Memaknai Semangat Kepahlawanan

Apa yang membuat para pejuang itu rela mengorbankan nyawa? Bung Karno menjawab, “mereka (pejuang) rela mati karena sebuah ide.” Ide itu, kata Bung Karno, adalah negara nasional Indonesia, yang sudah diproklamasikan sejak tanggal 17 Agustus 1945.

Ide-ide luhur dan agung selalu menjadi lokomotif sejarah. Hanya ide-lah yang membuat orang rela berkorban, rela masuk penjara, rela dibuang, rela menaiki tiang gantungan, dan rela mati. Dan, bagi pejuang kemerdekaan, ide itu adalah Indonesia merdeka. Dan Indonesia merdeka ini hanya jalan untuk memerdekakan seluruh rakyat.

Bung Karno sendiri sering gembar-gembor, kemerdekaan Indonesia itu hanyalah jembatan emas untuk menyempurnakan masyakat. Di seberang jembatan emas itu, ujar Bung Karno, kita akan menyelenggarakan masyarakat adil dan sempurna, yang di dalamnya tidak ada lagi penghisapan dan penindasan.

Bung Karno pernah berpesan, “selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk pekerjaan belum kita selesai.” Artinya, selama masih ada rakyat kita yang tertindas, ide yang diperjuangkan oleh para pahlawan belumlah tercapai. Dengan demikian, mewarisi semangat kepahlawanan berarti melanjutkan memperjuangkan sebuah ide.

Sudahkah ide merdeka itu tercapai? Ya, kata-kata “merdeka” masih terus bergaung, tetapi merdeka sebagai sebuah ide sekaligus cita-cita makin tergerus. Mayoritas rakyat kita masih terperangkap dalam kemiskinan. Banyak rakyat kita yang masih terbelenggu kebodohan akibat biaya pendidikan yang makin mahal. Juga tak sedikit rakyat yang menjerit-jerit karena tak sanggup mengakses kesehatan.

Banyak yang beranggapan, zaman sekarang sudah berbeda dengan zaman revolusi kemerdekaan dulu. Zaman memang terus berkembang. Namun, satu hal yang patut dicatat, bahwa perjuangan tentang ide masa depan masyarakat yang lebih baik masih terus berlangsung.

Dengan demikian, makna kepahlawanan pun berkembang. Kepahlawanan tidak bisa dimaknai sempit, yakni mereka yang terlibat dalam perang kemerdekaan. Kepahlawanan harus dimaknai sebagai mereka yang memperjuangkan ide-ide tentang masyarakat yang lebih baik. Pahlawan masa kini adalah orang-orang yang berjuang bukan saja untuk dirinya, tetapi demi kebaikan masyarakat.

Mereka yang berjuang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, entah menyandang gelar guru secara formal atau tidak, adalah pahlawan. Sebab, mencerdaskan kehidupan bangsa adalah bagian dari cita-cita kemerdekaan. Selain itu, pengetahuan rakyat juga merupakan modal bagi kemajuan bangsa.

Dengan demikian, orang bisa menjalankan tugas kepahlawanan di lapangan manapun ia bekerja atau bidang profesinya. Asalkan, dalam lapangan pekerjaannya itu, ia bekerja bukan saja untuk dirinya, tetapi juga untuk orang banyak. Orang bisa melakukan tugas kepahlawanan di manapun ia berada.

Karena itu, bagi kami, kepahlawanan tak identik dengan pengorbanan tentara di medan peperangan. Sejarah mengajarkan kepada kita, tidak sedikit perang yang justru mencerminkan niat-niat reaksioner, seperti chauvinisme, keserakahan, dan nafsu primitif merampas sumber daya bangsa lain. Pantaskah kita menyebut mereka pahlawan?

Sebaliknya, tak sedikit orang yang gugur di luar medan peperangan. Diantara mereka adalah aktivis buruh yang berjuang untuk relasi ekonomi yang lebih baik; kaum tani yang menentang keserakahan tuan tanah dan pemodal; mahasiswa yang memperjuangkan demokrasi dan masa depan rakyatnya; perempuan yang membela hak-hak kaumnya; masyarakat adat yang mempertahankan komunitasnya.

Mereka ini kadang tak tercata sebagai pahlawan. Namun, seperti dikatakan sejarawan kiri Howard Zinn, mereka adalah pahlawan sebenarnya. Mereka menjadi pahlawan karena memperjuangkan sebuah nilai-nilai atau ide. Mereka memilih mengabdikan hidup untuk kepentingan yang lebih luas ketimbang berfoya-foya dalam kenikmatan pribadi.

Mungkin, bagi sebagian orang, tindakan mereka dianggap kecil. Kontribusi mereka tidaklah begitu signifikan. Namun, seperti dikatakan Howard Zinn, “tindakan-tindakan kecil, bila digabungkan dengan jutaan orang, dapat mengubah dunia.”

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut