Rafael Correa Dan Ekuador Baru

Pada Jumat pagi awal oktober tahun lalu, Rafael Correa, seorang ekonom yang berhasil menjadi Presiden Ekuador, berdiri di hadapan puluhan ribu pendukungnya di depan istana kepresidenan.

Dia baru saja selamat dari sebuah kudeta, yang dirancang oleh segelintir elit militer dan kepolisian. Kudeta mendadak itu berhasil dipatahkan oleh militer pro-pemerintah dan gerakan rakyat kurang dari 24 jam.

Menatap ke atas, seolah mengumpulkan fikiran sebelum berbicara, Correa berkata: “Ini akan menjadi contoh kepada mereka yang hendak menghentikan revolusi bukan melalui kotak suara tetapi dengan senjata.”

Rafael Correa terbilang presiden pemberani. Tatkala para pemberontak berusaha menyanderanya, Ia dengan dengan memegang dada mengatakan, “jika kalian ingin membunuh Presiden, dia di sini. Bunuh saya.”

Nasionalis Kiri

Rafael Correa terpilih melalui pemilu 2006 hanya dengan satu putaran, setelah mengumpulkan suara mencapai 51%. Kemenangan mutlak ini, karena belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Ekuador, dianggap kemenangan paling bersejarah dan sekaligus mengakhiri konsolidasi neoliberal di negeri penghasil minyak itu.

Berbeda dengan Evo Morales, yang merupakan orang pertama dari gerakan sosial, Correa sendiri menyebut dirinya bukan produk gerakan sosial di negerinya. Meski begitu, Correa jelas berutang kepada gerakan sosial dan masyarakat adat. CONAINE, salah satu organisasi masyarakat adat terbesar di negeri itu, juga punya reputasi berhasil menjatuhkan tiga presiden sebelumnya, memberikan dukungan suara kepada Rafael Correa.

Partainya Correa, Alianza PAIS, adalah partai berhaluan nasionalis-kiri, yang mengaku punya visinya sejalan dengan semangat “sosialisme abad-21” yang sedang bergema di Amerika Latin dan bertekad memperbaiki kerusakan negerinya akibat eksploitasi selama 500-an tahun.

Correa sendiri menyebut dirinya nasionalis-kiri, lebih dekat lagi dengan Kristen kiri, bukan seorang sosialis ataupun marxis. Meskipun begitu, Correa berjanji akan membangun sosialisme abad-21 dan menghapus kemiskinan di negara Andean itu.

Pada saat kampanye pemilihan, Correa menjanjikan amandemen konstitusi agar lebih melibatkan masyarakat adat, menghancurkan sistim politik tradisional, dan mengusir perusahaan minyak yang sudah lama merampok negerinya.

Musuh Amerika Serikat

Meskipun Correa pernah belajar ekonomi di Amerika Serikat, tetapi ia tidak pernah menjadi patuh apalagi tunduk pada dikte negeri imperialis tersebut. Ia pernah memanggil Presiden Bush sebagai “orang tolol”.

Pada tahun 2009, ketika AS berusaha memperpanjang keberadaan pangkalan militernya di Manta air, Rafael Correa menyatakan penolakan keras. Dengan nada menyindir, Correa mengatakan, “Kami akan memperbaharui basis militer Amerika di sini, tetapi dengan satu syarat: mereka mengijinkan kami membangun basis militer di Miami (Amerika Serikat)”.

Pernyataan bernada sindirian itu membuat merah telinga pejabat di Washington. Bukan hanya itu, Correa juga mengusir paksa dua diplomat AS dari negerinya, pada tahun 2009, karena dituding terlibat mencampuri urusan internal Ekuador.

Bersama dengan Venezuela dan Bolivia, Ekuador dibawah pimpinan Correa telah mengambil jalan terpisah dengan segala hal yang berbau neoliberal dan imperialisme Amerika, dengan membangun sebuah persekutuan regional bernama ALBA–Aliansi Bolivarian untuk Amerika.

Pada masalah minyak, proposal Correa sudah sangat jelas: Ia menolak gaya nasionalisasi seperti Chavez dan Morales, tetapi menjanjikan negosiasi keras dengan perusahaan-perusahaan minyak asing agar tunduk kepada kedaulatan Ekuador.

Correa juga membuat marah lembaga-lembaga dan negara kreditur, karena ia hanya mau membayar 35% dari total utang luar negerinya. Selebihnya, sebagaimana dikatakan Correa, adalah utang illegal yang dinikmati rejim korup sebelumnya.

“Citizens’ Revolution”

Meskipun samar-samar dan kurang tegas, Correa telah menggariskan bahwa kepemimpinannya akan mengarah pada semacam “sosialisme abad 21”, tetapi seperti apa dan bagaimana itu juga kurang jelas.

Bagi Correa, sebagaimana juga banyak dianut oleh banyak kiri Amerika latin, benua ini sudah sangat kaya raya dengan ide-ide tersendiri dan orisinil, termasuk tentang sosialisme, sehingga tidak perlu mengimpor ide-ide dari luar.

Terkait pendiskusian soal sosialisme abad 21, Correa mengatakan bahwa itu hanya merupakan salah satu dari sekian banyak sosialisme, diantaranya—kata dia: sosialisme utopis; sosialisme Andean, yang tokoh utamanya adalah seorang Peruvian Juan Carlos Mariátegui dan digambarkan oleh Correa sebagai Marxist fleksibel; sosialisme Kristen, yang tokohnya adalah Monsignor Leonidas Proaño; self-management (autonomous”); sosialisme revolusi Kuba, sosialisme puitiknya Jorge Carrera dan sosialisme kritisnya Agustín Cueva.

Ia juga berusaha membedakan antara sosialisme klasik dan sosialisme abad-21, meskipun dengan penjelasan yang agak membingungkan, seperti dia mengatakan bahwa sosialisme klasik bersifat dogmatis, sedangkan sosialisme abad-21 menerima proposisi bahwa teori perjuangan klas bukan satu-satunya penjelasan terhadap fenomena sosial.

Di kesempatan yang berbeda, Correa telah menggaris-bawahi bahwa perjuangannya mengubah Ekuador lama menjadi baru akan menempuh jalan yang disebut “revolusi warga-negara/citizen revolution”. Sebagai dasar dari revolusi warga-negara ini, Correa telah berhasil meng-gol-kan proposalnya untuk menulis ulang konstitusi, yang nantinya akan menjadi dasar dari “bangsa baru”.

Seperti apa detailnya revolusi warga-negara ini dan seperti apa ia akan berjalan, Correa berusaha menjelaskan inti-sari-nya sebagai berikut:

Pertama, adalah sebuah revolusi politik untuk mengubah demokrasi formal, yang telah mengesampingkan rakyat dalam proses demokrasi diantara pemilu, menjadi sebuah demokrasi partisipatif.

Kedua, sebuah revolusi ekonomi, yaitu proses penghancuran model ekonomi lama (neoliberal dan profit-isme), yang telah menimbulkan eksploitasi dan kemiskinan massif, lalu menggantikannya dengan model ekonomi baru yang memproritaskan pemenuhan sosial di atas profit.

Ketiga, sebuah revoluti “ethis” melawan korupsi, birokrasi dan perusahaan yang menolak membayar pajak.

Keempat, revolusi sosial untuk mengembalikan kontrol publik terhadap akses pendidikan, pelayanan kesehatan dan perumahan; meningkatkan belanja negara untuk sektor sosial, kebudayaan, dan lingkungan; dan memprioritaskan kesehatan lingkungan dan keragaman budaya.

Kelima, revolusi kedaulatan, yang akan memperdalam integrasi amerika latin melawan imperialisme Amerika Serikat.
Pendek kata, menurut Correa, sosialisme yang akan dicapai oleh Ekuador haruslah partisipatif, demokratis, dan tanpa dogma.

Tantangan

Meskipun awalnya Correa mendapat dukungan luas dari gerakan sosial dan gerakan masyarakat adat, tetapi sejumlah perkembangan politik dan kebijakannya telah memicu “perceraian” dan konfrontasi terbuka.

CONAINE, misalnya, sudah menyatakan oposisi terhadap pemerintahan Correa. Organisasi yang menghimpun 40% kaum pribumi dan sukses menjatuhkan tiga presiden ini menganggap Correa telah melanggar hak-hak kebangsaan kaum pribumi.

Bagi sebagian besar gerakan pribumi, keputusan Correa untuk melanjutkan eksplorasi gas dan sumber tambang lainnya telah mengancam kehidupan mereka. Masyarakat pribumi pun melancarkan perlawanan terhadap UU Hidrokarbon yang baru.

Gerakan pribumi juga sangat kecewa dengan sikap Rafael Correa yang menolak proposal mereka mengenai negara plurinational. “Plurinationality menghargai keragaman nasionalitas yang sangat beragam di dalam satu negara,” kata Marlon Santi, Presiden dari CONAINE.

Perlawanan terhadap Correa juga dilakukan oleh aktivis ekologi dan NGO, yang sebagian besar keberatan dengan perluasan eksploitasi tambang di bawah pemerintahan Correa.

Kontradiksi-kontradiksi ini mulai mengambil bentuk terbuka, dan tentu saja akan melemahkan proses positif yang sedang terjadi di sana. Adalah bahaya besar jika Correa sampai kehilangan dukungan masyarakat pribumi, sektor sosial yang telah memainkan peranan penting dalam perjuangan anti-neoliberal di negeri itu selama puluhan tahun.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut