Mengakhiri Kediktatoran Dollar?

Mantan Menteri Koordinator Bidang Kebijakan Ekonomi Ekuador, Prof. Dr. Pedro Paez Perez, dalam kunjungannya ke Jakarta baru-baru ini, mengatakan bahwa dunia tidak dapat lagi menerima kekuatan ekonomi unilateral. Kekuatan unilateral yang dimaksudkan Pedro Paez di sini adalah imperialisme AS.

Pedro Paes, yang juga anggota Komisi Stiglitz untuk penanganan krisis ekonomi dan finansial global, menyimpulkan bahwa sistem kuno itu sudah terbukti rawan, memicu ketidakpastian dan ketidakstabilan, serta menyimpan resiko finansial.

Salah satu bentuk dari sistim tua itu, dari sekian banyak contoh lainnya, adalah dominasi imperialisme AS melalui mata uang bernama dollar. Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar keuntungan ekonomi AS, terutama dari sektor keuangan, adalah karena peranan dollar sebagai mata uang cadangan dunia.

Dengan keberhasilan memaksakan apa yang disebut “standard dollar”, Amerika Serikat telah berhasil mengambil keuntungan dari aktivitas perdagangan dunia, dapat membiayai defisit kembarnya ( anggaran dan transaksi berjalan), dan menjadikan politik dollar untuk mengontrol perekonomian negara-negara lain.

Sejak dua dekade yang lalu, menurut Matthias Chang, seorang kontributor di Global Research, elit keuangan global telah membagi dua kerangka kerja perekonomian dunia, yaitu: (1) derivatif global—berbasiskan sistem keuangan, dikendalikan oleh US Federal Reserve Bank dan asosiasi bank-bank negara maju, (2) relokasi produksi barang dari barat ke timur, khususnya produksi barang, terutama ke China, India, Asia timur, dan lain-lain.

Ketika industri manufaktur AS tidak lagi berjaya seperti di “era keemasan”, tetapi sektor pasar finansial telah sedikit menyelamatkan dan mempertahankan hegemoni negeri tersebut, yang disokong pula oleh peranan dollar sebagai “mata uang cadangan”.

Negara-negara dunia ketiga, seperti Indonesia, meskipun punya banyak cadangan dalam bentuk dollar, tetapi tidak bisa menggunakannya karena kita harus tetap mempertahankan diri dari resiko serangan spekulasi (finansial). Jadinya, uang yang sejatinya didapatkan dari keuntungan ekspor itu, karena dipaksa untuk menjaga stabilitas moneter, tidak bisa dipergunakan untuk menciptakan lapangan pekerjaan, membiayai pendidikan, dan lain-lain.

Selain itu, dengan penggunaan dollar, AS punya kesempatan untuk mengekspor krisis kepada negara-negara berkembang. Utang luar negeri dunia ketiga juga berlipat ganda karena politik dollar ini.

Akan tetapi, dalam beberapa tahun terakhir, keperkasaan dollar Amerika yang sudah berkuasa 60-an tahun makin mengarah pada kontradiksi internal: penggunaan dollar AS oleh kebanyakan bank sentral dalam memegang cadangan devisa telah jauh melebihi rasio produksi AS terhadap produksi dunia. Selain itu, penggunaan dollar AS dalam transaksi perdagangan dunia tidak seimbang dengan rasio volume perdagangan AS terhadap perdagangan dunia.

Sekarang ini, ide untuk menggantikan kediktatoran dollar semakin meluas, seperti kelompok negara-negara Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO), negara-negara Amerika Selatan, dan sejumlah negara bekas Uni-Soviet. Seruan untuk bergeser dari mata uang dollar ke mata uang regional atau kawasan juga semakin meningkat. Iran, misalnya, mulai menuntut Jepang membayar minyaknya dalam bentuk yen, bukan dengan dollar.

Indonesia, sebagai salah satu negara yang selama ini menjadi korban paling buruk dari imperialisme, termasuk spekulasi dan beban utang luar negeri, sudah saatnya meninggalkan mata uang dollar dan mulai mendorong penggunaan mata uang alternatif.

Kita tidak bisa lagi membiarkan sebuah sistim ekonomi membunuh mata uang kita, lalu memaksa kita menganut “dolarisme”. Kami sepakat dengan Prof. Pedro Paez, bahwa “Kini tiba waktunya bagi kita untuk menjamin masa depan kita sendiri. Kita harus menciptakan stabilitas finansial, stabilitas ekonomi, stabilitas pangan, dan stabilitas pasar, dengan tangan kita sendiri. Kita tidak dapat lagi terus mengorbankan diri kita sendiri, dan mengorbankan banyak sumber daya internasional karena ketakutan kita akan oligarki ekonomi yang kini telah basi.”

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • buceboimau

    sangat setuju dan kini saatnya indonesia mengangkat harga diri sendiri.