Kronologis Penembakan Warga Morowali Oleh Polisi

Polisi kembali memuntahkan peluru untuk membunuh rakyat sendiri. Akibat tindakan tidak berperikemanusiaan itu, dua orang warga Morowali dilaporkan tewas dan enam lainnya mengalami luka parah.

Tidak hanya itu, Polisi juga menangkap 19 orang warga. Menurut laporan koresponden Berdikari Online Sulawesi Tengah, seluruh warga yang ditangkap sudah berstatus tersangka. Bahkan polisi menetapkan dua orang korban tewas sebagai tersangka.

Berdikari Online, sebagai media yang berpihak kepada kepentingan bangsa dan seluruh rakyat, merasa sangat penting untuk memuat kronologis kejadian ini. Ada banyak cerita versi korban yang tidak diungkap oleh media massa besar.

Hampir semua media massa besar menuding rakyat sebagai penyebab kerusuhan. Tetapi tidak satupun media yang menyinggung kelalaian perusahaan minyak, Pertamina dan Medco, dalam menjalankan operasinya di blok Tiaka.

Berikut kami sajikan kronologis versi korban alias rakyat.

20 Agustus 2011: Seratusan warga yang tergabung dalam Aliansi pemuda Mahasiswa dan Pelajar Peduli Rakyat Bungku Utara dan Mamosalato menggelar aksi massa di kilang minyak milik JOB Pertamina-Medco E&P Tomori di Teluk Tolo, Morowali, Sulawesi Tengah.

Awalnya aksi berjalan lancar dan aman. Di lokasi aksi tidak ada seorang pun petugas keamanan. Massa hanya melakukan orasi-orasi dan meminta kesempatan berdialog dengan direktur manajer PT. Medco. Tetapi pihak PT. Medco mengatakan bahwa sang direktur manajer sedang berada di Jakarta.

Masyarakat pun kecewa. Terpancing oleh sikap tidak bersahabat pihak Medco, warga pun membakar pos security Medco. Kemarahan rakyat ini pun berlanjut dengan aksi penyanderaan sebuah speed boat milik perusahaan.

Beberapa saat kemudian, warga kembali ke titik aksi semula, yaitu di desa Kolo. Sekitar pukul 16.00 WITA, ratusan warga kembali bergerak untuk melakukan aksi di kilang minyak blok Tiaka. Akan tetapi, di kilang minyak itu sudah bersiaga pasukan kepolisian. Warga pun berusaha bernegosiasi dengan aparat keamanan via handy talkie (HT).

Karena speed boat yang dipergunakan warga kehabisan bahan bakar, mereka pun meminta bahan bakar kepada perusahaan. Tetapi polisi menyuruh warga untuk merapat ke blok Tiaka dan disana baru diberi bahan bakar. Polisi juga menyatakan bahwa direktur komisaris PT. Medco sudah berada di tempat.

Tapi warga tidak percaya begitu saja dengan info itu. Warga pun memilih memutar arah dan kembali ke rumah masing-masing. Saat warga berbalik pulang, Polisi sempat melepaskan berkali-kali tembakan ke arah warga. Untung, tembakan polisi itu tidak mengenai seorang pun warga.

Dua hari kemudian, tepatnya 22 Agustus 2011, warga kembali menggelar aksi di kilang minyak PT. Medco di blok Tiaka. Tetapi pihak Medco tidak merespon aksi ratusan warga ini. Warga pun marah dan membakar tangki LND milik Medco.

Usia melakukan pembakaran, warga memilih untuk kembali ke rumah masing-masing. Akan tetapi, kali ini mereka dikejar oleh polisi dengan menggunakan speed boat. Polisi langsung melepaskan warga.

Satu orang warga terkena tembakan dan langsung di evakuasi menuju desa Kolo bawah. Lalu, sebuah speed boat yang dipergunakan warga kehabisan bahan bakar di tengah jalan. Mereka pun dihujani tembakan oleh pihak kepolisian. Sedikitnya enam orang  terluka parah dan satu orang tewas di tempat.

Satu orang lagi warga yang terluka parah tewas saat dilarikan ke Rumah Sakit. Sementara 19 warga ditangkap dan tidak diketahui nasibnya.

Menurut kesaksian korban, warga yang berada di atas speed boat sebetulnya sudah mengangkat tangan sebagai pertanda menyerah. Tetapi Polisi tidak menghiraukan isyarat itu dan terus menghujani tembakan.

Untuk diketahui, aksi rakyat Morowali ini dorong oleh tuntutan sederhana: pemenuhan hak rakyat berupa program community development, pemberdayaan tenaga kerja lokal, dan dana pendidikan. Seharusnya, jika perusahaan punya itikad baik, semua tuntutan itu masih bisa dinegosiasikan. Polisi juga tidak perlu bertindak “biadab” seperti itu. Toh, polisi tugasnya menjaga keamanan dan ketertiban, bukan menjaga kepentingan perusahaan dan membunuhi rakyat.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut