Moskow Kembali Dilanda Protes Besar-Besaran

Protes terkait kecurangan pemilu terus berlanjut di Rusia. Di Moskow, Ibukota Rusia, sebuah protes besar berhasil memobilisasi banyak massa. Bahkan, oleh banyak media Rusia, protes kali ini disebut terbesar dalam 20 tahun terakhir.

Organizer protes mengklaim jumlah massa mencapai 120 ribu orang. Sementara sumber kepolisian memperkirakan hanya 29 ribu orang. Tetapi, ada banyak orang yang meragukan angka-angka versi polisi dan pejabat resmi Rusia.

Protes ini berlangsung di Akademika Sakharova Boulevard. Berbeda dengan protes sebelumnya, aksi protes kali ini berjalan damai dan lancar. Sebagian besar peserta aksi protes membawa tuntutan yang sama: memprotes kecurangan pemilu.

Mereka juga membawa proposal yang sama: pemungutan suara ulang. Berbagai sektor gerakan sosial juga diperkirakan terlibat dalam aksi protes ini. Mereka terdiri dari aktifis Hak Azasi Manusia (HAM), kelompok intelektual, musisi, dan artis.

Hadir pula sejumlah politisi, termasuk beberapa bekas pejabat pemerintahan. Diantaranya; bekas Menteri Keuangan, Aleksey Kudrin, yang menyerukan reformasi politik lebih luas ketimbang pidato Medvedev.

Pidato Kudrin mendapat cemoohan. Namun, ketika akan mengakhiri pidatonya, ia dengan tegas menyerukan pengunduran diri ketua KPU Rusia dan menuntut penyelenggaran pemilu pada tahun depan.

Hadir pula Mikhail Prokhorov, seorang milioner Rusia yang mencalonkan diri sebagai kandidat presiden dalam pemilu mendatang. Ia tidak sempat menyampaikan pidatonya di hadapan massa, namun ia menyatakan dukungan terkait protes pemilu curang.

Orator yang mendapat sambutan massa ialah Aleksey Navalny, aktivis HAM yang pernah mendekam dalam penjara selama 15 hari karena rally yang dianggap tidak sah pada 5 Desember lalu.

Navalny mengatakan, meskipun ada seruan-seruan jalanan untuk mengambil-alih kekuasaan, tetapi ia menyarankan agar massa menggunakan jalur damai dengan menunggu pemilu pada tahun depan.

“Kami akan terus turun ke jalan hingga mereka mengembalikan apa yang menjadi hak kami,” ujarnya.

Kelompok partai oposisi, termasuk partai komunis, juga terlibat dalam mengorganisir protes ini. Partai Komunis sendiri berhasil meraih tambahan suara cukup signifikan dalam pemilu baru-baru ini.

Aksi protes ini sempat dikhawatirkan berakhir rusuh. Pasalnya, tidak jauh dari lokasi aksi, terdapat rally yang digelar oleh ultra-nasionalis. Beruntung, kelompok ultra-nasionalis ini tidak mengarahkan kepada bentrokan.

RAYMOND SAMUEL

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut