Presiden Ekuador Rafael Correa Menangkan Referendum

Hasil referendum rakyat Ekuador memperlihatkan dukungan kuat terhadap sejumlah reformasi luas yang ditawarkan Presiden Rafael Correa. Sekitar 51% hingga 57% pemilih dalam referendum itu memilih “YES” terhadap proposal Correa.

Refendeum itu mengajukan 10 pertanyaan, diantaranya tentang reformasi pengadilan, reformasi media, hak-hak narapidana dan larangan manusia berhadapan dengan banteng. Di atas segalanya, referendum itu menegaskan dukungan rakyat terhadap Presiden berhaluan nasionalis-kiri itu.

“Hari ini, kami membuat langkah penting menuju perdamaian, demokrasi, dan tanah air baru,” katanya dalam pidato setelah kemenangannya. Menariknya, dari 10 pertanyaan yang diajukan, sebagian dibubuhi penjelasan agar rakyat mudah untuk paham.

Kelompok oposisi menuding, reformasi pengadilan hanya akan memperbesar kontrol pemerintah dalam pengangkatan hakim. Mendapat tudingan itu, Correa hanya menjawab, “reformasi itu ditujukan untuk perbaikan sistim peradilan yang korup dan tidak efisien di Ekuador.”

Ekuador adalah salah satu negara berhaluan kiri di Amerika Latin, selain Kuba, Venezuela, Bolivia, Nikaragua, Paraguay, dan Uruguay. Pemerintahan Correa berusaha agar pengolahan sumber daya alam tidak dieksploitasi asing tetapi dipergunakan untuk rakyat. Ia juga mempromosikan program-program sosial.

Ia sering disebut nasionalis-kiri, ketimbang sosialis. Meksi begitu, ia terbilang sangat pemberani dan sangat anti-imperialis. Ia sangat berani menyuruh Amerika menghapus pangkalan militernya di Ekuador. Ia pernah mengeluarkan kata bercanda yang sangat pedas: “jika Pentagon ingin pangkalan militernya tetap bertahan di Ekuador, maka mereka harus mengijinkan pangkalan militer Ekuador di New-York.”

Mungkin, salah satu dari sekian penyebab, bahwa kudeta militer kanan terhadap dirinya pada Oktober 2010 lalu karena sikap kerasnya terhadap Amerika dan dukungannya kepada blok progressif Amerika Latin–ALBA.

Manipulasi Media Kanan Terhadap Hasil Referendum

Meskipun pada awalnya marjin antara “YES” dan “NO” mencapai 20%, tetapi laporan terakhir memperlihatkan bahwa angka itu makin tipis.

Rafael Correa menuding pihak oposisi telah memanipulasi hasil referendum dengan menunda proses penghitungan. Di provinsi-provinsi yang dimenangkan secara mayoritas oleh “YES’, pihak oposisi berusaha menghambat penghitungan.

Presiden Correa juga menuduh media-media borjuis yang korup berusaha menciptakan kebingungan di kalangan rakyat, dengan tidak melaporkan suara-suara yang sudah dihitung dan dimana “Yes” menang secara mutlak, seperti Guayas, Manabi, El Oro dan Los Rios.

Chavez mengucapkan Selamat!

Sehari setelah Correa dinyatakan memenangkan referendum, Presiden Hugo Chavez menelpon presiden progressif tersebut. “Hasil kemengangan ini adalah bukti tak terbantahkan bahwa rakyat Ekuador ingin melanjutkan pembangunan revolusi warga ala Rafael Correa,” kata Hugo Chavez.

Diantara kemenangan penting rakyat Ekuador itu, menurut Chavez, ialah pengaturan konten media yang membatasi partisipasi bank dalam kepemilikan media, dan juga soal reformasi pengadilan.

Chavez berencana berkunjung ke Ekuador dalam pekan ini, tapi harus ditunda karena ia sedang mengalami cedera di bagian lutut.

Rafael Correa, yang menyebut dirinya sebagai “humanis-kiri”, adalah sekutu utama Presiden Chavez di Amerika Latin. Kedua negara telah memperdalam kerjasama di bidang ekonomi, politik, dan bersolidaritas.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut