Proses Pembentukan Bahasa Nasional Indonesia (2)

Memperoleh peranan politik

Politik imperialisme ortodoks yang dijalankan oleh bangsa-bangsa Spanyol dan Portugis, serta kemudian diteruskan dengan politik imperialisme semi-ortodoks, dan di abad ke-19 dengan “politik etis” Belanda atas Indonesia,[9] tidak saja berpengaruh langsung terhadap kehidupan bangsa Indonesia secara materiil, akan tetapi juga secara spiritual. Runtuhnya satu demi satu pusat-pusat kerajaan dan bandar-bandar di Indonesia, seperti juga pusat-pusat kebudayaan feodal dan pusat-pusat pertukaran barang-barang antarpulau dan antarnegara, satu demi satu jatuh ke tangan pedagang-pedagang Barat. Tetapi yang perlu diperhatikan, bahwa yang demikian itu bukanlah suatu pertanda adanya keruntuhan bangsa. Proses pembentukan suatu bangsa secara konsepsional politik dan kultural bahkan sedang pada awal penjadiannya.

Baik Gubernur Jenderal Hogendorp maupun Raffles dengan kata-kata yang terang menyatakan antara lain sebagai berikut:

“We, the Batavians,” says Mr. Hogendorp, “or rather our good and heroic ancestors, conquered these countries by force or arms. The Javans, who are immediately under our jurisdiction, acknowledge the Batavian nation or the East Indian Company as their lord and sovereign; but by so doing, although they resigned their political rights, they still retain their civil and personal liberty, at least their right thereto.”[10]

Di bagian lain berkata pula Raffles:

“Their greatest resistance appears to have been made against European influence. They maintain with pride, that although virtually conquered, they still, as a nation and as individuals, pertinaciously adhere to their ancient institutions, and leave a national feeling, very different from that which is usually to be found among a conquered people.”[11]

Di samping beberapa bandar yang sudah dirampas oleh orang-orang Eropa , Raffles dalam pada itu mengakui, bahwa:

“the interior is possessed by the natives, collected under leaders who have taken advantage of the great extent of the country, in proportion to its population, to render themselves independent of the lawful sovereign; that the coast is occupied in many places, either by pirates, by some of the ruder tribes whom it is dangerous to invade, or by adventurous traders, chiefly ‘Malayas’ and ‘Bugis’”.[12]

Sehubungan dengan masalah tersebut di atas, harus juga dikemukakan adanya dua faktor penting lain lagi. Pertama, bahwa invasi bangsa-bangsa Eropa ke Nusantara itu terjadi dalam satu periode yang sama dengan penetrasi Islam dan Kristen; dan, kedua, bahwa dalam usaha untuk menguasai pasar Nusantara bangsa-bangsa Eropa juga menggunakan bangsa-bangsa Tionghoa dan Arab sebagai alat.[13]

Dengan demikian bahasa Melayu yang sudah tumbuh sebagai lingua-franca bagi seluruh nasion itu pun bukannya menjadi terdesak kedudukannya, tetapi malahan sebaliknyalah, justru telah diperkokoh dan dikembangkan peranannya. Lingua-franca itu, disamping tetap hidup sebagai “bahasa dagang” atau “bahasa pasar”, juga mulai semakin intensif dipergunakan di tengah-tengah kehidupan masyarakat luas. Bahasa tersebut mulailah tidak sekedar mendukung peranan ekonomis saja, tetapi juga peranan sosio-kultural dan bahkan peranan politik sekaligus.

Tentang hal ini bisa dibuktikan dengan betapa luas dan banyak ragamnya peristilahan dalam bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa-bahasa asing. Dari kata-kata “sahaja”, “niaga” dan “kerja” sampai ke kata-kata “pujangga”, “negara” dan “dewa-dewi” – Hindu. Dari “menara”, “filsafat” dan “kimia” sampai pada “masyarakat”, “kuat”, dan “kitab” – Arab. Dari “cukai” dan “kedai” – Tamil – sampai ke “kertas” dan “bebas” – Parsi. Dari “teh”, “kongsi” dan “kuli” sampai kepada “”taoco”, “sampan” dan “taoge” – Tionghoa. Dari “sekoci” dan “duit” sampai ke “Kakus” – Belanda.

Sedangkan dari bahasa Portugis bahasa Melayu bukan saja memperoleh kata-kata yang banyak diucapkan di tengah-tengah pasar, tetapi juga kata-kata yang hidup di luar pasar. Misalnya kata-kata “mahardika”, “bendera”, “serdadu”, “lentera”, “jendela” dan lain sebagainya.

“Sejarah pemerintah kolonial Belanda – dan Belanda adalah bapak bangsa kapitalis di dalam abad ke-17”, demikian Karl Marx, yang selanjutnya mengutip kata-kata Raffles sebagai berikut: “… is one of the most extraordinary relations of treachery, bribery, massacre and meanness.”[14] Sistem kolonialisme ortodoks bangsa-bangsa Spanyol dan Portugis, yang diteruskan dengan sistem semi-ortodoks kaum kolonialis Belanda, bukan hanya sudah menebangi batang-batang pohon pala yang tumbuh di atas tanah dan air Indonesia, tetapi mereka itu pun menebasi batang leher para patriot yang tegak berdiri di atas tanahairnya. “Di mana pun mereka menginjakkan kaki”, kata Karl Marx, “pembasmian dan pembinasaan penduduk mengikut serta mereka. Di Banyuwangi, suatu daerah di Jawa, pada tahun 1750 berpenduduk lebih dari 80.000 jiwa. Tetapi dalam tahun 1811 tinggal 18.000 orang belaka. Perdagangan yang manis nian!”[15]

Sementara menjalankan politik pemusnahan sukubangsa-sukubangsa berikut dengan kebudayaan mereka, kaum kolonialis juga dengan amat ketat memonopoli perdagangan hasil bumi dari Timur ke Barat, sebaliknya dengan amat ketat pula memonopoli hasil perkembangan kultur dan peradaban Barat yang mengalir ke Timur.[16]

Terlampau mahal harga ilmupengetahuan dunia Barat sebagai produk perkembangan sejarah, dari masyarakat lama ke masyarakat baru untuk diajarkan kepada rakyat jajahan. Karena itu bukanlah merupakan tuduhan yang dilontarkan oleh seorang patriot, tetapi adalah pengakuan terang-benderang dari seorang Gubernur Jenderal pemerintah jajahan di Indonesia, yang mengatakan bahwa:

“In many of these islands the nations having no written character of their own, have been instructed in the Roman character, and taught to read Malayan and other dialects in it.”[17]

Dengan cara demikian itulah bahasa pasar bahasa Melayu telah mendapatkan syarat positif yang lain pula bagi pembentukan hari depannya. Bahasa itu telah didorong untuk melakukan kontak sosial yang lebih luas lagi, baik ditinjau dari sudut perluasan daerah pendukungnya maupun apabila ditinjau dari sudut peranannya yang harus didukung olehnya.

Ada faktor lain pula, yaitu faktor yang berhubungan dengan keadaan geografis Indonesia sendiri yang terdiri atas ribuan pulau-pulau besar dan kecil itu. Keadaan alam yang penuh dengan hutan belantara, gunung-gunung dan sungai-sungai besar, merupakan paksaan alami bagi penghuninya untuk hidup dalam kelompok-kelompok yang saling terpisah-pisah antara yang satu dengan yang lain. Keadaan seperti tersebut di atas merupakan dasar materiil bagi timbulnya variasi-variasi dalam bahasa. Timbulnya kebhinekaan dalam adat dan dalam kultur pada umumnya.

Berjalin dengan faktor luar yang ditimbulkan oleh politik kolonial Belanda dalam pembangunan prasarana, ekonomi, pendidikan yang semata-mata diabdikan demi perluasan pasar kapital serta intensifikasi eksploitasi kolonialnya, maka terjadilah proses peleburan atau integrasi di satu pihak, sebaliknya juga terjadi proses pemisah-misahan atau disintegrasi pada pihak lain.

Kedua-dua proses ini berjalan, baik secara “sukarela” maupun secara paksa. Maka melatar-belakangi proses kejadian tersebut timbullah pula berbagai masalah historis, ekonomis dan sosiologis. Di antaranya ialah penciptaan watak politik yang istimewa dan jelas bagi bahasa Melayu, yang merupakan lingua-franca sukubangsa-sukubangsa yang tinggal di Nusantara itu. Dalam arti kata sesungguhnya, di atas telah dinyatakan bahwa lingua-franca itu sudah dipaksa oleh kolonialisme untuk melakukan kontak sosial seluas-luasnya dan sejauh-jauhnya. Secara kias benar jugalah, bahwa kontak sosial yang harus dimainkan oleh lingua-franca tersebut kiranya akan “sejauh dan seluas blorong kolonialisme menancapkan kuku-kuku penindasannya, serta gerigi-gerigi pengisapannya.”

Jalan-jalan baru ke arah kekuasaan telah dibuka. Kedok-kedok baru pun telah mereka pakai di wajah sendiri. Namun, seperti kearifan pepatah Perancis mengatakan: “plus ça change, plus c’est la même chose”.

Perjuangan melawan kolonialisme Belanda terus-menerus berkobar di Indonesia, baik perjuangan bersenjata, politik, ekonomi maupun perjuangan yang bersifat kultural. Babak-babak sejarah Indonesia penuh dengan kisah-kisah pemberontakan rakyat dari berbagai sukubangsa dan penjuru Nusantara. Dapat dikatakan tidak ada satu sukubangsa pun di Indonesia yang tidak pernah melakukan pemberontakan melawan kolonialisme. Keadaan ini merupakan syarat yang mempercepat dan memperkuat hasrat bersatu dari sukubangsa-sukubangsa di Indonesia.

Dengan demikian sejarah rakyat Indonesia telah melahirkan syarat-syaratnya sendiri yang positif untuk perjuangan penyatuan ekonomi dan penyatuan politik, penyatuan wilayah dan penyatuan kebangsaan. Dan dalam hubungan dengan penyatuan wilayah dan kebangsaan itu terkandung di dalamnya penyatuan jiwa serta penyatuan bahasa pada khususnya. (Bersambung)

*) Hersri Setiawan adalah seorang penulis dan sastrawan Indonesia. Pernah menjadi Ketua LEKRA Cabang Jawa Tengah dan anggota Front Nasional. Beberapa karyanya yang terkenal adalah “Memoar Pulau Buru (2004)” dan “Negara Madiun? Kesaksian Soemarsono Pelaku Perjuangan (2003)”.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut