Kurtubi: Nilai Cadangan Migas Dan Batubara Kita Rp 56 Ribu Triliun

Pengamat energi Kurtubi menaksir nilai cadangan minyak, gas, batubara yang terkandung dalam perut bumi Indonesia bisa mencapai Rp 56 ribu triliun. Sedangkan total APBN 2013 cuma RP 1.700 triliun.

“Itu baru dari tiga jenis tambang, yakni migas, gas, dan batubara. Belum termasuk tambang emas, tembaga, timah, nikel, bauksit, dan lain-lain. Betapa kaya-rayanya negara kita ini,” kata  saat menjadi pembicara dalam diskusi di kantor KPP-PRD, Jakarta, Jumat (19/11/2012).

Menurut Kurtubi, andaikan 10% nilai kekayaan di perut bumi itu bisa kita uangkan hari ini, misalnya melalui mekanisme pertukaran di pasar NYMEX, berarti Indonesia bisa punya uang sebesar Rp 5.600 triliun sekarang.

Dengan begitu, kata Kurtubi, kita tidak perlu lagi meminjam uang kepada kreditur di luar. Kita juga tidak perlu meminta bantuan modal asing. Kita bisa membangun infrastruktur dan ekonomi nasional tanpa harus meminjam.

“Ini terobosan kalau mau mensejahterakan rakyat,” tegasnya.

Bahkan, Kurtubi menyakinkan, dengan kekayaan itu, Indonesia bisa menyalip Malaysia dan Tiongkok dalam dua dekade kedepan. “Dengan pertumbuhan double digit pada dekade pertama, kita bisa menyalip Malaysia. Dengan pertumbuhan double digit pada dekade berikutnya, giliran Tiongkok yang kita salip,” katanya.

Hanya saja, Kurtubi pesimis hal itu bisa diwujudkan di era rejim SBY-Budiono. Tetapi ia sangat yakin hal itu bisa dilakukan kalau ada pemerintahan yang tegas, mandiri, berani, dan mengerti persoalan migas.

“Saya berharap, pasca 2014, muncul pemerintahan yang tegas, berani, mandiri, dan mengerti politik migas dan pertambangan,” ujarnya.

Kurtubi mengharapkan, pemerintahan progressif di masa mendatang segera mencabut UU migas dan membuat UU migas baru. UU migas baru ini harus menegaskan kontrol negara terhadap seluruh kekayaan alam, termasuk yang terkandung di dalam perut bumi Indonesia.

“Kekayaan alam  berupa cadangan di dalam perut bumi, termasuk minyak dan gas, harus dinyatakan sebagai milik negara,” tegasnya.

Klaim itu sangat penting, menurut Kurtubi, karena bisa saja diklaim oleh korporasi asing. Dan korporasi asing itu menggunakan cadangan kekayaan di perut bumi itu untuk meminta agunan kepada bank.

“Kalau dinyatakan milik negara, lalu cadangan itu dinyatakan dikelola, dibukukan, masuk dalam negara atau laporan keuangan BUMN, maka korporasi asing tidak bisa mengklaim ataupun menjadikannya agunan ke bank,” terang Kurtubi.

Kurtubi berharap, keberadaan Pertamina bisa dimaksimalkan pengembangannya agar menjadi National Oil Company (NOC) yang tangguh dan handal. “Kalau ada oknum yang korup, ya, silahkan diadili. Tapi jangan melemahkan BUMN-nya,” tegasnya.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut