Universitas Dan Kaum Pencari Kerja

Tjipto muda menolak untuk menjadi pegawai ambtenaar. Dalam nalurinya sebagai pemuda yang ingin mengabdi kepada rakyat, ia memilih menjadi masuk STOVIA dan berharap menjadi dokter bagi rakyatnya. Mengantongi ijazah dokter pada 1905, Tjipto kemudian ditugasi di Banjarmasin dan Demak, bahkan pernah memberantas wabah pes di Malang. Tapi, Tjipto bukan sekedar seorang dokter, ia juga adalah seorang jurnalis dan terjun langsung dalam pergerakan politik melawan koloniaisme.

Sekarang, kita sangat sulit menemukan adanya Tjipto-Tjipto muda. Saat mendaftar di Universitas atau sekolah tinggi, orang biasanya memilih jurusan berdasarkan pertimbangan kemudahan mencari pekerjaan dan penghasilan yang tinggi. Bukan rahasia pula bahwa peminat jurusan eksakta lebih besar ketimbang non-eksakta.

Di tengah-tengah masyarakat kapitalis, persoalan pendidikan tidak bisa dilepaskan dengan lapangan pekerjaan. Setinggi apapun pengetahuan dan status pendidikan anda, jika tidak mendapatkan pekerjaan yang sesuai, maka pengalaman belajar selama bertahun-tahun itu dianggap gagal. Ukuran berhasil dan tidaknya orang bersekolah bukan lagi diukur dari seberapa banyak pengetahuan yang diserap, melainkan sejauh mana ia bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.

Karena ulah kapitalisme pula, pembukaan jurusan dan mata-kuliah disesuaikan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja. Jika pasar tenaga kerja memerlukan banyak tenaga elektro, maka dibukalah sebanyak-banyaknya jurusan elektro dengan masa studi yang dipersingkat. Tinggi-rendahnya “bargain” tenaga kerja di pasar tenaga kerja juga mempengaruhi persaingan di sekolah-sekolah tinggi atau Universitas.

Akan tetapi, akibat dari penerapan pasar tenaga kerja yang fleksibel dan juga proses de-industrialisasi akibat neoliberalisme, maka barisan penganggur dari lorong-lorong Universitas pun makin bertambah besar. Data dari Universitas Brawijaya Malang memperkirakan jumlah sarjana menganggur di Indonesia mencapai 2,6 juta orang. Sementara data resmi pemerintah menyebutkan angka yang lebih kecil dari itu. Ada yang mengatakan, “jumlah keluaran Universitas yang menganggur setiap tahunnya mencapai 60%, sedangkan yang terserap lapangan kerja hanya 37%.”

Dengan barisan panjang “kaum terpelajar yang menganggur”, orang-orang pun bertanya: Jika nantinya kita tetap menganggur, lantas untuk apa kita bersekolah tinggi-tinggi? Bersekolah atau belajar bukan lagi dipandang sebagai alat untuk mencerdaskan bangsa, tetapi hanya dianggap sebagai “tahap untuk mencari pekerjaan”.

Dulu, si ekonom John Kenneth Galbraith pernah berkata: “rakyat di dunia ketiga mestinya mendapatkan pendidikan umum sebelum mendapatkan pendidikan kejuruan. Karena hanya dengan pendidikan umum orang miskin mendapatkan “pintu masuk untuk memahami realitas sosialnya, memahami penyebab kemiskinannya, dan mencari jalan keluarnya.”

Kita harus mencamkan kembali, sebagaimana juga ditegaskan dalam pembukaan UUD 1945, bahwa salah satu tujuan nasional kita sebagai bangsa adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu, kita perlu menarik kembali fungsi Universitas agar tidak sekedar menjadi penyedia robot bagi industri kapitalis, tetapi yang terpenting adalah melahirkan manusia Indonesia yang cerdas dan siap bekerja untuk memajukan bangsanya.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut