Persahabatan Bung Karno dan Ho Chi Minh

Dari semua negara Asia Tenggara, Vietnam-lah yang paling dekat secara politik. Terutama di kurun waktu 1940-an hingga 1960-an. Kedua negara progressif ini berada di front yang sama menentang kolonialisme dan imperialisme.

Saat itu Indonesia dan Vietnam sama-sama baru merdeka. Namun, seperti juga negara bebas jajahan lainnya, kedua negara ini terus dikepung oleh agresi neokolonialis. Kesamaan nasib itulah yang membuat Indonesia-Vietnam sebagai “negara sekawan” dalam perjuangan.

Hal yang menarik lainnya, kemerdekaan Indonesia dan Vietnam sama-sama diproklamirkan di bulan Agustus 1945: Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945, sedangkan Vietnam memproklamirkan kemerdekaan tanggal 29 Agustus 1945. Makanya Indonesia dan Vietnam sama-sama menyebut revolusi kemerdekaannya dengan sebutan “Revolusi Agustus 1945”.

Bung Karno sangat berkawan dekat pemimpin pembebasan Vietnam, Ho Chi Minh. Dia memanggilnya “Pak Ho”. Tetapi orang banyak memanggilnya “Paman Ho”. Keduanya pernah saling mengunjungi dan berbagai gagasan.

Februari 1959, Ho Chi Minh mengunjungi Indonesia. Kedatangannya mendapat penyambutan besar-besaran. Begitu turun dari pesawat, paman Ho langsung disambut Bung Karno. Lalu, Ho Chi Minh melambaikan tangan kepada ribuan orang yang menyambutnya di bandara Kemayoran. Ho Chi Minh dan Bung Karno kemudian menaiki mobil bak terbuka untuk menyaksikan penyambutan rakyat Jakarta yang luar biasa besar.

Selama di Indonesia, selain kunjungan resmi kenegaraan, Paman Ho menghadiri sejumlah kegiatan di Indonesia. Pada tanggal 23 Februari 1959, misalnya, ia menyampaikan pidato di hadapan anggota parlemen Indonesia. Mengawali pidatonya, Ho Chi Minh menyinggung adanya pertalian antara bangsa Indonesia dan Vietnam dalam perjuangan melawan kolonialisme.

Menurut Ho Chi Minh, rakyat Indonesia berjuang mati-matian untuk merebut kembali kemerdekaannya. Akhirnya, kata dia, pada Agustus 1945, seluruh rakyat Indonesia bangkit untuk melemparkan belenggu kolonial, mendirikan Republik Indonesia dan, dengan demikian, menjadi penentu nasibnya sendiri. Sayang sekali, kata Ho Chi Minh, kaum kolonialis kembali berusaha menduduki Indonesia.

Nasib hampir serupa juga dialami Vietnam. Setelah melalui perjuangan panjang, rakyat Vietnam berhasil meraih kemerdekaan pada Agustus 1945. Setelah itu, Vietnam segera menyelenggarakan pemilu untuk memilih parlemen. Sayang, kaum kolonialis juga tak merestui kemerdekaan Vietnam dan mulai menyerangnya denga tiga propaganda: membunuh semua, membakar semuanya, dan menghancurkan semuanya.

Dalam pidatonya, Ho Chi Minh menyatakan dukungan rakyat Vietnam atas perjuangan rakyat Indonesia mengembalikan Irian Barat kembali ke pangkuan Republik Indonesia. “Rakyat Vietnam yakin, kekuatan persatuan dari seluruh patriot-patriot Indonesia akan berhasil menundukkan kaum kolonialis dan Irian Barat pasti akan terebut kembali,” kata Ho Chi Minh.

Sebaliknya, Bung Karno atas nama Bangsa Indonesia menyatakan dukungannya atas penyatuan Vietnam Utara dan Vietnam Selatan. Indonesia juga menyokong perjuangan rakyat Vietnam melawan imperialis barat (Perancis dan Amerika Serikat).

Selain menyampaikan pidato di parlemen, Ho Chi Minh sempat mengunjungi beberapa tempat bersejarah: gedung Konferensi Asia-Afrika, Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Prambanan, beberapa tempat wisata di Bali, dan Kebun Raya Bogor.

Bung Karno juga mengajak Ho Chi Minh menghadiri peresmian Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), di Bandung, Jawa Barat. Itu terjadi pada tanggal 2 Maret 1959. Saat itu, Bung Karno menyampaikan pidato tanpa teks di hadapan civitas akademika ITB. Seusai peresmian, Bung Karno mengajak Ho Chi Minh melihat-lihat kampus ITB.

Bung Karno sendiri mengunjungi Vietnam tak lama setelah kunjungan Ho Chi Minh ke Indonesia. Tepatnya tanggal 24-29 Juni 1959. Ada kisah menarik saat Bung Karno bertemu dengan Ho Chi Minh di Hanoi saat itu. Seperti diceritakan Bung Karno, saat itu ada delegasi dari golongan minoritas hendak bertatap muka dengan Bung Karno.

Ho Chi Minh kemudian menyampaikannya kepada Bung Karno, “Bung Karno, ini adalah delegasi dari minoritas, ingin bertemu muka dengan Bung Karno.” Dengan lantang Bung Karno menjawab, “sebetulnya di Indonesia kita tidak mengenal minoritas.”

Kepada Ho Chi Minh, Bung Karno menjelaskan, Indonesia tidak mengenal konsep minoritas. Yang ada hanya suku-suku. Dan, kata Bung Karno, tak satupun suku itu yang boleh disebut minoritas. Bahkan, Bung Karno menegaskan, peranakan Tionghoa pun bukanlah minoritas. “Engkau adalah bangsa Indonesia, kita semuanya adalah bangsa
lndonesia,” kata Bung Karno.

Bagi Bung Karno, ketika ada istilah minoritas, maka pasti ada mayoritas. Dengan sendirinya, pasti terjadi eksploitasi dari pihak mayoritas terhadap kalangan  minoritas. Dan sebaliknya, karena dieksploitasi, pasti ada kebencian minoritas terhadap mayoritas.

Mendengar jawaban Bung Karno, Ho Chi Minh hanya berkata: “Ya, that is better.“

Tetapi, Bung Karno juga banyak belajar dari Ho Chi Minh dan perjuangan rakyat Vietnam. Seperti, ketika memberikan amanat di peresmian Lembaga Pertahanan Nasional di Istana Negara, Jakarta, 20 Mei 1960, Bung Karno banyak mengutip Ho Chi Minh.

Bung Karno sangat terpukau dengan strategi pertahanan nasional Vietnam. Bagi Ho Chi Minh, seperti dipaparkan Bung Karno, pertahanan terbaik itu adalah pertahanan yang mempergunakan pengetahuan dan pengalaman-pengalaman dari perjuangan rakyat bangsa itu sendiri.

Ho Chi Minh meninggal tanggal 2 September 1969. Setahun kemudian, tepatnya 21 Juni 1970, Bung Karno menyusul Ho Chi Minh ke Surga.

Demikianlah, sedikit jejak persabatan Bung Karno dan Ho Chi Minh. Juga bangsa Indonesia dan Vietnam. Jadi, kalau Indonesia bertemu dengan Vietnam di lapangan hijau, anggaplah itu “laga persahabatan”.

Rudi Hartono

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut