LMND Lampung: Pilpres 2014 Harus Menangkan Cita-Cita Kemerdekaan!

Jumat (27/6) pagi, sekitar pukul 09.00 WIB, puluhan aktivis mahasiswa dari berbagai kampus yang tergabung dalam Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Eksekutif Kota Bandar Lampung melakukan aksi longmarch sepanjang Jl. Raden Intan menuju Tugu Adipura.

Dalam aksinya massa aksi LMND ini mengusung spanduk bertuliskan: “Pilpres 9 Juli 2014 Menangkan Cita-Cita Kemerdekaan; Usir Penjajah Asing/Imperialisme; Laksanakan Pasal 33 UUD 1945; Tegakkan Keadilan Bagi Rakyat Korban Konflik Agraria di Rembang, Karawang & Pesisir Barat”.

Selain itu, massa aksi juga menggelar aksi teatrikal jalanan. Hampir semua peserta aksi mengecat tubuhnya dengan cat berwarna merah dan bertuliskan “Sila 3 Persatuan Indonesia” di bagian punggungnya.

Tak hanya itu, mereka juga memerankan berbagai kondisi kesulitan yang masih terus dialami oleh begitu banyak rakyat Indonesia, namun luput dari perhatian karena momentum Pilpres, seperti kasus petani yang selalu dirampas tanahnya, buruh yang disunat upahnya, PKL yang digusur lapaknya, TKI yang disiksa negeri orang, danmahasiswa yang dihisap biaya pendidikan yang mahal.

Ricky Satriawan, yang menjadi coordinator lapangan aksi ini, mengatakan,“kami menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk tidak hanyut dibutakan oleh kampanye hitam yang memancing konflik horizontal hanya karena membela pilihan capresnya saja, tetapi kita harus mengedepankan kampanye positif, harus mengutamakan mandat sila ke-3 Persatuan Indonesia, dan memajukan momentum Pilpres 9 Juli mendatang sebagai kemenangan sejati rakyat Indonesia yang berhasil mendesak komitmen dan konsistensi pemerintahan baru untuk membangun negara yang mandiri, berdaulat, adil, dan makmur.”

Sementara ketua LMND Kota Bandar Lampung, Rizmayanti, bilang, “masih ada waktu agar kedua pasangan Capres untuk kita desak agar tidak saling menghujat kekurangan masing-masing, namun mendesak mereka agar berpikir keras tentang bagaimana mewujudkan pemerintahan yang mandiri dan berdaulat.”

Menurut Rizmayanti, imperialisme sudah terlalu lama mennghisap kekayaan alam Indonesia. Di saat bersamaan, kata dia, rakyat dipaksa menjadi budak di negeri sendiri.

“Negara ini sudah bangkrut APBN kita tak sanggup membiayai kesejahteraan rakyat karena dikorupsi. Jumlahnya juga kecil karena cuma mengandalkan pajak rakyat. Sementara utang luar negeri kita terus melambung sampai tiga ribu triliun rupiah. Komitmen terhadap persoalan seperti ini yang mestinya jadi ukuran bagi kita untuk memilih capres secara objektif,” tandasnya.

Reza Fadlie, orator lainnya, mengatakan, “kita juga harus lebih objektif melihat kenyataan-kenyataan pahit berupa penderitaan rakyat atas kesewenangan penguasa lalim dan aparat sebagai contoh konflik agraria perampasan tanah rakyat oleh perusahaan penindas dan aparat keji, seperti di Rembang (Jawa Tengah), Karawang (Jawa Barat), dan Pesisir Barat (Lampung).

Selain itu, tambah dia, masih banyak persoalan mendasar yang mesti dijawab dan dituntaskan oleh pemerintahan baru.

Dalam aksinya, LMND mengusung sejumlah tuntutan yang mendesak dituntaskan oleh pemerintahan mendatang, yakni pencabutan UU Sisdiknas dan UKT, pembatalan BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, penghapusan sistim outsourcing dan politik upah murah, pelaksanaan agenda reforma agraria nasional, dan peningkatan subsidi BBM, listrik, pupuk, pendidikan, kesehatan, serta kesejahteraan sosial.

Dalam tuntutannya, LMND juga menuntut pemerintahan baru berani menasionalisasi aset kekayaan alam dari tangan asing, menghapus utang luar negeri, dan memberantas korupsi.

Aksi ini berlangsung sampai pukul 11.20 WIB, massa aksi membubarkan diri setelah menyanyikan lagu darah juang sebagai refleksi atas perjuangan rakyat Indonesia yang harus dituntaskan.

Devin Prastyia

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut