Kemacetan Ada Di Sekitar Kita..

Setiap kali menjelang akhir pekan, saya selalu kebingungan untuk menentukan tempat berlibur. Maklum, dengan status sebagai pengangguran, saya tidak punya banyak pilihan, apalagi niat berlibur ke luar negeri.

Meskipun Jakarta punya banyak tempat liburan yang tak kalah menariknya, tetapi perjuangan untuk mencapai tempat itu bukan perkara mudah. Salah satu persoalannya adalah soal transportasi. Orang menjadi malas untuk bepergian di dalam kota, sebab macet akan selalu menjebak.

Saya sendiri sering berlibur ke kota tua, sebuah kawasan wisata kota sejarah di kawasan Jakarta pusat, yang jaraknya mencapai 20 kilometer dari tempatku. Jika menggunakan kereta api ke sana, maka hanya diperlukan waktu paling lama 30 menit.

Selain menggunakan kereta api, kawasan bekas perkantoran VOC itu juga bisa dijangkau dengan memakai busway, yang memerlukan waktu jauh lebih lama dibanding kereta api. Belum lagi kalau terjadi kemacetan, waktu yang dihabiskan di jalan tentu akan lebih lama dari biasanya.

Kereta api memang jarak terjebak macet seperti alat angkutan lainnya, tetapi jumlahnya yang sangat terbatas membuat kita terkadang menghabiskan banyak waktu hanya untuk menunggu.

Salah satu penyebab kemacetan itu adalah jumlah kendaraan, baik kendaraan bermotor maupun roda empat. Jumlah penduduk Jakarta diperkirakan 9,5 juta jiwa, tetapi jumlah kendaraan yang ada telah mencapai 11.362.396 unit. Setiap tahunnya, jumlah kendaraan bermotor terus tumbuh rata-rata 10-15%, sementara pertambahan dan perpanjangan jalan hanya 0,01% tiap tahun. Dan, dari total kendaraan pribadi yang ada di jakarta, sebanyak 95% adalah kendaraan pribadi.

Mengenai tingkat kemacetan ini, sebuah survey dari Menko Perekonomian mengenai transportasi menyebutkan bahwa 60% waktu kita di perjalanan dihabiskan karena kemacetan.

Seorang teman saya dari Denmark pernah berkomentar, “Kalau melihat-lihat banyaknya kendaraan di Jakarta, orang Indonesia sepertinya tidak pernah terkena krisis. Hampir semua orang pasti punya mobil di kota ini.”

*****

Dulu, sekitar tahun 1890, warga Batavia sudah banyak yang menggunakan sepeda sebagai alat transportasi. Dengan jalan yang masih sepi dari kendaraan beroda empat, juga diapit oleh pepohonan yang berbaris di pinggir jalan, menggunakan sepeda tentu menjadi sangat menarik.

Pedagang sepeda pertama seorang Belanda bernama Gruyter. Tokonya terletak di Gambir — dekat Monas sekarang. Pada awalnya, yang paling banyak menggunakan sepeda adalah orang Belanda dan Tionghoa.

Jika kota London, Inggris, sekarang menggalakkan penggunaan sepeda, maka Batavia sudah dipenuhi dengan sepeda sejak 1930-an. Pada tahun 1937, kendati jumlah penduduk Batavia masih 500-an ribu orang, tetapi jumlah sepeda sudah mencapai 70 ribuan.

Pada masa itu, ada ketentuan bahwa pengguna sepeda pada malam haris harus membawa obor sebagai penerang jalan, dan tidak akan kena denda. Selain sepeda, kendaraan umum lainnya adalah delman dan trem.

Orang-orang pribumi utamanya menggunakan delman, tetapi ada juga yang menggunakan trem untuk bepergian. Tapi, konon kabarnya, ada diskriminasi antara orang eropa dan pribumi kalau menggunakan trem.

Setelah Indonesia merdeka, kendaraan seperti trem semakin mendominasi kota Jakarta, dan tarifnya pun sangat murah, yaitu 10 sen. “Dulu, banyak yang gratisan kalau naik trem. Kalau sekaran kita tidak bayar, kita pasti akan diturunkan,” ujar Pak Sasmito, seorang bekas Angkatan Laut di masa revolusi.

***

Soekirno, yang datang ke Jakarta sejak tahun 1970-an, mengaku bahwa kemacetan kota Jakarta sekarang ini sudah pada “tahap genting”.

“Dulu sih memang sudah ramai, tetapi macetnya belum seperti sekarang. Motor belum sebanyak sekarang. Dulunya motor ini merupakan barang mahal,’ katanya sambil menunjukkan motor Honda C-90-nya kepada saya.

Soekirno sendiri mengaku sudah punya dua motor sebagai pengganti motor tuanya, dan keduanya diperoleh dengan jalan kredit. Satu motor berjenis Yahama Mio dipergunakan anaknya yang sekolah di SMA, sedangkan satunya lagi motor jenis zuzuki shogun dipergunakan untuk ‘ngojek”.

Pertumbuhan pesat jumlah kendaraan di Indonesia dipicu oleh kredit motor dan mobil yang sangat mudah dan murah. Hanya saja, untuk mengatasi persoalan kredit motor dan mobil ini, pemerintah harus berani berhadap-hadapan dengan industri otomotif dan perusahaan pembiayaan kredit.

Apalagi, jika pemerintah merasa diuntungkan oleh pajak kendaraan, berupa pajak biaya balik nama kendaraaan bermotor (BBNKB) sekitar Rp1,9 triliun, pajak kendaraan bermotor (PKB) yakni sekitar Rp1,5 triliun, dan pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) sekitar Rp346,37 miliar.

Akan tetapi, solusi untuk mengatasi kelebihan jumlah kendaraan ini, khususnya motor, tidak langsung kepada pembatasan. Sebab, dalam banyak hal, motor menjadi sarana produksi dan alat penting bagi rakyat untuk menunjang aktivitas ekonomi. Sehingga, misalnya, yang perlu dilakukan adalah pajak parkir atau pengenaan pajak jika melalui jalan-jalan tertentu.

***

Hampir semua alat transportasi massal di jakarta, dari bus kota, kereta api, dan busway, belum bisa mengatasi persoalan kemacetan. Sebelumnya, Pemda DKI pernah berharap bahwa busway bisa mengurangi kemacetan di jakarta, dengan mengalihkan kelas menengah dan atas dari mobil pribadi ke busway. Tetapi itu tidak terjadi.

Sebelumnya juga, Pemprov DKI berkeinginan untuk membangun monorel, namun proyek ini juga terhenti di tengah jalan. Tiang-tiang monorel seolah-olah telah menjadi “monumen” kegagalan pemerintah DKI dalam membangun sistim transfortasi massal.

Baru-baru ini Pemrov DKI kembali bersemangat untuk menghidupkan sistim transportasi massal, yaitu pengembangan Mass Rapid Transit (MRT) dan melanjutkan proyek monorel.

Kita berharap, proyek pembangunan transportasi massal tidak sebatas angan-angan belaka, tetapi bisa diwujudkan pemerintah dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut