Seratusan Pemuda Persiapkan Kongres Pemuda

Siang tadi, sekitar pukul 13.00 WIB, kantor Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) di jalan Cikini 1, Jakarta, tiba-tiba sangat ramai. Seratusan orang telah berkumpul di dalam ruangan yang tidak begitu besar. Mereka sebagian besar adalah perwakilan berbagai organisasi dan komite aksi yang ada di Jakarta.

Masinton Pasaribu, Ketua Umum Repdem dan sekaligus tuan rumah pertemuan ini, membuka pertemuan dengan sedikit kata sambutan. “Ini merupakan pertemuan awal untuk menggagas sebuah kongres pemuda Indonesia,” katanya.

Karena rencana hajatan kongres pemuda itulah Masinton dan sejumlah inisiator mengundang berbagai organisasi untuk berkumpul. Sekitar 30-an organisasi terdaftar di absensi panitia. Lagu kebangsaan “Indonesia Raya” pun berkumandang saat pertemuan ini baru dimulai.

Agus Jabo, ketua Umum Partai Rakyat Demokratik, menjelaskan soal kenapa persatuan sangat diperlukan saat ini. “Sekarang ini, kita berhadapan dengan apa yang disebut imperialisme dan neo-kolonialisme. Alat untuk melawan imperialisme dan nekolim itu adalah persatuan nasional,” tegasnya.

Inisiator lain dari pertemuan ini adalah Haris Rusli Moti, aktivis Petisi-28. Ia menuturkan bahwa semangat komunike Bandung 1955 dapat dijadikan sebagai landasan persatuan pemuda ini. “Dalam komunike Bandung 1955, sudah jelas bahwa Indonesia berwatak anti-nekolim dan anti-imperialisme.”

Merumuskan Persoalan

Seorang aktivis perempuan dengan bersemangat mengabarkan soal rencana pertemuan di kalangan organisasi perempuan. Meski banyak berbicara soal perempuan, ia tetap menyatakan dukungan terhadap rencana kongres pemuda ini.

Beberapa saat kemudian, Agus Jabo menjelaskan panjang lebar mengenai kesesuaian antara ciri-ciri imperialisme yang pernah disebutkan Bung Karno dalam pidato “Indonesia Menggugat” dengan praktek kebijakan pemerintahan SBY-Budiono saat ini.

Keempat ciri itu adalah sebagai berikut: : (1) Indonesia tetap menjadi negeri pengambilan bekal hidup, (2) Indonesia menjadi negeri pengambilan bekal-bekal untuk pabrik-pabrik di eropa, (3) Indonesia menjadi negeri pasar penjualan barang-barang hasil dari macam2 industri asing, (4) Indonesia menjadi lapang usaha bagi modal yang ratusan-ribuan-jutaan rupiah jumlahnya.

Keempat ciri itu, kata Agus Jabo, sudah berkesesuaian dengan apa yang dijalankan oleh SBY-Budiono sekarang ini. “Dengan fakta ini, maka kita tidak ragu lagi untuk menyebut SBY-Budiono sebagai agen nekolim dan imperialisme,” katanya.

Haris Rusli Moti, yang mendapat kesempatan berbicara selanjutnya, menjelaskan tentang empat tujuan berbangsa dalam pembukaan UUD 1945, yaitu: melindungi segenap bangsa indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut dalam menciptakan perdamaian dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Empat tujuan berbangsa ini, kata Haris Moti, telah dikhianati oleh pemerintahan SBY-Budiono. Pemenuhan hak dasar, misalnya, tidak satupun yang berhasil dijamin dan dipenuhi pemerintahan SBY-Budiono.

Haris Rusli Moti juga menyampaikan kekhawatirannya terkait merebaknya nilai-nilai komoditas di kalangan pemuda, termasuk di dalamnya kaum pergerakan. “Mentalitas komoditas ini, yang mana orang sangat gampang untuk dibeli, telah menjadi faktor penghambat pembangunan gerakan,” katanya.

Mutiara Ika Pratiwi–yang disapa “Ika” oleh teman-temannya, juga menjelaskan jejak-langkah pemerintahan SBY-Budiono dan kebijakan neoliberalnya. Dengan penjelasan singkat, ia mengurai satu persatu kebijakan neoliberal SBY semenjak berkuasa hingga hari ini.

Meskipun begitu, kata ketua Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional (Pembebasan) ini, masih ada kelompok dalam gerakan mahasiswa yang mempercayai bahwa alternatif terhadap pemerintahan SBY masih sulit terjadi.

Ia pun menyambut baik niat mengkonsolidasikan gerakan pemuda, sebagai inti dari perlawanan terhadap pemerintahan SBY-Budiono. “gerakan pemuda ini merupakan harapan bagi pembebasan rakyat,” katanya.

“Meskipun kesimpulan hampir semua gerakan mahasiswa sudah menganggap SBY-Budiono gagal mensejahterakan rakyat,” kata Ika,“ tetapi belum ada sebuah konsolidasi gerakan dan gagasan yang bersifat nasional dan menyatukan seluruh gerakan pemuda (pemuda, mahasiswa dan pelajar).”

Basis dan momen untuk bersatu

Bagi Agus Jabo Priyono, basis untuk mendorong persatuan di kalangan pemuda ini adalah perasaan kebangsaan, semangat, dan kesamaan kesimpulan mengenai watak pemerintahan SBY-Budiono: agen imperialisme.

Sebagai gagasan awal untuk membangun persatuan ini, Agus Jabo mengajukan semangat proklamasi 17 Agustus 1945, Pancasila, dan konsep Bung Karno tentang Trisakti (berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang budaya).

Sementara Masinton Pasaribu, yang baru terpilih sebagai ketua Umum Repdem, menganggap bahwa dasar dari persatuan ini adalah ide-ide besar dalam sejarah perjuangan bangsa.

Untuk platform, kata Masinton, ada baiknya hal itu muncul dalam dinamika konsolidasi-konsolidasi pergerakan, mulai dari konsolidasi kecil-kecilan hingga konsolidasi yang bersifat nasional dan multi-sektoral.

Mengenai momentum untuk melakukan konsolidasi, Agus Jabo lebih cenderung agar gerakan anti-imperialis menciptakan momentumnya sendiri, bukan bersandar pada momentum-momentum kontemporer yang berjangka pendek.

“Ini perjuangan yang membutuhkan militansi serta kesabaran penuh, karena berjangka panjang serta membutuhkan persatuan nasional yang kuat,” kata pemuda yang terlibat dalam perjuangan menjatuhkan rejim orde baru ini.

Sementara Masinton melihat beberapa momentum di bulan Mei, seperti perayaan Hari Buruh, Hari Pendidikan Nasional, Hari Kebangkitan Nasional, dan Hari Kejatuhan Soeharto. Selain itu, kata Masinton, konsolidasi pemuda ini juga akan memanfaatkan momentum KTT ASEAN pada bulan Mei mendatang.

Dalam diskusi yang berkembang, sebagian besar peserta diskusi bersepakat untuk memanfaatkan momentum peringatan Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 sebagai awal dari konsolidasi gerakan pemuda, yaitu tanggal 18-24 April mendatang.

Dengan konsolidasi pemuda ini, Agus Jabo berharap bahwa Rakyat dan perjuangan anti-imperialisme di Indonesia bisa menemukan tulang-punggungnya, yaitu gerakan pemuda. Sedangkan Masinton berharap bahwa konsolidasi ini akan menghasilkan adanya kesatuan dalam gerakan dan melakukan aksi massa.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • vincent mendez

    Mantapp !! hanya persatuan pemudalah yang dapat merubah arah garis kebijakan untk berpihak pada wong cilik
    Pemuda adalah tulang punggung masa depan untk mencapai cita2 sosialisme sejati..

  • mantaBH