Petani dan Pedagang Asongan Tolak RPP Tembakau

Sedikitnya lima ratusan orang petani tembakau, pedagang asongan, dan aktivis komunitas kretek menggelar aksi massa saat Kementerian Kesehatan melakukan sosialisasi Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tembakau kepada sejumlah kelompok masyarakat dan individu.

Sebuah replika kretek dalam ukuran besar diarak massa aksi. Selain itu, mereka membawa sejumlah spanduk dan poster, yang berisi kecaman terhadap keputusan Menkes untuk memberlakukan RPP tembakau.

Selain itu, massa ini juga menggelar aksi teatrikal berupa tarian mengenakan topeng dasamuka dan topi berbendera amerika. “Dasamuka ini adalah perlambang keserakahan. Mereka mau menguasai pasar di dalam negeri dengan cara menghancurkan industri kretek nasional,” ujar seorang penari pasca menggelar tetrikal.

Digambarkan dalam tetrikal itu tentang Dasamuka yang menginjak-injak petani tembakau, pedagangan asongan, buruh pabrik kretek, dan golongan rakyat lainnya yang dirugikan oleh kehancuran industri kretek.

RPP Tembakau Agenda Asing

Koordinator aksi ini, Zulvan Kurniawan, menjelaskan bahwa RPP tembakau membawa kepentingan korporasi besar asing, khususnya perusahaan farmasi dan perusahaan rokok asing.

“Pada satu sisi, perusahaan farmasi asing menggunakan isu kesehatan untuk keperluan perluasan pasarnya di dalam negeri, sedangkan pada sisi yang lain, perusahaan rokok asing akan mempergunakan kehancuran kretek nasional untuk ekspansi,” ujarnya.

Ia menyesalkan sikap Menkes yang begitu saja termakan isu-isu kesehatan yang dihembuskan oleh negeri-negeri imperialis, tapi mengabaikan riset-riset ilmiah dan bertanggung jawab yang dilakukan oleh anak bangsa.

Dengan pemberlakuan RPP tembakau ini, yang mengadopsi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC), Menkes dituding telah dengan sengaja membiarkan industri kretek nasonal mengalami kehancuran.

“Kalau industri kretek nasional hancur, maka bukan saja para buruh pabrik kretek yang ter-PHK, tapi juga petani tembakau, pedagang asongan, dan pendapatan negara melalui cukai rokok akan berkurang,” tegas seorang orator dari atas mobil komando.

Padahal, menurut sang orator, Indonesia belum meratifikasi FCTC tersebut. “Ini ada upaya Menkes untuk menyelundupkan agenda asing dalam regulasi. Ini sama saja dengan praktek subversi ekonomi,” ujarnya dengan suara lantang.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut