepat, bahkan bisa dipergunakan pihak musuh untuk menghancurkan rejim progressif. Itulah yang terjadi saat Rosihan begitu kritis terhadap Bung Karno.

Meskipun begitu, dalam hatinya yang jujur, Ia mengakui bahwa etika dan etos kerja jurnalis di Indonesia sudah kehilangan ideologi. “The end of history, ndak bener menurut saya, tapi the end of ideology ada benarnya. Jadi karena tidak ada ideologinya, pers reformasi lalu asal hantam sana hantam sini,” katanya.

Di masa tuanya, Ia tetap kritis terhadap kedangkalan dan kebangkrutan kredibilitas pers Indonesia saat ini. Tentu saja apa yang disampaikan Rosihan Anwar ini ada benarnya. Alih-alih bisa mencerdaskan dan mencerahkan rakyat, pers sekarang justru terjebak pada logika profit dan sekedar popularitas semata.

Mana ada sekarang ini pers perjuangan, yaitu pers yang berjuang untuk kepentingan bangsa dan seluruh rakyat. Sebaliknya, pers sekarang lebih suka mengabarkan hal-hal yang sensasional dan kurang ilmiah. Penderitaan rakyat, meskipun sangat terang-benderang, sangat jarang digoreskan oleh tinta para jurnalis.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut