Haji Merah dan Islam Komunis

Seorang Haji menaiki podium. Ia segera memperkenalkan diri: “Saya bukan Haji, tapi Mohammad Misbach, seorang Jawa, yang telah memenuhi kewajibannya sebagai muslim dengan melakukan perjalanan suci ke Mekah dan Medinah.

Saat itu, awal Maret 1923, adalah Kongres Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Sarekat Islam (SI) di Bandung. Kongres itu juga dihadiri oleh dua komunis dari Sumatera Barat, yaitu Haji Datuk Batuah dan Natar Zainuddin. Haji Datuk Batuah dan Natar Zainuddin terkagum-kagum dengan pidato Misbach itu.

Meskipun bergelar Haji dan sudah pernah ke tanah suci, tapi Misbach tidak pernah mengenakan sorban ala Arab ataupun Peci ala Turki. “Misbach hanya mengenakan tutup kepala dan bergaul dengan rakyat apa saja,” kata Natar Zainuddin menceritakan tentang Misbach.

Misbach adalah seorang mubaligh berpendidikan pesantren. Ia dilahirkan di Kauman, Surakarta, sekitar tahun 1876, dan dibesarkan sebagai anak seorang pedagang batik yang kaya raya. Mas Marco Kartodikromo, teman seperjuangannya, menggambarkan Misbach sebagai seorang yang ramah dan teguh kepada ajaran islam.

***

Dalam kongres itu, Misbcah jadi bintang. Ia tampil memukau di kalangan cabang-cabang PKI dan SI merah, terutama mereka yang bercorak agamis.

Ketika baru memulai uraiannya, Haji Misbach langsung menusuk ke jantung persoalan. Ia berusaha menguraikan kesamaan kesamaan prinsip antara Qur’an dan Komunisme. “Quran, misalnya, menetapkan bahwa merupakan kewajiban setiap muslim untuk mengakui hak azasi manusia, dan pokok ini juga ada dalam prinsip-prinsip program komunis.”

Ia juga mengatakan, perintah Tuhan adalah kita harus berjuang melawan penindasan dan penghisapan. “Ini juga salah satu sasaran komunisme,” kata Misbach lebih lanjut.

Gagasan inilah kemudian yang disebut Islam-Komunis. “orang yang mengaku dirinya islam tetapi tidak setuju adanya komunisme, saya berani mengatakan bahwa mereka bukan islam yang sejati, atau belum mengerti betul-betul tentang duduknya agama islam,” kata Misbach.

Lama berbicara soal kesamaan komunisme dan islam, Misbach berganti topik. Ia mulai menyerang HOS Tjokroaminoto, pendiri Sarekat Islam dan sekaligus bekas teman seperjuangannya semasa masih di SI.

Misbach menganggap SI di bawah pimpinan Tjokro telah memecah-belah gerakan rakyat dengan memberlakukan disiplin partai. Ia mengisahkan sebuah pertemuannya dengan Tjokro di atas kereta api, dimana pemimpin SI itu mengaku bahwa ide “disiplin partai” muncul atas kehendaknya.

Suara-suara teriakan peserta kongres pun terdengar keras. “Tjokro mau jadi raja! Uang SI kemana piginya (perginya)!” teriak seorang peserta kongres yang marah.

Bukan itu saja, Misbach juga menuding CSI, organisasi yang dibidani oleh Tjokro, telah bersekongkol dengan Muhammadiyah. Misbach menganggap organisasi yang didirikan oleh K.H Ahmad Dahlan itu sebagai perkumpulan kapitalis, yang ketundukannya memang kepada kapital.

Di tengah-tengah Misbach mengeritik Tjokro dan SI, tiba-tiba seorang pemuda berusia belasan tahun naik ke podium. Pemuda itu adalah Sukarno, seorang murid Tjokroaminoto, yang kelak menjadi Presiden pertama Republik Indonesia.

Sukarno meminta agar Haji Misbach segera meminta maaf kepada Tjokro karena telah melancarkan serangan bersifat pribadi kepada gurunya tersebut. Tjokro sendiri tidak hadir dalam kongres tersebut, tapi diwakilkan kepada Sukarno.

“Apakah tindakan seperti ini sesuai kesucian seorang ksatriya?” tanya Soekarno kepada Haji Misbach. Misbcah mengatakan bahwa ia tidak bermaksud menyerang atau melukai hati Tjokroaminoto, tapi sekedar menjelaskan sikap pemimpin CSI itu kepada umum. Misbach kemudian meminta maaf kepada kongres.

Dalam biografinya yang ditulis oleh Cindy Adams, Soekarno: penyambung lidah rakyat Indonesia, Sukarno mengaku bahwa saat itu dia sudah berbeda pandangan politik dengan gurunya itu, namun ia tetap menjaga hubungan baik. “Orang Asia tidak menemui kesukaran untuk membedakan ideologi dengan peri-kemanusiaan.”

Soekarno menganggap Haji Misbach telah melakukan serangan serampangan terhadap Tjokroaminoto.

Menurut Takashi Shiraisi, penulis buku Zaman Bergerak, pemahaman Sukarno terkait serangan Haji Misbach terhadap Tjokro itu bersifat sembarangan. Pasalnya, menurut pakar sejarah Universitas Kyoto itu, serangan Misbach tidak ada sangkut-pautnya dengan Tjokro sebagai ksatria, melainkan keputusannya yang telah memberlakukan disiplin partai dan persekongkolan CSI dengan Muhammadiyah.

***

Haji Datuk Batuah dan Natar Zainuddin terus terperangah ketika Misbach berpidato. Penjelasan tentang islam dan komunisme begitu memikat hatinya.

Segera setelah keduanya sudah kembali ke Sumatera Barat, mereka langsung menyiarkan pandangan-pandangan Misbach itu. Di Padang Panjang, ketika itu, sudah berdiri sebuah perguruan islam modernis, yaitu Sumatra Thawalib.

Salah satu pendiri perguruan ini, yaitu Zainuddin Labai, adalah pengagum berat bapak gerakan nasionalis Turki, Mustafa Kamal (Kamal Attaturk). Ia menerjemahkan biografi Kamal dan mengajarkannya di sekolah Diniyyah. Meski berfikiran radikal, Zainuddin menentang muridnya menyerap ide-ide sekuler dan komunis, yang saat itu sedang digandrungi.

Haji Datuk Batuah segera berpropaganda soal islam dan komunisme di perguruan islam itu. Kebetulan, di dalam perguruan Thawalib itu sudah ada seorang komunis, yaitu Djamaluddin Tamin, yang kelak menjadi ketua Sarekat Rakyat dan pendukung Tan Malaka.

Ia bekerjasama dengan Haji Datuk Batuah mendirikan koran “Pemandangan Islam”, yang mengulas banyak soal keislaman, komunisme, dan perjuangan anti-kolonialisme dan anti-kapitalisme. Sedangkan Natar Zainuddin, yang kembali ke Sumatera Barat pada tahun 1923, segera meluapkan gagasan Islam Komunis melalui korannya: Djago! Djago!

Aktivitas Haji Batuah dan Natar Zainuddin tidaklah terlalu lama. Sebab, dua bulan setelah kepulangannya dari kongres PKI di Jawa, satu detasemen polisi bersenjataBelanda datang untuk menangkap keduanya.

Penasehat pemerintan Belanda ketika itu, R.Kern, membuat pernyataan menggemparkan: “Walaupun asisten residen Whitlau sudah mengemukakan bahwa pergerakan perlawanan akan padam setelah tertangkapnya Datuk Batuah dan Natar Zainuddin, setelah enam bulan pasca penangkapan itu orang komunis malah makin banyak dari yang sudah-sudah.”

Kusno

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • bisa dibayangkan jika yang membaca ini orang-orang yang masih tertutup mata hatinya,dan fanatik pada ‘islamnya’,mereka tidak akan mudah menerima,meski kebenaran ini berasal dari sejarah yang nyata.

  • cokroaminoto, sukarno, kan perkuat muslimuun, indonesia, bila terutama mampu jadikan sekitar 70% jamaah masjid2 yg belum hafal terjemahan faatihah, dijadikan hafal, agar mudah bertaqwa, mampu mensejahterakan semua rakyat, memberantas korupsi dan kema’shiyyatan.

  • Surahman Afiah

    Bangsa kita saat ini memang telah “disuramkan” pandanganya akan sejarah. Kesannya, jadi ‘ga tau terimakasih’. Ga sadar apa?, KEMERDEKAAN yang saat ini kita nikmati, (walaupun masih banyak orang terjajah oleh bangsa sendiri), adalah buah dari pandangan NASAKOM bapak Revolusi kita, Ir Soekarno.

    Karena ‘suramnya pandangan’ itu, bangsa in nyatanya telah menjadi sarang ‘kebobrokan’..

  • hadiahnederland

    Rupanya memang banyak orang islam yng berhaluan komunis, yang anti penjajah.Padahal glm benak kita kalau orang itu komunis sudah jelas anti tuhan,anti islam dan harus dihabisin.Dlm persoalan palestina, orang2 komunis juga solider/simpati terhadap pembebasan palestina. Anehnya orde baru justru dng rekayasa nya yang tidak masuk akal mengatakan dan tetap menyebut komunis indonesia anti pergerakan islam (pembebasan palestina ) dan harus dibumi hanguskan. Aneh bukan ?Begitulah hebatnya general besar kita menggiring orang2 islam, atau kita2 ini menyembelehin orang2 komunis yng menyerah itu.Tanpa perlawanan sedikitpun.Kenyataannya jalan fikiran kita 2 ini dikaburkan.

  • dharma

    ini lah yang menjadi kesalahan terbesar bangsa ini,kita terlalu cepat di adu domba,,,,si A bilang komunis itu athies,,,anti tuhan tak beragama,,,yang lain iya iya,,,,sampai-sampai sebuah perkumpulan pengajian pun terbantai akibat kebodohon pemahaman kalau-kalau PKI itu anti tuhan,,,dedicated to talang sati victim

  • thecutecat

    Pelajaran yang bisa kita petik dari kisah ini… jangan jadi naif… Ulama pun bisa (dan sudah banyak) yang salah langkah…
    Pegangan umat islam itu alquran dan hadist.. Bukan asal ngikut satu ulama..
    Fanatik itu pada Nabi Muhammad dan ALLAH… Bukan pada satu ulama..