Doa Bersama Tokoh Agama dan Aktivis Pergerakan

Malam hari, sekitar pukul 20.30 WITA, puluhan orang sudah berkumpul di Gereja Santo Vincentius A Paulo Jalan Widodaren 15 Surabaya. Orang-orang yang berkumpul itu bukan hanya tokoh agama, tetapi juga hadir aktivis pergerakan, terutama aktivis Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) dan Partai Rakyat Demokratik (PRD).

Romo Gani, salah seorang rohaniawan yang cukup kritis di surabaya, menjadi inisiator dari acara ini. “Kita mau menunjukkan kepada masyarakat luas, bahwa diantara kami berbagai agama tidak pernah ada masalah. Tetapi, sekarang ini ada pihak yang berusaha memanas-manasi seolah-olah ada masalah. Kita berkumpul untuk tetap menjaga persatuan bangsa.” katanya saat membuka acara ini.

Film pendek mengenai penyerbuan jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, Banten, menjadi pembuka acara ini. Lalu, sejurus beberapa saat kemudian, para peserta dan wartawan menyanyikan lagu penyanyi legendaris Indonesia, Almarhum Chrisye, berjudul “Damai Bersamamu”.

Suasana gelap berubah menjadi terang. Lilin dinyalakan tepat di depan dua tokoh agama, yaitu Haji Lukman Hadi dan Romo Gani. Keduanya sedang membacakan doa untuk keselamatan bangsa Indonesia dan tetap terjaganya persatuan nasional.

Dengan doa mudah-mudahan bisa dikabulkan apa-apa yang kita minta pada-Nya, saya berdoa agar manusia yag ada di dunia diberi keselamatan khususnya untuk bangsa Indonesia yang kita cintai ini,” ujar H. Lukman Hadi, salah seorang ulama yang cukup disegani di Bubutan, Surabaya.

Kepada wartawan, Haji Lukman Hadi, yang dikenal juga sebagai anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD) ini, menyampaikan kecaman atas aksi kekerasan atas nama islam terhadap jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten.

“Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan untuk menyelesaikan perbedaan keyakinan. Apa yang terjadi di Cikeusik adalah cara-cara barbar, yaitu cara-cara jahiliyah, dan Islam sangat memerangi hal tersebut, “ katanya.

Sementara Romo Gani menyoroti soal kejadian di Cikeusik dan Temanggung sebagai upaya untuk memecah-belah bangsa Indonesia. Ia juga menyesalkan tindakan pemerintah dan aparat keamanan yang seolah pasif saat kejadian berlangsung.

Lebih lanjut, Romo Gani menduga adanya upaya untuk menjadikan kasus kekerasan berbau SARA itu sebagai bentuk pengalihan isu terkait kasus mafia pajak dan ketidakmampuan pemerintahan SBY mengurus kesejahteraan rakyat.

Sementara itu, Samirin dari Partai Rakyat Demokratik (PRD) adanya tangan-tangan imperialisme dalam politik pecah-belah di Indonesia. “Sejak dulu bangsa Indonesia hidup dengan beragam suku, agama, dan aliran kepercayaan. Meskipun begitu, kita tetap bersatu di bawah panji bhineka tunggal ika,” katanya.

Samirin, yang sehari-harinya menjabat sebagai ketua KPK PRD Surabaya ini, menganggap pihak-pihak yang memprovokasi pertikaian antar keyakinan sebagai golongan anti-pancasila.

Gotong Royong Melayani Rakyat

Seruan bekerjasama dan saling membantu antar umat beragama tidak hanya sebatas pidato, tetapi Haji Lukman Hadi dan Romo Gani bersama-sama bersepakat akan saling bantu membantu dalam membantu dan melayani rakyat.

Salah satu wujud gotong-royong tersebut adalah kesiapan gereja dan jemaatnya untuk membantu mengajar di sekolah rakyat miskin, yang didirikan oleh Haji Lukman Hadi bersama dengan Serikat Rakyat Miskin Indonesia.

“Kami ingin memulai, seperti yang saya katakan tadi kami mencoba membantu pengajaran pendidikan pada taman pendidikannya Abah–panggilan akrab Haji Lukman, jadi bisa lebih kongkret dan tidak hanya selebrasi saja,” kata Romo Gani.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut