Yang Menarik Dari Tan Malaka

Membicarakan Indonesia tanpa menyebut nama Tan Malaka seperti membuat sayur tanpa garam. Kok bisa?

Dialah penggagas awal Republik Indonesia. Dia juga adalah satu dari tujuh begawan Revolusi Indonesia versi Harry Poeze. Ketujuh orang itu: Sukarno, Hatta, Amir Sjarifoeddin, Sjahrir, Tan Malaka, Soediman, dan AH Nasution. Merekalah, kata sejarawan Belanda itu, yang menentukan arah dan produk Revolusi Indonesa.

Tetapi, apa yang membuat pemuda dari pedalaman Sumatera Barat itu bisa melejit di panggung nasional dan dunia?

Anggota DPR dari fraksi PDI Perjuangan, Budiman Sudjatmiko, mengatakan, Tan Malaka adalah seorang revolusioner yang percaya pada dua hal, yakni ilmu pengetahuan dan organisasi.

“Dua hal itu mutlak bagi seorang pejuang politik. Sebab, berpolitik tanpa pengetahuan itu ilusif-irasional, sedangkan berpolitik tanpa organisasi itu sombong,” jelasnya dalam diskusi bedah buku bertajuk Membincangkan Novel Tan di PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (19/3/2016).

Keunggulan Tan Malaka lainnya, kata mantan aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) ini, adalah kemampuannya membumi dan melangit sekaligus.

Menurut Budiman, sebelum menjadi marxis terkemuka, Tan Malaka ditempa oleh alam Sumatera Barat. Tak mengherankan, kendati menjadi seorang marxis, tetapi cara berpikirnya selalu memijak kepada bumi.

“Terhadap rakyat banyak dia bisa berbicara dan bertukar pikiran, bahasanya sangat merakyat. Di pertemuan internasional dia juga piawai dan diakui,” kata Budiman.

Kata Budiman, di Indonesia hanya ada tiga tokoh yang sanggup membumi dan melangit sekaligus, yakni Sukarno, Tan Malaka, dan Gus Dur. Pengetahuan, cara berkomunikasi, dan pergaulan mereka bisa berterima di kalangan massa sekaligus dengan para pemimpin dunia.

Lebih jauh, Budiman mengapresiasi lahirnya novel berjudul Tan karya Hendri Teja. Menurut dia, dengan membaca novel tersebut, orang akan mengerti bagaimana menjadi seorang manusia politik.

“Menjadi manusia politik itu tidak gampang. Ada syarat-syaratnya: punya ide atau gagasan, empati kepada rakyat, berorganisasi, punya hasrat berkuasa, dan pandai beretorika, dan pandai beretorika,” jelasnya.

Sementara Linda Christanty menyebut beberapa faktor yang membentuk Tan Malaka sebagai manusia politik. Pertama, Tan lahir di tengah dunia yang mulai menggugat penjajahan. Dimana, saat itu, kaum muda tampil kedepan sebagai penggerak.

Kedua, adanya tarik-menarik ideologi, seperti islamisme, nasionalisme, dan komunisme. Tarik-menarik ideologi ini mempengaruhi politik Tan Malaka yang menyerukan kerjasama antara kaum komunis dan Islam.

“Tan lahir bukan dari kegelapan, tetapi itu ditopag oleh situasi dunia saat itu, kondisi negerinya, dan orang-orang yang memberinya inspirasi,” jelas penulis yang memenangkan penghargaan Southeast Asian Writers Award 2013 ini.

Terkait novel Tan karya Hendri Teja, Linda berpendapat, karya sastra yang baik ditulis dari sejarah yang masih punya lubang misteri. Pada titik itulah, kata Linda, sastrawan menggali sejarah dengan imajinasi dan interpretasi.

Yang menarik, kata Linda, Tan adalah seorang yang jejak langkah hidupnya masih menyimpan banyak misteri. Sehingga menarik untuk menjadi bahan karya sastra, termasuk novel.

Sementara si penulis novel Hendra Teja membeberkan alasan mengapa ia menulis novel berjudul Tan ini. Menurut dia, novel Tan merupakan antitesa dari novel berjudul Patjar Merah Indonesia karya Matu Mona alias Hasbullah Parindurie.

Kata Hendri, novel karya Matu Mona itu menempatkan Tan sebagai manusia super-hero. Akibatnya, karena ditulis sebagai manusia super-hero, jejak politik Tan Malaka—termasuk pemikiran-pemikirannya—sulit diikuti oleh orang banyak.

“Tan itu produk zamannya. Ada proses dialektif yang membentuk dia sebagai tokoh. Dan Tan mengakuinya: terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk,” paparnya.

Hendra mengingatkan, setiap anak bangsa, dengan tempaan zaman dan keberanian bersikap, memiliki ruang untuk meneladani jejak langkah Tan Malaka dalam kesehariannya.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut