Agus Priyono: Bangkitlah Dengan Jiwa Proklamasi Kemerdekaan!

Indonesian_Revolution.jpg

Hari ini, 17 Agustus 2014, bangsa Indonesia memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaannya yang ke-69. Ini bukanlah usia yang singkat. Setidaknya, dalam rentang waktu tersebut, bangsa ini sudah mengalami jatuh bangun dalam memperjuangkan cita-cita Kemerdekaannya.

Nah, yang menjadi pertanyaan, sudahkah perjuangan bangsa kita dalam rentang waktu tersebut berhasil mewujudkan cita-cita kemerdekaan nasionalnya?

Menjawab pertanyaan tersebut, Mahesa Danu dari Berdikari Online (BO) telah mewancarai Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD), Agus Jabo Priyono. Berikut petikan wawancaranya:

Berdikari Online (BO): Tahun ini Proklamasi Kemerdekaan Indonesia akan berusia 69 tahun. Menurut Bung, sejauh mana realisasi cita-cita Proklamasi Kemerdekaan hingga saat ini?

jabokpp.jpg
Agus ‘Jabo’ Priyono, Ketua Umum KPP-PRD Periode 2010-2015

Agus Jabo Priyono (AJP): Proklamasi Kemerdekaan jangan hanya dimaknai sekedar terpenuhinya kebutuhan mendesak rakyat agar bisa tetap hidup di atas tanah air Indonesia ini. Tidak sekedar itu, tetapi bagaimana kemerdekaan itu mampu membangun bangsa Indonesia menjadi manusia seutuhnya, bermartabat, mampu mengembangkan kehidupannya, membangun peradaban di atas landasan peri kemanusiaan dan peri keadilan.

Karena jika arti kemerdekaan dimaknai hanya sekedar bisa hidup, bangsa Indonesia sampai sekarang ini masih bisa hidup, walaupun tanah airnya dan kehidupannya kembali dikuasai oleh imperialisme, neokolonialisme.

Kemerdekaan jangan hanya dimaknai rakyat bisa memilih pemimpinnya 5 tahun sekali secara langsung, jika produk kepemimpinan itu berada dalam satu sistem diskriminasi, di mana hanya pemilik kapital-lah yang akan menentukan dan berkuasa atas hasil dari proses demokrasi itu.

Kemerdekaan adalah jika bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, bukan dikuasai imperialis untuk sebesar-besarnya keuntungan mereka. Kemerdekaan adalah jika cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, bukan dikuasai oleh imperialis. Kemerdekaan adalah jika perekonomian disusun sebagai uasaha bersama berdasarkan asas gotong royong untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, bukan berdasarkan pasar bebas.

Kemerdekaan adalah jika rakyat bisa bekerja dengan penghasilan yang layak dan bermartabat. Kemerdekaan adalah jika rakyat bisa sekolah setinggi-tingginya, bukan hanya hak bagi orang kaya. Kemerdekaan adalah jika rakyat sakit bisa dilayani berobat, tanpa beban dan beaya iuran tiap bulan. Kemerdekaan adalah jika rakyat tanpa rasa takut bisa mengaktualisasikan kehidupan mereka.

Ditegaskan oleh Bung Karno, bahwa rakyat di mana-mana di bawah kolong langit ini, tidak mau ditindas oleh bangsa lain, tidak mau dieksploitir oleh golongan-golongan manapun, meskipun golongan itu adalah dari bangsanya sendiri.

Rakyat di mana-mana di bawah kolong langit ini menuntut kebebasan dari kemiskinan, dan kebebasan dari rasa-takut, baik yang karena ancaman di dalam negeri, maupun yang karena ancaman dari luar negeri.

Rakyat di mana-mana di bawah kolong langit ini menuntut kebebasan untuk menggerakkan secara konstruktif ia punya aktivitas sosial, untuk mempertinggi kebahagiaan individu dan kebahagiaan masyarakat.

Rakyat di mana-mana di bawah kolong langit ini menuntut kebebasan untuk mengeluarkan pendapat, yaitu menuntut hak-hak yang lazimnya dinamakan demokrasi.

BO: Melihat persoalan bangsa saat ini, menurut Bung, apa problem terbesar yang mengganjal perjuangan mewujudkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan?

AJP: Imperialisme bersama sistem idiologi politiknya dan Persatuan Nasional!

Imperialisme itu bukan saja sistim atau nafsu menaklukkan negeri dan bangsa lain, tapi imperialisme bisa juga hanya nafsu atau sistim mempengaruhi ekonomi negeri dan bangsa lain, tidak usah dijalankan dengan pedang atau bedil atau meriam atau kapal perang, tak usah berupa perluasan daerah negeri dengan kekerasan senjata, tetapi ia bisa juga berjalan hanya dengan “putar lidah” atau cara “halus-halusan”saja, bisa juga berjalan dengan cara “penetration pacifique/campur tangan damai”.

Itu pandangan Bung Karno tentang imperialisme, dan sekarang hal itu terbukti!

Kita terus menyaksikan bagaimana imperialisme itu merampas hakekat kedaulatan, kemandirian serta kepribadian kita sebagai sebuah bangsa, menyebabkan kemiskinan hidup bagi bangsa kita, di tengah-tengah sumber daya alam yang berlimpah ruah.

Tanah, hal yang pokok dalam membangun kehidupan bangsa, kembali dikuasai sepenuhnya oleh para pemilik modal, rakyat dan para petani yang ingin hidup akhirnya tersingkir, tercerabut dari tanahnya, diusir dengan kekerasan, bahkan ada yang harus mati untuk mempertahankan tanah itu. Sementara para pejuang agraria banyak yang di penjara, seperti Muhammad Ridwan dan kawan-kawan di Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, atau Eva Bande di Sulawesi Tengah, salam hormat yang setinggi-tingginya untuk perjuangan mereka!

Imperialisme telah menjadikan bangsa kita menjadi bangsa kuli, kuli di antara bangsa-bangsa dan kuli di negeri sendiri, lihatlah sudara sebangsa kita banyak yang menjadi buruh di negeri-negeri lain, jauh dari sanak saudaranya, anak isteri atau suaminya, karena di dalam negeri untuk bisa sekedar hidup saja susah, sedangkan tenaga kerja di dalam negeri diperlakukan sebagai buruh kontrak, tanpa jaminan hidup.

Bagaimana dengan para Pemimpin kita, mereka tutup mata dan telinga rapat-rapat, buang muka terhadap nasib yang dialami oleh bangsa kita itu, mereka asik mansuk berselingkuh dengan imperialis ini, menjadi komprador, berpesta pora menggadaikan jabatannya.

Imperialisme terus menerus mendapatkan ruang, bahkan ruang konstitusional, dilindungi oleh UU dan perjanjian-perjanjian yang merugikan bangsa kita, mereka seenaknya saja mengeruk apa yang kita punya, dengan ketamakan terus memburu keuntungan, di atas penderitaan dan hilangnya martabat kebangsaan kita.

Hal ini disebabkan oleh para Pemimpin kita seperti yang disebutkan oleh Bung Karno,: “kita telah menjalankan kompromis, dan kompromis itu telah menggerogoti kita punya Jiwa sendiri! Insyafilah hal ini, sebab, itulah langkah pertama untuk menyehatkan perjoangan kita ini. Dan kalau kita sudah insyaf, marilah kita, sebagai sudah saya anjurkan, memikirkan mencari jalan keluar, memikirkan mencari way out, think and rethink, make and remake, shape and reshape.”

Buanglah apa yang salah, bentuklah apa yang harus! Beranilah membuang apa yang harus dibuang, beranilah membentuk apa yang harus dibentuk! Beranilah membongkar segala alat-alat yang tak tepat, alat-alat materiil dan alat-alat mental, beranilah membangun alat-alat yang baru untuk meneruskan perjoangan di atas rel Revolusi. Beranilah mengadakan “Retooling for the future”. Pendek kata, beranilah meninggalkan alam perjoangan secara sekarang, dan beranilah kembali sama sekali kepada Jiwa Revolusi 1945.

Dan agar kita bisa bangkit kembali kepada jiwa Revolusi 1945 dan memenangkan kembali cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945, kita tidak boleh tercerai berai, meneguhkan kesadaran kita sebagai satu bangsa, dengan jalan Persatuan Nasional.

BO: Bagaiamana Bung melihat tantangan perjuangan saat ini bila dibandingkan dengan perjuangan di masa lampau, di era perjuangan merebut kemerdekaan?

AJP: Secara prinsip sebetulnya kita menghadapi persoalan yang sama, berbeda dalam segi tampilannya saja. Musuh kita bersama tetap, yaitu imperialisme, beserta idiologi, tatanan serta perangkat bonekanya yang ada di dalam negeri.

Maka tugas sejarah bangsa Indonesia saat ini adalah bangkit dan bersatu, seperti yang sudah ditauladankan oleh para pejuang perintis kemerdekaan pada waktu itu, mengusir penjajah yang memerintah serta menguasai bangsa kita. Bebas dari belenggu kekuasaan imperialisme, neokolonialisme, adalah prasyarat utama, adalah jembatan emas menuju masyarakat yang kita idam-idamkan, yaitu satu masyarakat yang adil makmur, lahir batin.

Kita adalah bangsa pejuang, kita harus kembali menyalakan api perjuangan itu!

Berkali-kali Bung Karno meningatkan hal itu, di mana jiwa Revolusi itu sekarang? Jiwa Revolusi sudah menjadi hampir padam, sudah menjadi dingin tak ada apinya. Di mana Dasar Revolusi itu sekarang? Dasar Revolusi itu sekarang tidak keruan di mana letaknya, oleh karena masing-masing partai menaruhkan dasarnya sendiri, sehingga dasar Pancasila pun sudah ada yang meninggalkan. Di mana tujuan Revolusi itu sekarang? Tujuan Revolusi, yaitu masyarakat yang adil dan makmur, kini oleh orang-orang yang bukan putera revolusi diganti dengan politik liberal dan ekonomi liberal. Diganti dengan politik liberal, di mana suara rakyat banyak dieksploitir, dicatut, dikorup oleh berbagai golongan. Diganti dengan ekonomi liberal, di mana berbagai golongan menggaruk kekayaan, hantam kromo, dengan mengorbankan kepentingan Rakyat.

BO: Dalam Pilpres lalu isu kemandirian bangsa cukup menguat, termasuk gagasan Trisakti. Apa harapan Bung terhadap pemerintah baru ke depan?

AJP: Siapapun yang nanti berkuasa, jangan menjadi tukang rias, yang memoles wajah kapitalis dan imperialis yang rakus dan jahat itu dengan bedak serta gincu agar kelihatan manis dan ramah. Tetapi pemerintahan yang kuat, bersama persatuan rakyat yang berdaulat, menghentikan imperialisme itu dengan cara mencabut semua produk UU yang melindungi kepentingan mereka di dalam negeri kita; Pemerintahan yang mampu membangun semangat gotong royong memenangkan kembali cita-cita Proklamasi Kemerdekaan di atas prinsip Trisakti, menuju masyarakat adil makmur, lahir batin.

BO: Menurut Bung , apa kebutuhan mendesak perjuangan sekarang ini dalam kerangka menuntaskan perjuangan mewujudkan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945?

AJP: Imperialisme dengan berbagai cara telah berhasil membius kita semua untuk melupakan kepentingan nasional kita bersama dan menghancurkan Persatuan Nasional kita. Kita akan terus dibuat agar tetap lemah, sehingga mereka bisa leluasa menguasai kita, mengeruk sumber daya alam kita.

Untuk itu, kita tidak boleh sedikitpun melupakan tugas serta tanggung jawab kita, untuk berjuang melepaskan diri dari cengkeraman imperialisme itu. Dengan memassifkan gagasan kedaulatan, kemandirian, kepribadian bangsa dengan menggunakan instrumen yang ada, agar kita semua tetap sadar dan bangkit kembali berjuang membongkar pondasi imperialisme itu untuk memwujudkan masyarakat yang adil makmur, lahir serta batin. Dan hanya dengan jalan Persatuan Nasional, perjuangan kita akan sampai kepada tujuan.

BO: Apa pesan Bung untuk rakyat Indonesia?

AJP: Jangan lupakan sejarah, mari kita ingat pesan Bung Karno : “Sekarang hai Bangsa Indonesia, bangkitlah kembali! Bangkitlah kembali dengan Jiwa Proklamasi di dalam kalbu! Tinggalkan alam yang lampau! Tetapi jangan mengeluh! Keluh adalah tanda kelemahan jiwa!”

Tentunya kebangkitan itu harus dilandasi kesadaran yang kuat, di mana pun tempatnya, kesadaran itu harus diwujudkan dalam bentuk membangun organisasi-organisasi, wadah-wadah perjuangan hidup, juga sebagai alat berlawan.

Nasib bangsa berada di pundak bangsa Indonesia sendiri, maka dari itu mari kita bangun Persatuan Nasional yang kokoh, agar kemenangan ada di tangan kita![]

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut