Polisi Mesir Bubarkan Protes Anti Junta Militer Di Lapangan Tahrir

Perjuangan rakyat Mesir kembali mencapai titik didihnya. Setelah berusaha kembali ke lapangan Tahrir, Jumat (18/11), junta militer telah mengirimkan ribuan pasukan militer untuk menumpas demonstran.

Bentrokan sudah berlangsung dalam dua hari ini. Laporan Russian Today memperkirakan 5 orang tewas dalam dua hari serangan polisi. Sementara 1000-an orang, termasuk 44 orang anggota militer, diperkirakan terluka.

Dalam dua hari ini, ribuan tentara dan polisi berusaha mengusir demonstran keluar dari lapangan Tahrir. Mereka merobohkan tenda-tenda pengunjukrasa dan menghancurkan sejumlah spanduk aksi.

Sementara itu, laporan lain menyebut bahwa pertempuran jalanan masih berlangsung terus di Kairo hingga malam hari. Tentara, dengan didukung kendaraan lapis baja, berusaha memukul mundur demonstran.

Sebuah gambar memperlihatkan Lapangan Tahrir telah dipenuhi oleh puing-puing sisa pembakaran. Menteri Kebudayaan Mesir, Emad Abu-Ghazi, menyatakan penguduran diri sebagai protes atas pengerahan kekuatan yang berlebih oleh militer.

Seruan melalui jejaring sosial mengajak rakyat Mesir untuk turun ke jalan. Beberapa kelompok, termasuk mahasiswa dari Universitas Kairo, menggabungkan diri dengan gerakan protes di jalanan.

Bentrokan serupa juga menyebar di sejumlah kota besar Mesir lainnya, seperti Suez dan Alexandria. Menurut laporan Associated Press, ratusan demonstran melempari kantor keamanan di kota Alexandria.

Sementara di Suez, ribuan demonstran berbaris di depan kantor Polisi setempat untuk menunjukkan dukungan kepada demonstran di Kairo. Demonstran juga menghancurkan spanduk seorang anggota partai Mubarak, yang akan maju sebagai kandidat dalam pemilu mendatang.

Situasi ini terus menyebar ke daerah delta sungai Nil dan Mesir selatan.

Situasi ini telah menyebarkan kekhawatiran akan pelaksanaan pemilu pada 28 November mendatang. Sejumlah partai politik dan kandidat menyatakan menunda kampanye mereka setelah bentrokan berdarah dalam dua hari ini.

Rakyat Mesir telah kembali ke lapangan Revolusi: Lapangan Tahrir. Mereka menuntut agar junta militer segera mengembalikan kekuasaan ke tangan sipil. Tetapi, junta militer terus mengabaikan tuntutan itu.

Militer, yang mengambil-alih kekuasaan dari Mubarak, telah berulang kali berjanji akan menyerakan kekuasaan kepada pemerintahan terpilih.

Bahkan tersiar dokumen yang menunjukkan bahwa militer punya kehendak untuk berkuasa lebih lama, bahkan meskipun pemilu sudah diselenggarakan. Rakyat Mesir tidak mau negerinya jatuh dalam genggaman kekuasaan militer.

“Kami bergabung dengan protes karena tak satupun tujuan revolusi yang tercapai dan slogan revolusi, seperti kebebasan, kemanusiaan dan martabat, tidak pernah terpenuhi,” ujar seorang demonstran.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut