Siapa Golongan Yang Anti Persatuan Nasional?

Bangsa Indonesia sedang berhadapan dengan situasi sulit. Bukan saja karena kehancuran perekonomian nasional dan sistim politik, tetapi juga kehancuran sosial budaya dan meluasnya sentimen yang hendak memecah-belah bangsa.

Ancaman terorisme hampir terjadi setiap hari, entah itu memang hendak dilakukan oleh teroris atau ada skenario di belakangnya. Sementara itu, pertikaian antara kelompok, perkelahian remaja atau pelajar, konflik berbau rasial juga masih sering terjadi dan seringkali mewarnai pemberitaan media massa.

Kebebasan berkeyakinan juga sedang terganggu. Ada segelintir kaum fundamentalis reaksioner, yang sama sekali tidak punya kontribusi terhadap pendirian bangsa ini, telah berusaha memaksakan kemutlakan keyakinannya kepada mayoritas. orang-orang Ahmadiyah dianggap haram di republik ini, meskipun mereka sudah tinggal di bumi nusantara sejak ratusan tahun.

Kejadian paling memilukan terakhir ini adalah pembongkaran makam Letkol (Pnb) Heru Atmodjo di TMP Kalibata. Kesimpulan sementara menyebutkan bahwa pembongkaran ini terkait tudingan bahwa Heru Atmodjo terlibat G.30.S dan orang-orang PKI tidak pantas dimakamkan di TMP Kalibata.

Itu adalah pernyataan konyol. Jika bercermin kepada siapa pendiri republik ini, adakah golongan yang bisa menyangkal bahwa tidak satupun dari pendiri Republik Indonesia ini yang tidak terpengaruhi oleh marxisme. Sebut saja: Bung Karno, Bung Hatta, Amir Sjarifuddin, Tan Malaka, Sjahrir, dan masih banyak lagi. Bisakah kita menyangkal bahwa kaum sosialis punya peranan besar dalam perjuangan mencapai Indonesia merdeka dan mempertahankan kemerdekaan.

Benar apa yang pernah dikatakan Bung Karno saat memberikan pidato di depan peserta Pembukaan Kursus Kilat Kader Nasakom, 1 Juni 1965, sebagai berikut:

“ Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, saya ucapkan atas nama seluruh bangsa Indonesia, dan proklamasi Kemerdekaan itu dipertahankan oleh seluruh Rakyat Indonesia zonder phobi-phobian, zonder ada perpecahan diantara kita dengan kita.”

Pernyataan Bung Karno itu sudah sangat jelas: siapapun yang terlibat dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, terlepas apapun ideologinya, mereka harus disebut pejuang republik Indonesia. Jadi, siapapun yang berbicara komunisme-phobia untuk menyingkirkan peranan pejuang kemerdekaan, bukan saja mereka telah melecehkan sejarah perjuangan bangsa dan para pendiri Republik, tetapi telah menjadi unsur reaksioner yang menghendaki perpecahan dan bubarnya Republik Indonesia ini. Tinggal Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan SBY memilih: mau memihak segelintir pemecah belah bangsa itu ataukah memihak persatuan nasional?

Sudah menjadi jelas pula, setidaknya bagi kami, bahwa pihak-pihak yang selalu menyulut perpecahan nasional adalah pihak-pihak itu juga: fundamentalis reaksioner. Kelompok inilah yang menyebarkan kebencian anti-ahmadiyah; mereka pula yang selalu menutup gereja-gereja; mereka pula yang dibayar orba untuk memukul gerakan pro-demokrasi di tahun 1998-1999; mereka pula yang selalu meneriaakkan berdirinya negara berdasarkan agama (jelas anti-pancasila dan anti NKRI); dan, mereka pula yang selama ini menyebarkan komunisme phobia.

Kelompok reaksioner ini adalah agen imperialisme. Bukankah ketika bangsa Indonesia berjuang keras melawan kolonialisme, ada pula segelintir orang yang bekerja dengan penjajah belanda dan menebarkan perpecahan di bangsa kita. Sekarang ini, ketika kita sedang berusaha keras untuk bangkit melawan penjajahan baru (imperialisme), kelompok semacam ini kembali berusaha mengacaukan persatuan kita dan mempromosikan kesempitan berfikir.

Terakhir, untuk menutup editorial ini, saya kutip perkataan Bung Karno yang disitir dari pemimpin besar Amerika, Abraham Lincoln: a nation divided against itself cannot stand.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut