Fidel Castro dan Isu Lingkungan

Mandatory Credit: Photo by IBL/REX/Shutterstock (68401a)Fidel CastroFidel Castro - 1978

Selama memimpin Kuba hampir setengah abad, Fidel membuat banyak kemajuan. Ada dua prestasi Kuba yang paling diakui dunia, yakni pendidikan dan kesehatan.

Namun, sebetulnya ada banyak prestasi Kuba yang lain, tetapi kurang tersorot. Salah satunya adalah soal pembangunan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Negara kecil di Kepulauan Karibia ini punya perhatian besar pada isu lingkungan.

Jauh sebelum isu perubahan iklim menjadi keresahan global, terutama di ranah para pemimpin politik, Fidel Castro sudah berbicara tentang perlunya perubahan radikal dalam cara manusia berinteraksi dengan lingkungan.

“Besok sudah terlalu terlambat untuk mengerjakan sesuatu yang mestinya sudah kita kerjakan sejak lampau,” kata Fidel dalam pidato berapi-api di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi di Rio de Jeneiro, Brazil, pada tahun 1992.

Fidel sudah bicara tentang pembangunan berkelanjutan jauh sekali sebelum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerukannya sebagai tujuan global.

“Mari kita menerapkan sistim ekonomi yang adil. Mari kita menggunakan teknologi yang bebas polusi, pembangunan berkelanjutan. Mari kita membayar utang ekologi, tetapi tidak untuk utang luar negeri. Mari kita menghilangkan kelaparan, bukan kemanusiaan,” katanya.

Fidel mendakwa sistim kapitalisme, yang menjadikan akumulasi keuntungan sebagai nabinya, menjadi menyumbang terbesar kerusakan lingkungan. Kapitalisme telah memungkinkan eksploitasi sumber daya dan konsumsi barang-barang tanpa kendali.

Tetapi Fidel tidak hanya beretorika, dia juga mempraktekkannya. Setidaknya, tiga hal berikut merupakan bukti kuat komitmen Fidel dan Kuba terhadap lingkungan.

Pertama, reforestasi atau penghijauan kembali

Sejak 1998, Kuba menggencarkan program reforestasi atau penghijauan kembali hutan yang gundul. Alhasil, Kuba berhasil mengembalikan 30,6 persen hutan di negara kepulauan itu.

Provinsi Pinar del Rio mencatat tingkat reforestasi tertinggi dengan 47 persen, disusul Guantanamo 46,7 persen, Matanzas 39,1 persen, Holguin 38,3 persen, Santiago de Cuba 33 persen, dan Granma 26,7 persen.

Sebelum kolonialisme Spanyol, hampir 90 persen daratan Kuba tertutupi hutan. Namun, ketika Fidel menenangkan revolusi di tahun 1959, daratan Kuba yang tertutupi hutan tinggal 14 persen.

Program deforestasi Kuba dimaksudkan untuk mengurangi polusi dan memperbaiki kualitas udara. Dan yang terpenting, membuat tempat yang nyaman bagi manusia, binatang dan keanekaragaman hayati.

Kedua, teknologi tenaga surya

Cahaya surya di Kuba sangat melimpah. Fidel dan pemerintah Kuba tidak mau menyia-yiakannya. Karena itu, sejak beberapa tahun terakhir Kuba telah mendorong pengembangan teknologi berbasis tenaga surya.

Pemanfaatan energi terbarukan di Kuba memang masih sangat kecil, yakni 4 persen di tahun 2012. Namun, mereka berambisi menjadikannya 30 persen di tahun 2030. Selain untuk mengurangi polusi dan ketergantungan terhadap energi fosil, program ini juga bertujuan untuk menghemat anggaran.

Kuba juga sudah membangun Taman Surya Pinar 220 A1 di dekat Provinsi Pinar del Rio. Taman ini menggunakan 12.080 panel surya untuk menghasilkan 13 megawatt per hari untuk jaringan listrik nasional.

Pembangkit listrik tenaga surya juga akan dibangun di 28 wilayah di provinsi Pinar del Rio dan diperkirakan akan menghasilkan 105,9 megawatt. Taman Surya juga sementara dibangun di Tronsco dan akan menghasilkan 2,7 megawatt.

Sekarang ini, sekitar 70 persen kebutuhan energi listrik di Pinar del Rio dipenuhi oleh energi surya.

Ketiga, pertanian berkelanjutan

Bagaimana memperjuangkan terwujudnya kedaulatan pangan tanpa harus merusak lingkungan? Belajarlah pada negara komunis Kuba.

Dulu Kuba sangat bergantung pada impor pangan. Ketika Kuba mengalami embargo ekonomi, ditambah lagi runtuhnya Uni Soviet, Kuba sangat terpukul. Terutama sektor pertaniannya yang sangat bergantung pada teknologi dari Soviet.

Kuba nyaris diambang kelaparan. Tetapi rakyat yang terlatih oleh revolusi tidak gampang menyerah. Kuba kemudian beralih pada pertanian organik dan pertanian kota yang disebut “organoponicos”.

Salah satu sumbangsih Fidel untuk pertanian Kuba adalah agro-ekologi, yang mana prinsip-prinsip ekologi diterapkan dalam pertanian, agar berkelanjutan dan tidak bergantung pada bahan kimia. Model ini berhasil mengurangi ketergantungan Kuba terhadap impor. Dan yang lebih penting lagi, Kuba bisa memangkas jejak karbon atau carbon footprint. Sekarang ini, seperempat petani Kuba berhasil memasok 65 persen dari total produksi pangan negeri ini dengan menggunakan model agro-ekologi.

“Para ilmuwan bertanggung-jawab langsung kepada petani, dimana petani diperlakukan bukan sebagai orang bodoh, melainkan sebagai mitra untuk melakukan eksperimen dan inovasi,” kata Raj Patel, seorang pakar ketahanan pangan, kepada teleSUR.

Hampir semua pertanian Kuba saat ini adalah organik. Sedangkan model pertanian kota Kuba telah berhasil memasuk 70 persen kebutuhan sayuran masyarakat perkotaan, seperti di kota Havana. Pertanian kota ini jelas sangat ekologis dan efisien. Disamping bisa mengurangi polusi udara, pertanian kota juga memangkas biaya dan penggunaan energi fosil untuk transportasi/distribusi.

(Raymond Samuel. Sumber: teleSUR)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut