FNPBI Sulsel Gelar Konsolidasi

Alam neoliberalisme memang tidak memberikan ruang bagi berdirinya organisasi buruh terorganisir dan revolusioner. Proses deindustrialisasi telah merontokkan keanggotaan sebagian serikat buruh, termasuk serikat buruh besar sekalipun.

Persoalan ini didiskusikan saat konsolidasi wilayah Federasi Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI) di Ruko Berdikari, di Makassar (9/1). Meski berlangsung sangat sederhana dan terbatas, tetapi konsolidasi ini diharapkan bisa menyelesaikan persoalan-persoalan politik dan organisasi.

Ketua FNPBI Sulsel, Jaya Negara, yang terpilih kembali sebagai ketua dalam konferensi ini, menyatakan bahwa pihaknya tidak akan memasang target muluk-muluk mengenai pembangunan organisasi ke depan.

“Pada intinya, kami akan mengkonsolidasikan diri terlebih dahulu. Mengingat bahwa banyak kader dan pengurus kami yang hilang karena PHK dan tekanan dari pengusaha,” katanya kepada Berdikari Online.

Pada tahun 2001-2003, FNPBI Sulsel pernah memiliki puluhan SBTK (pengurus tingkat pabrik) di kawasan Industri makassar dan Maros. Meski bukan yang paling besar di Sulsel, tetapi FNPBI punya basis massa yang real dan militan.

Untuk itu, Jaya menggaris bawahi bahwa, selain kebutuhan mengorganisasikan perjuangan kaum buruh untuk memperjuangkan hak-hak sosial ekonominya, pihaknya juga akan mengupayakan pembangunan unit usaha produktif semacam koperasi yang dikelola secara kolektif oleh anggota.

“Kita butuh pengorganisasian produksi juga, agar ketika mereka di-PHK oleh perusahaan masih punya alat pertahanan ekonomi dan bisa bertahan di organisasi,” katanya.

Dalam konsolidasi yang berlangsung sehari ini, konferensi juga memilih pengurus kota yang baru, yaitu Syaiful sebagai ketua dan Firman sebagai sekretaris, ditambah koordinator masing-masing departemen.

Ketua Partai Rakyat Demokratik (PRD) Sulsel, Babra Kamal, yang turut menjadi undangan dalam konsolidasi ini, mengajak kaum buruh agar menjadi kekuatan penting dan bersekutu dengan sektor-sektor lain dalam perjuangan menentang neoliberalisme.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
Tags: