Bangkitkan Percaya Diri Melalui Olahraga

Piala Dunia tahun 2010 tentu punya kebanggan tersendiri bagi Ghana, negeri Afrika pertama yang berhasil merebut kemerdekaan dari kolonialisme. Dalam perhelatan sepak bola paling akbar di dunia itu, Ghana berhasil menaklukkan negeri superpower Amerika Serikat dengan skor menyakitkan: 2-1.

Rakyat Ghana pun turun ke jalan-jalan, seolah merayakan “kemerdekaan nasional” yang kedua, setelah sebelumnya dimerdekakan dari kolonialisme oleh Kwame Nkrumah. Yah, sekalipun Ghana belum bisa benar-benar menghapus belenggu kolonialisme yang menghisap mereka hingga hari itu, tetapi setidaknya kepercayaan diri kembali bangkit di setiap hati orang-orang Ghana.

Indonesia sepertinya sedang menunggu nasib seperti Ghana. Setelah menunggu selama 14 tahun lamanya, tim merah-putih kemungkinan besar berhasil merebut kembali gelar juara umum pesta olahraga terbesar di Asia Tenggara ini. Maklum, Indonesia terakhir kali menjadi juara SEA-Games tahun 1997 lalu, dan pada SEA-Games sesudahnya Indonesia terus terperosok hingga urutan ke-lima.

Tetapi, ada penantian yang lebih lama lagi, yaitu gelar juara di cabang sepak-bola, yang sudah 20 tahun terlepas dari genggaman tim Garuda. Tak pelak lagi, begitu rindunya rakyat Indonesia akan gelar juara bergengsi itu, puluhan ribu supporter Indonesia selalu setia memberi dukungan dan semangat kepada tim nasionalnya.

Kemenangan-kemenangan itu memang cukup penting. Di tengah keterpurukan akibat neo-kolonialisme/imperialisme, rakyat Indonesia seperti kehilangan harapan dan asa untuk masa depan yang lebih baik. Tetapi penghancuran harapan itu karena serangan budaya imperialis dan penghianatan para pemimpin kita.

Di kalangan pemimpin kita pun muncul penyakit “inlander” yang tidak ketulungan. Mereka begitu senang membungkuk dan tunduk pada pihak asing. Penyakit ini juga menghinggapi tidak sedikit kalangan intelektual bangsa kita.

Dalam lapangan ekonomi pun penyakit “rendah diri” sering menampakkan diri. Bung Hatta, dalam kumpulan karangannya soal ekonomi “Beberapa Fasal Ekonomi”, mengakui adanya penyakit rendah diri dalam perekonomian itu. Penyakit itu sering disebut “economische minderwaardigheid”.

Menurut Bung Hatta, penyakit “economische minderwaardigheid” itu awalnya ditanamkan oleh surat kabar-surat kabar barat dan intelektual barat. Bung Hatta menganggap hal itu sebagai salah-satu bentuk senjata psikologis kolonialisme untuk menaklukkan “semangat” bangsa kita untuk membangun perekonomian sendiri.

Bung Karno, juga Bung Hatta, ketika membangkitkan rakyat melawan penjajahan sudah menyerukan sikap “self-reliance” (jiwa yang percaya kepada kekuatan sendiri) dan “self help” (jiwa berdikari). Bung Karno faham betul adanya pertentangan antara sana (kolonialisme/imperialisme) dan sini (rakyat indonesia). Pihak “sana” selalu berusaha menjajah dan mengambil keuntungan dari pihak “sini”. Karenanya, untuk keluar dari belenggu “sana”, maka kaum “sini” harus berjuang dengan kekuatan sendiri, tenaga sendiri, usaha sendiri, kepandaian sendiri, dan keringat sendiri.

Karena itu, untuk keluar dari penindasan neokolonialisme di segala lapangan kehidupan, sudah saatnya bangsa Indonesia memupuk kembali semangat “self reliance” dan “Self help” sebagai motor untuk membangun bangsa sendiri. Tetapi, seperti juga diperingatkan Bung Karno, bahwa sikap “self reliance” dan “self help” itu tidak menolak kerjasama atau bantuan dari bangsa-bangsa sekawan dan punya misi sama dalam perjuangan kita.

Kita sangat berharap bahwa prestasi yang ditorehkan oleh atlet Indonesia di ajang SEA-Games bisa menjadi cambuk untuk menyadarkan kita; bahwa kita bangsa yang besar dan punya kemampuan untuk bangkit. Kita bisa bangkit menjadi bangsa berdaulat, berdikari, dan bermartabat.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut