Menulis Sebagai Senjata Kaum Perempuan

Malulah aku terhadap keangkaraanku, aku renungi dan pikirkan keadaanku sendiri, dan diluar sana begitu banyak derita dan kemelaratan melingkungi kami! Seketika itu juga seakan udara menggetarkan oleh ratap tangis, erang dan rintih orang-orang disekelilingku………”

Kutipan diatas merupakan Surat Kartini terhadap teman Eropanya, Estell “Stella” Zeehandelaar, 8 April 1902. Sebuah tulisan yang tidak hanya mampu menggoyahkan sistem feodalisme kala itu, tetapi juga mampu membangkitkan semangat kaum perempuan untuk bergerak menuju emansipasi, menuntut keadilan yang telah lama terkungkung dalam penjara kebisuan tanpa tersentuh sedikitpun oleh dunia luar.

Hidup didalam pingitan tidak membuat api semangat Kartini padam dalam membela kaumnya, terutama perempuan, agar terlepas jeruji besi dan tembok tinggi feodalisme. Lewat tangannya yang sangat gemulai, Kartini ‘bergerilya’ melawan bangsa kolonial dan tradisi “manut” yang sangat mengekang tubuh perempuan kala itu. Melalui tulisan, Kartini mengusik sistem yang menindas itu. Sekaligus menyadarkan kaumnya agar berani menuntut haknya dan diakui setara secara sosial.

Jika kita merujuk kepada tema diatas, perlu ditekankan bahwa pena dan perempuan seharusnya menyatu, sebagaimana ditunjukkan oleh Kartini dan tulisan-tulisannya. Selain kekuatan maknanya yang bisa memperkaya peradaban, tulisan juga bisa menjadi ‘mulut kedua’ untuk menyuarakan tuntutan kaum perempuan.

Sistem feodalisme yang sudah mendarah-daging dan turun temurun membuat perempuan terkurung di ruang domestik rumah tangga.Ditambah lagi, secara psikologis perempuan cenderung mengutamakan hati dan perasaannya, sehingga kesulitan dalam mengungkapkan apa yang dialaminya. Dominasi budaya patriarkhi, yang menempatkan perempuan di bawah laki-laki dalam struktur sosial, membuat perempuan kesulitan mengaktualisasikan semua kekuatan dan potensi yang dimilikinya.

Ruang yang terbatas itulah yang membuat gerak perempuan sangat terbatas. Hal ini memungkinkan terjadinya ketimpangan dalam melakukan relasi sosial dan relasi komunikasi, yang pada gilirannya mengakibatkan hampir setiap aspirasi yang menyangkut permasalahan perempuan sulit disuarakan dan didengarkan.

Sekarang, seiring dengan kebangkitan gerakan emansipasi, kaum perempuan terus menuntut kehadiran di ruang-ruang sosial, ekonomi, politik, pendidikan, dan kebudayaan. Perempuan juga menginginkan kesetaraan dalam segala hal; menginginkan dihapuskannya segala bentuk dominasi dan eksploitasi dalam masyarakat; serta mengingingkan dipandang sebagai manusia yang sederajat dengan laki-laki di tengah masyarakat.

Dalam hal ini, sastra bisa menjadi media yang tepat yang menurut penulis perempuan dapat mendobrak tembok yang mengungkungnya. Bisa melalui cerpen, artikel, opini, puisi dan lainnya. Seperti halnya Kartini: dia menyuarakan jeritannya melalui tulisan ketika dalam pingitan, seolah ia tak kehabisan akal atau ide untuk menyerukan pembebasan atau perubahan untuk rakyatnya. Dengan menulis (juga membaca), Kartini bisa berkenalan dengan dunia modern. Tulisan-tulisannya mampu menghantarkan Kartini pada kebebasan dunia luar. Tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk manusia sebangsanya dalam mendapatkan kemerdekaan.

Simone De Beauvoir, penulis sekaligus aktivis feminis asal Perancis itu, pernah bilang begini: “sastra adalah situs yang sangat penting, sebab melalui sastra dapat terungkap berbagai fenomena tentang perempuan” (Ahyar Anwar, 2009).

Simone De Beauvoir benar. Tulisan bisa dijadikan sebagi respon terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi oleh kaum perempuan dan rakyat. Seperti dikatakan Kartini sendiri, “menulis adalah tugas sosial.” Selain sebagai sarana menampilkan diri dan pemikiran, tulisan juga bisa menjadi senjata kaum perempuan untuk menggugat dominasi patriarkhi.  Oka Rusmini, misalnya, melalui Novel berjudul “Tarian Bumi”, menyuarakan banyak persoalan perempuan, seperti soal seks, tubuh, ketimpangan gender, perlawanan terhadap patriarki, hingga isu lesbianisme.

Banyak penulis perempuan muncul sebagai tokoh berpengaruh melalui tulisan di berbagai bidang, seperti politik, sosial, budaya, ekonomi, filsafat, dan lain-lain. Melalui teks, seorang perempuan maupun laki-laki, entah dengan gaya berbeda, bisa melepaskan keterkungkungan dan belenggu dirinya.

Singkat cerita, di tengah kungkungan sistem yang menindas, yakni feodalisme dan kapitalisme, menulis bisa menjadi sarana bagi kaum perempuan untuk bertindak dan merepresentasikan tubuh, perasaan, dan sikap politiknya. Menulis adalah manifesto kesadaran diri dan sosial seseorang.

Saya kira, melalui tulisan perempuan bisa merintis jalan pembebasannya. Dia bebas mengekspresikan semua pengalaman, kesadaran, dan segala hal yang hendak disuarakannya.  Termasuk mengkonstruksi dunia imajinasi tanpa adanya batas-batas yang mengelilingi ruang geraknya.

Rini, kader Partai Rakyat Demokratik (PRD) kota Pematangsiantar.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut