Korban Abrasi Cimanuk Merasa Diabaikan Pemerintah

Meskipun abrasi sudah mulai terjadi sejak akhir 2009 lalu, tetapi pemerintah Kabupaten Majalengka tetap saja lamban untuk turun tangan menyelematkan warga Klewih, Desa Jatitujuh, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka.

Lalu, sejak februari 2010 lalu, abrasi mulai menghantam puluhan rumah dan merobohkan beton tanggul penghalang di pemukiman warga. Puluhan rumah warga rusak, juga mushollah, dan puluhan rumah warga lainnya juga terancam abrasi.

Meskipun pelaporan sudah dibuat ke camat hingga Bupati, warga mengaku belum pernah mendapat bantuan real dari pemerintah Majalengka. Kenyataan ini membuat Rizal Abdulhadi, musisi balada dari Jaker, bersama teman-temannya dari ARSELO, Sanggar Hujan Keruh, dan Majalengka Center menggelar aksi protes.

Mereka menggelar aksi longmarch sejauh 30 kilometer, disertai aksi teatrikal di sepanjang jalan, sebagai bentuk kemarahan warga Klewih terhadap sikap pengabaian pemerintah. Dalam aksi teatrikalnya, aktivis Forum Peduli Abrasi Cimanuk membawa miniatur rumah-rumah kecil yang dibuat dari kardus.

Menurut Rizal Abdulhadi, sebagaimana ditulis dalam statemennya, sedikitnya 12 rumah warga hilang ditelan abrasi, sedang puluhan rumah warga lainnya sudah hampir ambruk.

“Warga di sini sangat membutuhkan bantuan. Selama ini, kami hanya bergotong-royong untuk mengurangi beban warga,” katanya.

Di pendopo pemerintah Kabupaten Majalengka, pihak pejabat setempat hanya menerima massa dan menjanjikan akan menyampaikan persoalan ini kepada Bupati.

Dinginnya respon pemerintah ini membuat Rizal dan kawan-kawan berencana akan menggelar aksi yang lebih besar. “Kami akan mengorganisir sebuah aksi yang lebih besar, supaya bupati yang tuli itu bisa mendengar suara protes kami,” katanya.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut