Cerpen: Jika Perempuan Pulang Malam…

“Pak, saya nggak mau lagi …” 

“Nggak mau apa?” 

“Nggak mau lagi, kalau …” 

“Kalau apa? Ngomong saja, nggak apa-apa.” 

“Kalau …” 

Pak Aris menunggu kelanjutan kalimatku, tapi rasanya aku tidak sanggup. Seperti ada yang menggantung di sekitar tenggorokanku, menahan beban entah berapa ratus gram. Lelaki muda itu adalah kepala personalia tempatku bekerja. Dari awal memasuki kantor, aku sudah ingin menangis, tapi kutahan. Mungkin itu yang membuat aku merasa kesulitan untuk berkata. 

“Kalau …” 

Pria yang terkenal sabar dan halus tutur katanya itu, masih menunggu. Memandangiku tanpa berkata apa-apa. Aku berdiri. Sebentar melihatnya, lalu menunduk menatap meja … 

“Kalau, pulang malam, lagiiiiiiiiiii …” 

Akhirnya, tangisku meledak juga. Kakiku gemetar, tak sanggup lagi ditegakkan. Tubuhku lunglai, terserak di lantai. Suasana kantor yang tenang sore itu, menjadi gaduh. 

“Ehh … kamu kenapa …?” Panik Pak Aris. 

“Kenapa itu paaaakk …?” Mbak Vera, staff personalia berteriak. “Kasih bangku, pak … kasih bangku … kasihan anak itu …” 

Aku masih menggerung-gerung tak ingat malu. Pak Aris buru-buru mengambil kursi lipat, meletakkan di dekatku, lalu membantuku berdiri. 

“Ya sudah … ditenangkan dulu. Diatur nafasnya, baru cerita.”

Belum selesai tanya jawab, dua anak sewing (penjahit) tiba-tiba masuk kantor dan menyela pembicaraan kami. Dengan genitnya, kedua perempuan itu berbicara sambil menggoda Pak Aris. Personalia yang masih lajang itu memang suka bercanda. Orangnya asik … 

“Ya sudah, kamu kerja dulu saja, ya. Nanti biar saya urus mobilnya.”  

Tahukah kalian … betapa susahnya menceritakan hal ini. Tapi selalu saja ada yang menggangguku setiap malam menjelang tidur. Suara-suara yang entah dari mana datangnya, bergaung di telingaku … 

“Kamu harus ceritakan ini!” 

“Ini adalah pengalaman yang mungkin akan bermanfaat bagi orang lain, terutama kaummu, agar mereka bisa mengantisipasi.”

“Kita tidak bisa belajar hanya dari pengalaman sendiri. Perlu juga belajar dari pengalaman orang lain, karena kita tidak punya banyak waktu untuk mengalaminya sendiri.” 

“Dunia ini sangat luas, populasi manusia terus meningkat, maka persoalan yang muncul pun semakin banyak dan beragam bentuknya.”  

Berhari-hari aku sempat bingung. Harus memulai dari mana? Aku tidak ingin sekedar menulis. Aku selalu ingin bagaimana sebuah pesan itu bisa tersampai dengan baik. Bagaimana agar tulisanku enak dibaca, tidak membosankan. Tapi beberapa kali aku terpaksa harus berhenti. Menangis. Beruntung aku sedang sendirian, sehingga tak perlu malu melakukannya. Tidak perlu sembunyi, karena tak ada yang tahu dan tak akan ada yang bertanya. Kubiarkan cairan bening itu membanjiri seluruh mukaku. 

Aku memang tak sempat mencatat persisnya kejadian itu, bahkan tahunnya saja aku lupa. Kalau tidak salah, 2010. Seperti biasa, jika banyak order pakaian yang berkancing, aku selalu kebagian tugas memasang kancing. Karena mesin kancing jumlahnya sedikit, itu juga beberapa sudah tua ─tidak bisa bekerja cepat ─sehingga target per hari tak mencukupi. Agar pekerjaan bisa selesai sesuai jadwal yang ditentukan, maka beberapa anak ditugaskan di shift 2 ─masuk jam 4 sore ─pulang jam 12 malam. Aku termasuk yang mendapatkan tugas itu dan bukan pertama kali. Dan perusahaan selalu bertanggung jawab mengantar kepulangan kami dengan menyewa beberapa mobil antar jemput karyawan KBN (Kawasan Berikat Nusantara). Mobil yang biasa mereka gunakan, Carry dan sejenisnya.    

Waktu itu, aku sempat tidak kebagian mobil yang disewa khusus untuk mengantar karyawan yang tempat tinggalnya jauh plus sampai di depan rumah. Mobil ini satu-satunya. Yang lain hanya mengantar sampai gang saja, itu pun beda-beda jurusan. Tentu harganya juga berbeda. 

“Bang, tolong dong masuk sedikit aja, sampai ngelewati lapangan itu.” Pintaku pada si sopir. 

“Emang kenapa?” 

“Lapangan itu gelap. Sebelahnya masih semak-semak. Suka ada orang mabok lagi.” 

“Ya … nggak bisa, neng. Sewanya kan cuma sampai depan gang doang.”

“Ih abang, tinggal aku ini, terakhir. Ntar kalau udah lewat lapangan, udah, aku turun. Biasanya mobil yang lain juga mau. Biar nggak nyampe depan rumah juga, nggak pa pa.” 

Dari jalan raya menuju kontrakanku memang lumayan jauh, sekitar 200 meter. Tapi jalannya lebar, sehingga mobil putar arah pun tidak masalah. Jalan itu biasa dilewati bus PPD (Pengangkutan Penumpang Djakarta) dan memang milik Perum PPD. Pool-nya, di depan kontrakanku. Aku biasa numpang kalau kebetulan mobil itu lewat. 

“Nggak bisa. Yang lain juga di depan gang, ya di depan gang. Udah, ntar dilihatin dah dari sini.” 

Braaaaakkk! pintu aku banting, kesal sambil nyebrang. Beberapa saat aku menoleh, mobil itu masih ada.  

“Ngapain dilihatin! Ngapain ditungguin! Rumah gua masih jauh di ujung sana! Kalau gua kenapa-napa juga loe nggak bakalan tau!” Teriakku memecah sepi di pukul 01.00. 

Besoknya, aku kembali mendapati mobil yang sebelumnya selalu mengantar aku sampai di depan rumah. Mungkin ada karyawan yang pekerjaannya sudah selesai, sehingga ia masuk pagi. Aku senang karena tidak perlu ketakutan lagi melewati lapangan itu.  

Mobil mulai berjalan, melintasi jalan raya, keluar masuk lorong menurunkan satu per satu penumpangnya. Bagi karyawan perempuan yang sudah berkeluarga atau memiliki sanak famili di Jakarta, pasti akan disambut laki-laki yang tengah menunggu kepulangannya. Suami atau saudaranya lelakinya. Biasanya yang rumahnya memasuki gang sempit, sehingga mobil tidak bisa masuk. Ada yang menemani dengan berjalan kaki, ada yang membonceng dengan motor atau sepeda. Khawatir terjadi apa-apa dengan anggota keluarganya. 

Malam itu, menjadi malam yang berbeda dari yang sudah-sudah. Biasanya aku bukan orang yang terakhir diturunkan. Dan jalanan itu tak pernah kulewati sebelumnya. Benar-benar asing bagiku. Sempat kutanya penumpang terakhir sebelum aku, katanya, itu daerah Kelapa Gading, belakang Komplek Perumahan Bea Cukai. 

Mobil mulai balik arah. Tinggal aku bersama seorang pengemudi mobil yang tampak masih muda. Usianya berkisar 30 tahun lebih. Perawakannya gemuk, tapi tidak sangat. Kulitnya hitam dan tinggi badannya sekitar 170 cm.   

“Kita jangan lewat yang tadi ya? Jalannya rusak parah.” Kata si sopir.  

“Ya udah, nggak pa pa.” 

“Neng, bawa hand body nggak? Ada yang rusak nih, musti dibenerin.” 

“Enggak, bang.” 

“Hadooooohh! pusing nih pala gua kalau begini!” 

Si sopir terlihat kesal sambil melepas topinya. Aku ngeri mendengar nada suaranya yang meninggi, emosi.

“Kalau cologne gel aku bawa. Bisa nggak? Mirip kok, kayak hand body.” 

“Panas nggak?” 

“Ya enggaklah, kan itu wangi-wangian. Nih …” 

“Ya udah, entar aja. Pegang dulu.” 

Mobil terus berjalan melewati rumah-rumah penduduk. Ada pos Kamling dan beberapa orang penjaga, terus dilewati. Pintu-pintu sudah tertutup rapat. Tak ada seorang pun yang terlihat nongkrong di luar. 

“Neng, tau nggak, dulu di daerah sini, ada anak KBN yang diperkosa.” 

“Oh ya?” 

“Iya. Beritanya aja masuk koran.” 

Seperti mendengar cerita horor, aku bergidik. Rumah-rumah perkampungan sudah jauh kami tinggalkan. Mobil berhenti di sebuah tempat, entah apa itu. Gelap dan sepi. Tak ada satu pun lampu penerang jalan. Mesin mobil tetap dihidupkan. Dari sorot lampunya, terlihat bedeng-bedeng ada di samping kanan. Di bagian kiri, pepohonan yang rimbun berjajar selayak hutan. Di luar sorot lampu itu, yang kulihat hanya pekat. Tak ada setitik cahaya pun yang menandai adanya kehidupan di sekitar tempat itu. Seperti kota mati. Tak ada manusia atau kendaraan satu saja yang melintas. 

“Mana neng yang tadi?” 

“Nih …” 

“Beneran nggak panas.” 

“Bener.” 

“Tunggu bentar ya? Benerin ini dulu nih. Ada yang nungguin nggak di rumah?” 

“Ada, kakak.” Jawabku berbohong. 

Aroma wangi langsung menyebar dari cologne gel itu. Aku tiba-tiba curiga setelah mendengar suara yang aneh. Lebih aneh lagi, si sopir tetap duduk  ─tak merubah posisinya. Tak seperti orang yang sedang membetulkan sesuatu pada mobilnya, seperti yang aku kira semula. Aku menggeser tempat dudukku, yang tadinya di belakang sopir, menepi kekiri mendekati pintu. Mulai antisipasi, jika si sopir melakukan hal-hal yang tidak aku inginkan, aku akan lari. 

Astaghfirullah Hal Adziiiimm … benar saja, orang itu sedang masturbasi. Menjadi sangat ketakutan, aku ingin menangis. Jadi ingat keluargaku, mereka jauh di sana. “Ibu … bapak …” Aku memanggilnya dalam hati. Ada perasaan nelangsa menyadari kesendirianku. Aku merasa seperti berada di dunia lain, seperti bayanganku tentang kematian. Sendirian, gelap, sepi, di sebuah tempat yang tak pernah ada di bumi. Tapi, apa aku bisa lari? Aku tak bisa melihat apa-apa selain gelap. Kalaupun aku dibunuh, tentu tak akan ada yang tahu. 

“Neng, duduk di depan sini, neng …” Si sopir menepuk bangku di sebelahnya. 

“Enggak ah, di sini aja.” Aku mencoba menjawab setenang mungkin. Pura-pura bodoh, tak tahu apa yang sedang dilakukannya. Jantungku berdegup semakin kencang. 

“Nggak pa pa, duduk di depan sini.” 

“Enggak.” 

“Sini … nggak pa pa … ayo sini …” 

Sopir itu mengarahkan tangannya ke belakang, mencoba menggapai lenganku. Aku menghindar, merapatkan seluruh anggota badanku hingga ke tempat yang paling sudut. Tapi ia terus berusaha meraih tanganku, memaksa. Wajahnya terlihat tegang dan … 

“Nggak mauuuuuuu … Aku mau jalan! Aku mau jalan! Pokoknya aku mau jalaaaaaaaaannn …”

“Iya iya iya iya.”  

Teriakkanku membuatnya panik. Spontan ia tancap gas, mengantarku pulang. 

“Ketakutan amat sih, kayak ngelihat setan aja.” 

Ia ngedumel, aku tak menjawab. Sibuk berdo’a, semoga tak berkelanjutan. Tapi aku masih mengantisipasi. Jika ia membelokkan ke jalan lain yang bukan tujuanku, aku akan melompat dari mobil, meski resikonya aku akan mati. Menjijikkan! 

Pukul 02.00, aku baru tiba. Tangisku meraung bersama lolong anjing malam itu, hingga pagi, hingga aku lelah dan tertidur. 

Sejak itu, setiap pulang aku selalu diantar sopir kantor sampai depan rumah, karena aku akan mogok kerja sore jika harus ikut mobil sewa lagi. Lalu, masihkah rok atau pakaian wanita yang disalahkan? Perlu kalian tahu, aku selalu mengenakan celana jeans plus T-shirt setiap bekerja. Masih lagi dirangkap dengan seragam kerja. Jelas, otak lelaki saja yang kotor, sehingga timbul niat jahat saat melihat perempuan dalam keadaan sendiri. Dan niat jahat itu muncul, karena masih banyaknya lelaki yang menganggap bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah. Hingga tidak menutup kemungkinan jika perempuan itu mengenakan pakaian tertutup dari kepala hingga kaki, tak ubahnya pakaian yang digunakan perempuan-perempuan Arab yang hanya menyisakan matanya. 

Kejadian itu tidak mudah dilupakan. Tiga hari berturut-turut setelahnya, aku masih terus saja teringat. Seperti berada kembali di suatu tempat di mana selalu ada tiga pemandangan yang tak pernah terpisah: Hutan, bedeng-bedeng, gelap. Dan ternyata, bahkan hingga kini pun, saat aku menuliskan kisah itu … 

(Casablanca, 25 September 2013)

Tari Adinda, penggiat di Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut