PKL Surakarta Menolak Perda Diskriminatif

Dengan maksud yang baik, para pedagang dari Aliansi Pedagang Kaki Lima Surakarta (APS) menyerahkan draft revisi Perda yang ditolaknya, yaitu Perda Nomor 8 Tahun 2008 tentang pengaturan PKL.

Usulan revisi tersebut diserahkan langsung kepada DPRD, selaku pihak yang bertangggung jawab dalam penggodokan perda ini. Beberapa item dalam perda itu dihapuskan karena dianggap merugikan pedagang kaki lima.

“Para pedagang kaki lima menunjukkan kedewasaannya di sini, bahwa kami bukan sekedar menolak sebuah kebijakan, tetapi juga menawarkan solusi,” kata Henri Anggoro, salah satu aktivis yang mendampingi para pedagang.

Dalam draft revisi versi PKL, beberapa pasal dalam Perda No.3 tahun 2008 dihapuskan, diantaranya, soal pengaturan ijin berdagang.

Tetapi, maksud baik ini justru ditanggapi miring oleh kepala dinas pengelolaan pasar (DPP) Surakarta Subagyo dan ketua Komisi III DPRD Surakarta Honda Hendarto. Kepada media massa, Ketua Komisi III DPRD Surakarta Honda Hendarto mengucapkan kata-kata kasar untuk menanggapi draft revisi tersebut.

”Rumah tangga saja ada aturannya, apalagi bagi PKL. Kalaupun sudah tak mau diatur dan ditata di lingkup Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), silahkan keluar,” kata Honda Hendarto, sebagaimana dikutip oleh banyak media.

Pernyataan itu kontan mendapat reaksi dari para pedagang kaki lima. Dalam sebuah konferensi pers sederhana, ketua APS Sriyanto menganggap komentar anggota DPRD tersebut tidak bertanggung jawab.

Ditegaskan oleh Sriyanto, bahwa PKL bukannya tidak mau ditata, melainkan tidak mau direlokasi dan digusur. “Siapa bilang kami tak mau ditata? Kami siap ditata tapi tidak beranjak dari tempat berjualan selama ini. Untuk itu, kami siap menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan.”

Lebih lanjut Sriyanto menganggap bahwa kehadiran PKL merupakan bukti kegagalan pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja.

”Kami jadi PKL itu bukan cita-cita, tapi karena desakan kebutuhan perut. Kalau pemerintah bisa membuka lapangan kerja, tentu PKL tak akan menjamur seperti sekarang,” katanya kepada wartawan.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut