“Gangnam Gaza Style” Memotret Penderitaan Rakyat Palestina

Demam “Gangnam Style” yang dipopulerkan rapper Korea Selatan, Psy, kini tengah melanda hampir ke seluruh dunia. Tidak terkecuali di wilayah Jalur Gaza, Palestina, yang sedang dilanda konflik akibat agresi Israel.

Namun, di Palestina, para pemuda membuat “Gangnam Style” yang sesuai dengan keadaan negerinya. Versi itu diberi nama “Gangnam Gaza Style”, yang banyak memperlihatkan kondisi Gaza di bawah pendudukan dan pengepungan tentara Israel.

“Kami ingin memberi tahu dunia luar tentang keadaan-keadaan tidak masuk akal di mana kami hidup: bandara kami dihancurkan, nelayan kami dicegah untuk mengakses laut mereka, separuh penduduk kami tidak bisa bekerja,” kata  Mohammad Barakat, salah satu dari tujuh personil dari grup Gangnam Gaza Style ini.

Ia menjelaskan, Gangnam Style versi Gaza ini lebih banyak menyoroti persoalan rakyat Palestina di bawah pendudukan, seperti pemadaman listrik tiap hari, kelangkaan bahan bakar, tidak ada kebebasan bergerak, dan tingginya tingkat pengangguran.

Kostum yang dipergunakan oleh Gangnam Gaza Style ini juga unik. Mereka mengenakan kaos hitam dan celanan hitam. Semua personil menggunakan kacamata hitam. Lalu kepalanya dibungkus dengan kafiyeh—pakaian khas bangsa Palestina.

Personilnya ada 7 orang: 5 orang dewasa dan 2 orang anak kecil. Lokasi pengambilan gambarnya pun sesuai tema atau pesan yang hendak disampaikan: di pantai untuk menunjukkan nelayan yang dilarang ke laut; menaiki keledai untuk menggambarkan ketiadaan bahan bakar, lapangan sepak bola yang hancur, dan lain-lain.

Wassim abu Shabaan, 10 tahun, salah satu anak di video itu, kehilangan rumahnya akibat serangan udara Israel. “Rumah kami dihancurkan. Semuanya turut hancur..komputer kami, kamar kami, pakaian kami, semuanya,” ujar Wassim.

November 2012 lalu, Israel menyerang Gaza. Saat itu pesawat tempur Israel memborbardir stadion olahraga. Gangnam Gaza Style memotret kejadian itu melalui penggambaran dua orang anak memasuki stadion dengan bola di tanganya tetapi mereka hanya menemukan reruntuhan.

Program Kesehatan Mental masyarakat Gaza menemukan pada tahun 2009 bahwa 91 persen anak-anak di Gaza menderita gangguang stress pasca trauma (PSTD).

Pada tahun 2006, militer Israel juga mengebom satu-satunya pembangkit listrik di jalur Gaza. Akibatnya, rakyat Gaza harus pasrah dengan pemadaman listrik yang hampir terjadi setiap hari.

“Ini adalah abad 21, tetapi Gaza hampir tidak ada listrik,” kata Muhamad Bakarat. Akhirnya, warga Gaza pun terpaksa menggunakan lilin atau generator, yang menyebabkan sering terjadi kebakaran dan keracunan akibat karbon-monoksida.

Menurut laporan PBB, sejak tahun 2007, tentara Israel telah membunuh sedikitnya 2300 orang Palestina. Ini belum termasuk korban serangan Israel pada November 2012 lalu.

Bantuan Medis untuk Palestina (MAP-UK) melaporkan bahwa 10 persen anak-anak di Palestina menderita kekurangan gizi. Sementara penyakit anemia menyebar di kalangan perempuan hamil.

Israel juga memberlakukan “daerah penyangga” dengan mencaplok 35 persen daerah pertanian Palestina, yang menyebabkan gangguang ekonomi dan kekurangan bahan pangan lokal.

Selain itu, Gangnam Gaza Style juga mengajak dunia untuk memperhatikan nasib warga Palestina yang ditahan di penjara Israel, termasuk ribuan diantara mereka yang sedang menggelar mogok makan.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • nugi

    save palastine..!