Perempuan Kurdi Bangkit Melawan ISIS

Pejuang-Kurdi.jpg

Sejak bulan Juni lalu, sebuah kelompok ekstrimis kanan berjubah agama tampil menggemparkan dunia. Terutama setelah mereka berhasil merebut Mosul, kota terbesar kedua di Irak, yang kaya minyak dan berpenduduk 2 juta orang.

Kelompok itu menyebut diri ISIS (Islamic State in Iraq and Syria/Levant) atau Negara Islam di Irak dan Suriah. Mereka memiliki puluhan ribuan pejuang bersenjata yang berasal dari berbagai negara, seperti Eropa, Afrika, Timur Tengah, Australia, dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Yang menakutkan, ISIS mempertalikan antara fanatisme agama dan jalan kekerasan. Begitu merebut kota Mosul, ISIS segera memaklumkan berdirinya kekhalifahan baru. Mereka mendaulat pemimpinnya sendiri, Abu Bakr al-Bagdhadi, sebagai Khalifah. Lalu, pada tanggal 29 Juni lalu, mereka mendeklarasikan diri sebagai Islamic State/Negara Islam (IS).

Sepak terjang kelompok ini terbilang mengerikan. Sebagaimana aksi kelompok teroris berjubah jihadis lainnya, seperti Boko Haram di Afrika Barat dan Taliban di Pakistan, kelompok ini menghalalkan pembantaian terhadap mereka yang dianggap tak sejalan dengan keyakinannya.

Seperti saat kelompok ini merebut kota Mosul. Kelompok ini segera menebar teror dan kekerasan. Mereka tak segan-segan mengeksekusi siapapun yang berada di luar keyakinannya, seperti Kurdi, Yazidi, Syiah, Kristen, Turkmen, dan lain-lain. Bahkan, dalam video yang diunggah di Youtube, pejuang ISIS tak segan memenggal kepala orang-orang yang dianggap lawannya. Akibatnya, dalam waktu singkat, hampir setengah juta penduduk Mosul melarikan diri untuk mencari selamat.

Dalam banyak kasus, ketika ISIS berhasil menguasai sebuah wilayah, mereka menerapkan hukum Islam yang keras. Mereka mengambil tindakan keras terhadap siapapun yang dianggap melenceng dari hukum Islam versi mereka. Tak hanya itu, mereka melakukan eksekusi tanpa proses pengadilan terhadap orang-orang di luar keyakinannya, seperti Syiah dan non-muslim.

Dalam banyak kasus, perempuan banyak yang menjadi korban. Hukum yang dipaksakan oleh ISIS/IS tak hanya membatasi hak-hak perempuan di ruang publik, tetapi juga mengontrol tubuh dan cara berpakaian. Dalam kasus lain, ISIS juga memaksa perempuan untuk menikah dengan pejuang mereka. Hal ini berlaku di wilayah yang ditaklukkan oleh ISIS.

Seperti yang dialami etnis Yazidi. Tanggal 3 Agustus lalu, ISIS berhasil merebut kota Sinjar, provinsi Niniveh, Irak Utara, yang dihuni oleh banyak etnis Yazidi. Tak lama kemudian, pembantaian keji terhadap etnis Yazidi, termasuk perempuan, pun dimulai. Sebanyak 200.000 kaum Yazidi melarikan diri ke daerah otonom yang dikuasai oleh Kurdistan. Sebanyak 40.000 melarikan diri ke pegunungan Sinjar. Sementara ribuan lainnya menyeberang ke Suriah.

Amnesti Internasional melaporkan, ISIS telah menculik sedikitnya 3000 perempuan Yazidi. Sebagian besar korban penculikan adalah kaum perempuan yang tidak bisa melarikan diri saat kota atau desa mereka diduduki oleh ISIS.

Selain itu, menurut intelijen lokal Kurdi, sebagaimana dikutip oleh Press TV Iran, banyak perempuan Yazidi yang tertangkap kemudian dijual oleh pejuang ISIS dengan harga antara 500 USD hingga 43.000 USD untuk dipekerjakan di rumah-rumah bordil di kawasan Timur Tengah.

Tak heran, ISIS menjadi horor menakutkan bagi kaum perempuan. Termasuk bagi perempuan Kurdi. Karenanya, sejak ISIS mulai merajalela, perempuan Kurdi sudah mengangkat senjata. Mereka berlatih militer untuk menyongsong kedatangan ISIS dengan bedil.

Peshmerga, pasukan bersenjata resmi di wilayah regional otonom Kurdi, telah melatih kaum perempuan untuk menggunakan senjata. Bahkan, Peshmerga punya batalyon khusus untuk perempuan, yakni Batalyon ke-2. Batalyon ini beranggotakan sedikitnya 500-an perempuan. Komandannya pun seorang perempuan: Kolonel Nahida Ahmad Rashid.

“Ini adalah sebuah kehormatan menjadi bagian dari negara Islam modern yang memungkinkan kaum perempuan mempertahankan tanah-airnya,” kata perempuan yang sudah menjadi prajurit sejak tahun 1996 ini.

Peshmerga, yang berarti “mereka yang melawan kematian”—semacam pasukan berani mati, adalah kelompok bersenjata pejuang Kurdi sejak perjuangan kemerdekaan di tahun 1920. Sekarang ini Peshmerga menjadi tentara resmi di wilayah Pemerintahan Regional Kurdistan, yang dikontrol oleh Kurdi. Pemerintahan regional ini dipimpin oleh Massoud Barzani dari Partai Demokratik Kurdistan (KDP).

Selain di Peshmerga, banyak perempuan Kurdi bergabung dengan sayap bersenjata Partai Pekerja Kurdistan (PKK) dan Partai Perhimpunan Demokratik Kurdi (PYD). Keduanya merupakan partai berideologi marxis. PKK banyak berbasis di Turki dan wilayah pegunungan Irak Utara. Sedangkan PYD, dengan sayap bersenjatanya, Unit Perlindungan Rakyat (YPG), banyak berbasis di Suriah.

PKK, yang dicap teroris oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa, sudah berjuang untuk pembebasan Kurdistan selama 30 tahun. Sekitar 40% pejuang PKK adalah perempuan. Tak hanya itu, PKK juga punya sayap perempuan bersenjata, yakni Perhimpunan Patriotik Perempuan Kurdistan (YJWK). Terakhir, PKK membentuk sayap perempuan baru, yakni Perhimpunan Pembebasan Perempuan Kurdistan (YAJK).

PKK memang sangat mendorong keterlibatan aktif perempuan dalam politik, termasuk dalam pembebasan nasional. Pimpinan PKK, Abdulla Ocalan, pernah mengatakan, “jika perempuan tidak pernah terbebaskan, maka bangsa pun tak akan pernah terbebaskan.” Baginya, pembebasan perempuan dan pembebasan tanah air tidak bisa dipisahkan.

Seiring dengan merajalelanya ISIS, PKK menggalang rakyat Kurdi untuk bangkit melawan. Termasuk menggalang perempuan. “Seluruh Kurdi di utara, timur, selatan, dan barat, harus bangkit melawan serangan terhadap Kurdi di Sinjar (pegunungan Irak Utara),” demikian seruan yang dikeluarkan PKK awal Agustus lalu.

Dalam perkembangan terbaru, PKK punya andil besar dalam merebut kembali kota Makhmour dari tangan ISIS. Kota Makhmour, yang terletak 100 kilometer di selatan Mosul, juga merupakan tempat 10.000 pengungsi Kurdi dari Turki.

Di banyak tempat, pejuang PKK bertempur bersama dengan Peshmerga untuk melawan militan ISIS, seperti di Kirkuk, Shingal, dan Makhmour.

Tidak berbeda jauh dengan PKK, PYD juga menjadi tempat berlabuh bagi banyak pejuang perempuan. PYD, yang berbasis di Suriah, punya banyak pejuang perempuan. Kabarnya, YPG (Unit Perlindungan Rakyat)—sayap bersenjata dari PYD—punya 30% pejuang perempuan.

YPG sendiri diperkirakan punya 20.000 gerilyawan. Di Suriah, mereka dikenal paling militan dalam melawan teroris Islam, Jabhat al-Nusra, yang juga bagian dari Al-Qaeda. Mereka juga yang banyak berjasa dalam menghalau ISIS di Suriah.

“Saya percaya pada alasan yang lebih besar, untuk melindungi keluarga kami dan kota kami dari kebrutalan ekstremis dan ide-idenya yang gelap,” ujar Ruwayda, komandan brigade perempuan di PYD/YPG.

Ruwayda, yang juga pembaca Nietzsche dan Karl Marx, menilai ISIS menolak peran dan kepemimpinan perempuan. “Mereka hanya ingin membungkus kami dan menjadikan kami ibu rumah tangga untuk melayani kebutuhan mereka. Mereka pikir kami tidak punya hak untuk berbicara dan menentukan hidup kami,” katanya.

PYD/YGP juga berkontribusi besar dalam revolusi di Rojava. Rojava, yang meliputi tiga daerah, yakni Cizire, Kobane dan Efrin, menjadi pemerintahan otonom yang merdeka. Di Rojava, kendali pemerintahan sudah di tangan rakyat. Dalam revolusi di Rojava, yang meledak sejak tahun 2004 lalu, kaum perempuan tampil di garda depan.

Ya, tidak ada satupun revolusi di dunia ini tanpa keterlibatan dan kepemimpinan kaum perempuan.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut