Surat Eva Bande Dari Penjara Untuk Petani Karawang

Eva BandeDoa dan Salam Untuk Petani Karawang

Hormat dan Solidaritas terkuat untuk kalian, Kaum Tani Indonesia, yang terus berjuang tanpa lelah. Terkhusus untuk Petani Karawang, teriring salam duka atas tersayatnya hati kalian. Kesabaran dan keberanian kalian benar-benar telah terbuka ujiannya. Karena harus berhadapan dengan ‘buasnya’ aparatur negara mengawal kepentingan modal.

Sejarah mencatat, bahwa rakyat Karawang adalah pejuang-pejuang kemerdekaan. Perjuangan semesta pembebasan telah kalian lakukan lagi dalam alam ‘merdeka.’ Teguhlah pada perlawanan terhadap Imperialisme ‘bangsa sendiri.’

Kembali untuk kesekian kalinya, aparatur negara Indonesia mempertontonkan perilaku biadab menghadapi rakyat. Pengurus negara yang pakaian, gaji, kendaraan dan segala peralatan tempur yang dibeli dari cucuran keringat rakyat itu dipakai untuk mengusir kaum tani dari ruang hidupnya. Alat kekerasan yang disediakan untuk melindungi dan melayani rakyat, justru digunakan untuk menembak rakyat.

Rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara. Seolah menjadi peribahasa kosong makna. Segala diksi patriotisme, sekedar menjadi ungkapan pemanis telinga dalam perlombaan calon-calon penguasa di tanah air ini.

Penjara negara yang sedianya dimanfaatkan untuk menghukum koruptor, penjahat, dan aparatur yang menghianati mandat rakyat melalui undang-undang dipakai untuk membungkam dan menghentikan langkah dan gerak perjuangan rakyat.

Rakyat yang sungguh-sungguh rakyat, bukan tuan-tuan modal, tuan-tuan penguasa pendusta amanah.

Rasa sedih, marah, duka, teriakan, kutukan dan semua yang sejenis ini tidak lagi cukup untuk menegur apalagi menyadarkan penguasa negeri ini, duhai saudara-saudaraku. Penderitaan dari abad ke abad, duka sedih, tangisan, darah yang menetes di bumi persada ini mengusir Kolonialisme-Imperialisme nyata-nyata telah menegakkan NKRI. NKRI dengan demikian adalah buah pengorbanan kaum tani, buruh, dan kaum terpelajar. Semua itu nyata terbukti-niscaya terjadi, meski hanya ‘bambu runcing’.

Ya, semua itu karena rakyat bersatu. Rakyat dari berbagai pelosok negeri yang berada dalam satu naungan amanah penderitaan rakyat.

Lalu, apa yang ditunggu lagi saat ini? Penderitaan, darah, air mata, belumkah cukup untuk membangun persatuan rakyat semesta tanah air. Merebut kembali hak hidup kita, menegakkan kedaulatan rakyat sejati dengan pemimpin-pemimpin sejati yang terlahir dari ‘rahim’ rakyat.

Sekarang saatnya persatuan rakyat dinyatakan dengan sikap, sekali lagi dengan sikap-tindak, bukan sekedar selogal perlawanan, bersatulah,  bersatulah. Lakukan segera Persatuan Pembebasan Nasional.

Ayo tumbangkan segera rezim pendusta, penghianat, fasis, neolib. Bangun Indonesia baru yang berdiri di atas amanah penderitaan rakyat.

Wahai kaum Tani Indonesia, bangun..bangun…bangun…bangunlah jiwa raga kalian, rapatkan barisan, tumbangkan rezim bar-bar ini. Sudahilah kezaliman mereka. Sudahilah penderitaan rakyat. Jangan warisi lagi penderitaan kepada anak cucu kita kelak.

Wahai kaum Tani Indonesia, jangalah terpecah-pecah. Satukan jiwa-sikap-kekuatan-komando kalian. Cukuplah. Sekarang bertindak! Terlalu lama kalian dijadikan alat penguasa pembangkang di negara ini.

Wahai Kaum Tani Indonesia! Jangan lagi ada rasa takut, sebab itulah kelemahan kita selama ini. Teruslah berjuang, kalian ada soko guru negara ini. Tulang punggung jalannya kehidupan bangsa ini. Tumbangkan rezim neoliberalisme! Ayo penuhi jalan-jalan kota duduki kembali tanah-tanah kalian. Yang selama ini diambil sewenang-wenang oleh mereka.

Bungkam-ikat-kurung kembali para komprador itu dan para tuan-tuan yang telah merampas tanah kalian. Hadapi dan singkirkan mereka laksana membuang jauh ke dalam belantara hutan yang penuh dengan segala kengerian. Sebagaimana mereka telah merampas dan mengusir dari tanah-tanah kalian.

Doaku dan spirit persatuan terkirim dari balik jeruji besi ini. Tetap teguhlah saudaraku Kaum Tani Karawang. Teguhlah dalam perjuangan sejati kaum tani. Dari balik jeruji ini seruan dan semangat kukirim berjuta-juta hebatnya untuk kalian. Penguasa di sini, sama pula ditempat lain, memenjarakan kami yang menolak tanah dirampas.

Berlawanlah saudaraku, kaum Tani seantaro negeri, sebentar lagi akan menjemput kebahagiannya. Dengan segenap jiwa raganya bersama kalian tani Karawang.

Salam Pembebasan,

Penjara (Lapas II) Luwuk Banggai Sulawesi Tengah

26 Juni 2014

Baca sekilas perjuangan Eva Bande di sini 

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut