Michel Chossudovsky: Washington Lakukan Operasi Intelijen Terselubung Di Mesir

Ekonom dan sekaligus penulis progressif Kanada, Michel Chossudovsky, memperkirakan adanya usaha operasi intelijen AS di Kairo, Mesir, menyusul kedatangan seorang utusan Obama, Frank G. Wisner II.

Wisner dikenal baik sebagai bagian dari keluarga CIA, anak dari salah seorang mata-mata paling terkenal di Amerika Serikat, Frank Gardiner Wisner (1909- 1965), yang juga menjadi sponsor penggulingan pemerintahan Mohammed Mossadegh di Iran.

Wisner tiba di Kairo pada tanggal 31 Januari 2011, saat gerakan protes sedang mencapai puncaknya dalam upaya menjatuhkan rejim Mubarak.

Menurut Chossudovsky, Wisner merupakan kawan dekat Presiden Mesir, Hosni Mubarak, terutama saat Wisner menjadi dubes AS di Mesir tahun 1986-1991.

Semasa menjadi dubes di Mesir, Wisner dianggap punya peranan penting dalam negosiasi perjanjian pada tahun 1991, yang bukan saja berhasil memastikan komitmen Mesir untuk terjung dalam perang teluk pertama melawan Irak, tetapi juga berhasil menggolkan paket kebijakan reformasi makro-ekonomi yang dipandu oleh IMF.

Pendiskusiannya dengan Mubarak dimulai ketika Presiden Mesir itu menyampaikan pidato pada tanggal 1 Februari 2011, dimana Mubarak menyatakan bahwa dirinya tidak akan mundur hingga pemilihan Presiden baru akan diselenggarakan bulan September mendatang.

Dalam pernyataan publiknya, Wisner mengakui bahwa dirinya diijinkan oleh Mubarak untuk tinggal di kantornya. Namun, gedung putih buru-buru mengeluarkan klarifikasi, bahwa Wisner bukan cerminan kebijakan luar negeri AS dan pernyataan Wisner dibuat berdasarkan kapasitasnya sebagai pribadi.

Lebih lanjut, menurut Chossudovsky, pertemuan tertutup antara Wisner dengan Mubarak adalah bagian dari agenda intelijen. Washington tidak punya perhatian untuk mendorongnya mengikuti resolusi gerakan protes. Prioritas kegiatannya adalah perubahan rejim. Mandat Wisner adalah menginstrusikan Mubarak agar tidak mundur, sehingga berkontribusi terhadap terjadinya kerusuhan sosial dan ketidakpastian, belum lagi destabilisasi moneter yang menyebabkan miliaran dollar mengalir keluar negeri.

Ayah Wisner mengepalai Office of Strategic Services (OSS) di eropa tenggara selama perang dunia kedua. Semasa perang, ia banyak ditugasi untuk operasi intelijen yang dianggap modus operandi CIA. Tanggung jawabnya, antara lain, adalah melakukan sabotase, propaganda, dan disinformasi media. Dia merupakan arsitek dari operasi Mockingbird, salah satu program CIA untuk melakukan infiltrasi ke dalam media AS dan asing.

Pada tahun 1952, Wisner menjadi kepala direktorat perencanaan CIA, dimana Richard Helm menjadi kepala operasinya. Dia juga yang menjadi otak dari kudeta yang disponsori oleh CIA terhadap pemerintahan Mohammed Mossadegh di Iran pada tahun 1953, yang membuka jalan bagi berkuasanya Reza Syah Pahlevi, presiden boneka imperialis AS di Timur Tengah.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut