Reboan Jaker dan Solidaritas Untuk Petani Jambi

Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker) kembali menggelar even Reboan Seni. Event rutin yang menjadi trade mark Jaker ini coba diluaskan penyelenggaraan serta kepesertaannya dengan “keluar kandang”. Kalau biasanya reboan di markas Sawo Kecik, maka pada Rabu malam tanggal 23 Maret 2016 diadakan di Warung Bola, jalan Pahlawan Revolusi, Pondok Bambu, Jakarta Timur.

Malam itu ada sekitar 50-an penonton hadir. Sejumlah penampil bergantian mengisi panggung kecil untuk mengekspresikan kebisaan seni dan karyanya. Malam yang lembab tapi langit terang serta cuaca yang berkawan sepertinya merestui even Reboan kali ini. Maklum, ini masih di musim penghujan, bila datang hujan tentu sedikit banyak meng-interupsi acara Reboan yang di konsep luar ruangan itu.

Panggung digebrak oleh pertunjukan musik. Sederet reportoar milik grup Boomerang digeber keras oleh Rebel Indonesia yang jadi penampil pertama malam itu. Rebel Indonesia, sebuah komunitas musik yang baru saja berganti nama dari Rebel Brothers ini, mengungkapkan alasan penggantian nama adalah untuk meluaskan wilayah pengorganisiran. Bila selama ini massa mereka melulu para rocker penggemar fanatik grup Boomerang dan Roy Jeconiah (RI 1 maupun Jecovox, maka sesuai dengan nama baru, filosofi dan tujuannya kedepan komunitas ini terbuka juga untuk penggemar musik (rock) pada umumnya, bahkan lebih progresif lagi akan menghilangkan sekat– sekat genre musik untuk bersatu dalam wadah Rebel Indonesia. Tentunya, untuk menyuarakan tema–tema sosial kerakyatan, perdamaian dan persaudaraan.

Berikutnya berturut–turut para penyair, pegiat puisi melabrak panggung reboan. Abrory A. Jabbar, Tora Kundera (Jaker Depok), Eka WP, Ragil – R. Aulia dan Cep Gabaka dari Sanggar Teater Biru Langit bergantian melantunkan syair–syair dari yang lembut sampai yang keras-marah dan menggugat kekuasaan politik hari ini.

Panggung Reboan disudahi oleh penampilan music dari Doddy Bagus Priambodo, Willy Suherly dan Arie. Para pemusik ini kyusuk menyanyikan lagu – lagu milik Leo Kristi, The Beatles dan Bob Dylan. Nuansa balada kuat melontar dari aura tampilan mereka. Tak ayal hadirin respek menyimak.

Di tengah acara, Ketua Umum Jaker Tejo Priyono menjelaskan, even reboan ini diadakan rutin sebagai panggung apresiasi dan silaturahmi antar pekerja seni. Sesuai dengan motto Jaker “Setiap Orang adalah Seniman, Setiap Tempat adalah Panggung”, maka panggung reboan boleh diisi oleh siapa saja dan bentuk seni pertunjukan bisa apa saja. Tapi Jaker mensyaratkan konten seni yang ditampilkan, dinyanyikan, atau dipuisikan tidak boleh menyerang dan menjelekkan suku, agama, dan ras. Dilarang mengumbar vulgar pornografi, tidak nonsense, dan tidak boleh merendahkan kaum perempuan.

Tejo juga menginformasikan tentang Aksi Jalan Kaki sejauh 1.000 Km yang dilakukan oleh Suku Anak Dalam dan ribuan Petani Jambi.

Ditegaskan pula dalam sambutan itu perlunya seniman-pekerja seni budaya bersolidaritas untuk perjuangan Suku Anak Dalam dan para Petani Jambi yang tanah garapan dirampas habis oleh korporasi perkebunan. Dengan karya indah hasil olah rasa juga perenungan estetik guna peroleh ide-inspirasi dari sekitar, sudah seharusnyalah pekerja seni budaya menghibur, menguatkan, berkarya bersama juga mendukung aksi tersebut. Dan Reboan Jaker bisa jadi turun ke kemah tuntutan Suku Anak Dalam dan para Petani Jambi sebagai solidaritas.  ***

SUKIR ANGGRAENI

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut