Patung Jenderal Sudirman dan Bangsa Yang Besar

Di tengah perhatian sebagian besar rakyat pada kenaikan harga sembako, tiba-tiba saja muncul berita mengenai rencana pelelangan patung dan bekas markas Jenderal Soedirman di Desa Pakisbaru, Kecamatan Nawangan, Pacitan. Ini bukan pertama-kalinya pemerintah melelang benda atau peninggalan sejarah.

Pada bulan mei lalu, pemerintah juga melakukan lelang terhadap ratusan ribu harta karun yang berusia 1000 tahun, yang ditemukan di Perairan Cirebon, Jawa Barat. Sebelumnya, situs Trowulan yang merupakan peninggalan kerajaan paling termasyhur di nusantara, kerajaaan majapahit, juga telah dirusak sendiri oleh pemerintah.

Ada satu hal pokok yang harus kita perhatikan. Proses pelelangan dan penghancuran berbagai peninggalan sejarah itu berlangsung sangat sistematis. Padahal, siapapun tidak dapat membantah, bahwa keberadaan peninggalan sejarah tersebut sangat penting untuk mengingatkan generasi sekarang mengenai sejarah perjuangan bangsanya di masa lalu.

Oleh Soekarno, ketika membangun begitu banyak tugu dan monumen bersejarah, dikatakan bahwa tugu pahlawan tidaklah sekedar bangunan materil, tetapi dia adalah lambang dari sebuah jiwa besar. Soekarno pernah berkata; “Tugu pahlawan jang gagah perkasa, jang mendjulang langit ini, adalah sebagai lambang pengisi dada pahlawan jang telah gugur pada tudjuh tahun jang lampau. Hendaknja kita jang mengelilingi Tugu inipun akan mengisi dada kita dengan tekad jang sebulat2nja untuk mengisi kemerdekaan kita dan tjita2 kita jang sediakala.”

Terlebih di masa sekarang ini, saat dimana usaha-usaha penjajahan kembali (rekolonialisme) sedang giat-giatnya dilakukan oleh kaum imperialis, keberadaan peninggalan sejarah itu telah menjadi simbol pengingat dan sekaligus inspirasi untuk melakukan perjuangan.

Tidak salah kemudian, kami telah menyimpulkan bahwa proses pelelangan patung dan penghancuran peninggalan sejarah merupakan bagian dari proses penghancuran karakter nasional kita sebagai sebuah bangsa. Para imperialis itu sangat yakin, bahwa ketika rakyat tak lagi mempunyai kebanggan nasional, tidak lagi memiliki bukti-bukti dan ingatan mengenai sejarah besar bangsanya, maka proses penaklukan itupun akan berlangsung dengan sangat mudahnya.

Ambil contoh patung Jenderal Sudirman. Keberadaan patungnya bukan sekedar sebagai penghargaan terhadap jasa-jasanya, tidak sekedar untuk rekreasi atau wisata, melainkan sebagai “tugu peringatan” mengenai perjuangan seorang pejuang besar, meski sakit parah, tetap memimpin gerilya melawan penjajah Belanda.

Sayang sekali, bahwa Presiden SBY belum bersikap sedikitpun untuk menyelamatkan patung tersebut, sangat berbeda ketika kasus video porno sedang mencuat di permukaan, Presiden langsung membuat komentar tanggapan.

Lantas, apa andil pemerintahan SBY-Budiono dalam kasus ini? Siang tadi (19/7), dua orang janda pahlawan melakukan aksi di depan istana negara. “Aksi diam 65 menit menjelang 65 Tahun Indonesia merdeka, masih ada perilaku penjajahan di negeri ini,” begitu bunyi spanduk dua janda pahlawan itu. Kedua janda itu tidak hanya dilupakan oleh pemerintah, tapi kini sedang diadili oleh pengadilan pemerintah hanya karena menempati sebuah rumah dinas pegadaian.

Bunyi sepanduk janda pahlawan itu sangat benar adanya. pemerintah sekarang ini, yang telah berfungsi layaknya gubernur Jenderal di jaman Hindia-Belanda, telah mengeluarkan segala daya upaya untuk memuluskan jalannya proses eksploitasi neoliberal di Indonesia.

Penjualan patung Jenderal Sudirman harus dihentikan. Kita perlu menjadi “naga bonar” dalam dunia nyata, yang punya kepedulian terhadap patung Jenderal Sudirman dan Patung Proklamator Soekarno-Hatta, seperti ditunjukkan dalam film Naga Bonar II.

Dalam segala hal, mulai dari sekarang, kita harus menolak segala bentuk penjualan dan pengrusakan terhadap peninggalan sejarah. Kita menamai perjuangan ini sebagai “perjuangan melawan lupa”, tidak saja lupa terhadap ingatan sejarah yang pendek (reformasi 1998?), tetapi juga melawan lupa terhadap keseluruhan sejarah perjuangan nasonal bangsa dan rakyat kita di masa lampau.

Apa yang lebih penting lagi, bahwa perjuangan melawan lupa ini harus diletakkan dalam perjuangan dalam melawan rekolonialisme saat ini—neoliberalisme.

Pada Tugu Tani di Jakarta dipahatkan kata-kata Bung Karno “hanja bangsa jang menghargai pahlawan2nja dapat mendjadi bangsa jang besar”. Semoga kata-kata itu tetap menyirami jiwa dan semangat kita untuk memperjuangkan bangsa ini menjadi bangsa besar dan merdeka.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut