Menjelang Serangan Darat NATO, Khadafi Mulai Bagikan Senjata Kepada Rakyat

SETELAH sebulan lebih NATO menggempur Libya dengan serangan udara, kini lembaga pertahanan Atlantik Utara itu sedang mempersiapkan serangan darat ke Libya.

Untuk menyambut datangnya serangan darat NATO, pemerintahan Khadafi sudah mulai mendistribusi senjata kepada rakyat dan mempersenjatai seluruh rakyatnya yang setiap kepada revolusi dan pemerintah.

Menurut salah seorang jubir pemerintah, Moussa Ibrahim, di berbagai kota telah dibentuk skuadron untuk menghadang kemungkinan serangan darat oleh pasukan NATO, setelah sebulan lebih melakukan serangan darat secara terbatas.

“Jika pasukan NATO datang ke Misratah atau kota lainnya di Libya, kami akan menciptakan neraka buat mereka. Kami akan seperti bola api, sepuluh kali lebih buruk dibanding apa yang terjadi di Irak,” kata Moussa kepada wartawan, yang menegaskan bahwa idenya adalah menghancurkan seluruh serangan pasukan asing.

Ia mengatakan bahwa pihaknya telah mempersenjatai penduduk dengan senapan dan senjata ringan, tapi bukan bukan untuk melawan pemberontak, melainkan melawan militer NATO.

Sebelumnya, Inggris telah memberitahu telah mengirim 10 pelatih militer ke Benghazi, benteng pertahanan utama kaum pemberontak di Libya timur, sedang Perancis dan Italia mengikuti dan mengumumkan bahwa mereka akan membantu mengorganisasikan pemberontak dan penggunaan sistim telekomunikasi.

Setelah berminggu-minggu kebuntuan perang, yang berpusat di Ajdabiya dan brega, di bagian timur negeri itu, dan di Mosratah, di bagian barat, pemerintahan Khadafi mendeklarasikan dirinya mendukung solusi politik dan mengakhiri serangan NATO.

Menteri luar Libya Abdelati Al-Obeidi mengatakan, jika agresi bisa segera diakhir, pemilu akan digelar dalam enam bulan mendatang dan nasib Khadafi akan ditentukan kemudian. Sedang putra presiden Khadafi menyatakan bahwa sebuah konstitusi baru telah disiapkan pasca perang.

Akan tetapi, Ibrahim mengatakan bahwa pasukan pemerintah telah mengontrol 80% wilayah Misratah, dimana pertempuran paling sengit terjadi dalam beberapa hari terakhir, dan mengatakan bahwa di sini tidak ada “perimbangan kekuatan” karena seluruh suku memihak Khadafi.

Selain itu, menurut Ibrahim, pasukan pemberontak menguasai pelabuhan dan daerah sekitarnya. Sedang sumber lain menyebutkan bahwa Misratah, kota ketiga terbesar di Libya, telah membara di bawah api, dengan 50-60 terluka setiap hari, sebagian besar adalah sipil.

Merespon angka-angka ini, pihak berwenang Libya menyesalkan kejadian tewasnya dua wartawan asing dan bersumpah akan menyelidiki penyebabnya, meskipun disadari bahwa ini adalah situasi perang dan rakyat kedua belah pihak banyak yang tewas.

Pasukan pendukung Khadafi melaporkan bahwa NATO telah mengebom ara militer dan sipil di Tripoli, yang menurut laporan TV negara-JANA-menyatakan bahwa 11 orang tewas dan 18 orang lainnya akibat serangan bom di dua kota selatan Tripoli.

Sementara NATO menyangkal jatuhnya korban jiwa dan mengakui telah menyerang sebuah bungker di wilayah Jelat Al Ferjan.

Ibrahim juga membantah kabar bahwa sejumlah pejabat dan anggota militer, termasuk seorang jenderal, telah desersi dari kesatuan militer setelah pemberontak mengambil alih sebuah kota yang berbatasan dengan Tunisia.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut