Kekerasan Polisi Di Makassar Menuai Kecaman Luas

demo bbm12.jpg

Tindakan represif aparat kepolisian saat menghadapi aksi mahasiswa menolak kenaikan harga BBM di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (27/11), yang menyebabkan seorang warga bernama Mumammad Arif (17) meninggal dunia, menuai kecaman banyak pihak.

Dewan Pimpinan Nasional Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) menyatakan mengutuk keras tindakan represif aparat kepolisian tersebut. “Kami mengutuk keras tindakan represif kepolisian dalam bentrokan di kampus UMI (Universitas Muslim Indonesia (UMI) yang menewaskan pemuda bernama Ari,” kata Ketua Umum SRMI, Wahida Baharuddin Upa, melalui siaran persnya, Kamis (27/11) malam.

Wahida menilai, tindakan represif kepolisian dalam menghadapi aksi massa memprotes kenaikan harga BBM sudah berlebihan. Hal tersebut, kata dia, memperlihatkan bahwa polisi tidak lagi berdiri menjadi penjaga keamanan, melainkan sebagai penjaga kekuasaan.

Wahida juga mengeritik pemerintahan Jokowi-JK yang sama sekali mengabaikan suara rakyat terkait kenaikan harga BBM. “Dalam pidato pelantikannya Jokowi bilang akan tunduk pada kehendak rakyat dan konstitusi, tapi sekarang dia melahirkan kebijakan yang justru diluar kehendak rakyat dan konstitusi,” terangnya.

Dalam siaran persnya, SRMI mendesak komnas HAM, komisi III DPR RI, dan KOMPOLNAS untuk turun ke lapangan dan mengusut kasus kekerasan aparat kepolisian di kampus UMI kemarin. Tak hanya itu, SRMI menginstruksikan seluruh cabang-cabangnya yang tersebar di 17 Provinsi dan 56 kota/kabutapen untuk menggelar aksi massa di markas Kepolisian Daera (Polda), Kepolisian Resort (Polres), dan kantor DPRD.

Kecaman serupa juga dilontarkan oleh Eksekutif Nasional Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND). Sekretaris Jenderal LMND, Hendri Kurniawan,  menganggap tindakan represif kepolisian sebagai tindakan pembungkaman terhadap hak demokrasi rakyat.

“Aksi yang hendak menyuarakan nasib rakyat bukannya disambut dengan baik dan didengarkan, eh.. malah disambut dengan peluru dan gas air mata. Ini membuktikan bahwa watak rezim hari ini tidak berbeda jauh dengan rezim sebelumnya,” kata Henri.

Henri menjelaskan, sejak meletusnya aksi protes menolak kenaikan harga BBM beberapa pekan lalu, pihak kepolisian terlihat mengedepankan pendekatan kekerasan dan represif. Akibatnya, kata dia, banyak sekali aktivis yang terlibat aksi protes yang ditangkap dan menjadi korban kekerasan.

Henri juga mengeritik tindakan kepolisian dan media massa yang berusaha mendiskreditkan aksi protes menolak kenaikan harga BBM. Menurutnya, polisi dan media terkesan ingin menciptakan opini bahwa banyak aksi massa yang digelar kepolisian justru berbenturan dengan warga masyarakat.

Padahal, kata Henri, apa yang diklaim sebagai ‘warga masyarakat’ oleh kepolisian dan media massa tak lain adalah massa bayaran atau preman binaan kepolisian. “Dalam kasus di Makassar diketahui bahwa massa yang mengaku warga, yang turut menyerang mahasiswa, adalah massa bayaran dan sengaja dikerahkan oleh kepolisian,” kata Henri.

Henri menilai, tindakan kepolisian dan media tersebut bertujuan untuk mengisolasi aksi massa menolak kenaikan harga BBM dari massa luas yang terkena dampak kenaikan harga BBM. Karena itu, Henri mengajak gerakan mahasiswa untuk mengedepankan aksi-aksi yang melibatkan massa-rakyat, terutama yang terkena dampak kenaikan harga BBM.

Kecaman juga dilayangkan oleh Komite Pimpinan Pusat Serikat Tani Nasional (KPP-STN). Ketua Umum STN Yoris Sindhu Sunarjan menilai, tindakan represif kepolisian di Makassar kemarin merupakan upaya untuk meredam dan menghentikan aksi protes menolak kenaikan harga BBM.

“Sebelumnya Wapres Jusuf Kalla juga telah menyatakan aksi-aksi menolak kebijakan tersebut akan berakhir dalam 1 minggu. Namun sampai hari ini aksi terus berlanjut dan mereka memaksakan diri untuk meredam aksi dengan cara yang paling brutal,” kata Yoris.

Karena itu, Yoris mengajak seluruh basis-basis STN untuk terlibat dalam aksi-aksi solidaritas mengecam tindakan represif kepolisian di Makassar. STN menyerukan kepada gerakan mahasiswa dan rakyat penolak kenaikan harga BBM untuk membangun posko-posko perlawanan.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut