Keharusan Perempuan Terlibat Dalam Revolusi Nasional

Perempuan merupakan bagian yang tak terpisahkan masyarakat. Artinya, kemajuan masyarakat diisyaratkan oleh kemajuan perempuannya; dan sebaliknya, kemajuan perempuan dipengaruhi pula oleh kemajuan masyarakatnya.

Sepanjang sejarah, rakyat selalu dihadapkan pada persoalan kemiskinan dan ketertindasan. Terlebih bagi perempuan, yang sejak dahulu hingga kini selalu menjadi pihak yang dimiskinkan dan paling tertindas dari yang ditindas. Tak bisa dipungkiri, hal ini adalah buah dari pohon kolonialisme, yang bukan saja mewariskan keterbelakangan teknologi dan sumber daya manusia, namun juga rendahnya kualitas demokrasi dan kesetaraan. Atas dasar inilah, maka tak heran jika dimana-mana sering terdengar pekik teriakan pembebasan nasional berjalan selaras dengan isu kesetaraan bagi perempuan.

Dewasa ini, pergerakan perempuan bukanlah hal yang asing lagi ditelinga kita. Hampir disetiap sudut kota terdapat kelompok yang tengah giat membicarakan persoalan perempuan. Mulai dari organisasi LSM, ormas, komite-komite hingga lingkar studi perempuan di kampus-kampus.

Berbagai aktivitas pun telah dikerjakan, mulai dari membangun wacana intelektual, kampanye melalui media massa, mengadvokasi perempuan korban kekerasan, hingga demonstrasi massa  ke berbagai lembaga pemerintahan. Bahkan, tak sedikit perempuan yang ikut bertarung untuk memperoleh ruang politik di parlemen, agar hak dan tuntutannya bisa lebih mudah tersampaikan.

Hal ini merupakan bukti nyata kemajuan gerakan perempuan di jaman sekarang. Akan tetapi, terlepas dari semua upaya tersebut, gerakan ini masih terkadang bersifat spontan dan sektarian. Gerakan perempuan dewasa ini terkadang lebih banyak disibukkan pada isu-isu perempuan yang sedang mengemuka ketimbang berpikir untuk mencari solusi yang mendasar. Padahal, upaya pembebasan perempuan tidak bisa dipisahkan dengan upaya mengakhiri sistim ekonomi-politik yang menindas rakyat secara keseluruhan, yakni neoliberalisme.

Perempuan Bergerak

Dahulu, di akhir abad ke-19, kaum perempuan sudah terlibat dalam perjuangan bersenjata melawan penjajah. Saat itu, keterlibatan perempuan dalam perjuangan menentang kolonialisme banyak dipicu oleh sentimen agama, kultur, dan keharusan membela tanah kelahiran. Ini bisa dilihat pada tokoh-tokoh seperti Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Martha Christina Tiahahu, Nyi Ageng Serang, dan lain-lain.

Saat itu ide nasionalisme belum-lah lahir. Ide tentang kesetaraan perempuan pun belumlah lahir. Namun demikian, kaum perempuan sudah ikut andil dalam perjuangan menentang kolonialis Belanda. Sampai-sampai banyak diantara mereka yang gugur di medan pertempuran ataupun di penjara-penjara kolonial.

Lalu, belasan tahun kemudian, Kartini muncul dengan terobosan pemikiran yang sangat maju dizamannya. Kartini mulai mendobrak sekat-sekat yang menghambat ruang gerak perempuan, terutama patriarki. Ia mendobrak faham kolot itu dengan senjata pendidikan bagi kaum perempuan. Yang menarik, selain memiliki perhatian pada persoalan perempuan, kartini juga merupakan feminis yang anti kolonialisme.

Segera setelah itu, buah pemikiran kartini pun menjadi salah satu referensi gerakan perempuan di nusantara. Tokoh perempuan pun mulai bermunculan. Saat itu, kesadaran mereka tidak hanya disandarkan pada tuntutan kesetaraan saja, namun juga digandengkan dengan kesadaran melawan kekejaman kolonialisme.

Gerakan perempuan ini terus mengalami perkembangan, sampai akhirnya muncullah oraganisasi perempuan terbesar dan paling disegani dizamannya yakni, gerakan wanita Indonesia (Gerwani). Bagaimana tidak, organisasi ini memiliki jutaan anggota perempuan progresif, dimana perjuangannya tidak hanya menyuarakan hal-hal yang menyangkut soal perempuan, namun juga ikut terlibat aktif dalam panggung politik nasional untuk menentang feodalisme dan imperialisme.

Awalnya, pada 4 juni 1950, Umi sarjono dan SK Trimurti menghimpun enam organisasi massa perempuan dalam wadah Gerakan Wanita Indonesia Sedar (Gerwis) di Semarang, Jawa Tengah. Program utama gerwis adalah menuntut UU perkawinan, mengkampanyekan hak-hak perempuan serta memperjuangkan hak kaum buruh dan tani.

Gerwis kemudian berubah nama menjadi gerakan wanita Indonesia pada kongres pertama di Jakarta, Desember 1951. Gerwani kerap menyelenggarakan kursus pemberantasan buta huruf dan membangun sekolah serta melakukan propaganda anti imperialisme. Disamping melakukan aktifitas penyadaran massa, gerwani pun turut bergabung dengan Gerakan Wanita Demokratis Sedunia (World Women Democratic Federation). Namun, di saat kejayaan organisasi itu hampir mecapai puncaknya, peristiwa G 30 S/1965 mengubah semuanya. Peristiwa itu menjadi dalih bagi rezim Soeharto untuk memberangus gerakan rakyat, termasuk gerakan perempuan, hingga ke akar-akarnya.

Setelah memasuki era reformasi, kelompok perempuan pun mulai bermunculan seperti jamur di musim hujan. Aktivitas beberapa organisasi perempuan pada umumnya tidak jauh berbeda dengan gerakan perempuan di masa silam (walaupun, sebagian memandang bahwa tujuan akhir perjuangan mereka hanya terletak pada soal keadilan gender). Namun, secara kuantitas dan kualitas, belum ada satupun organisasi perempuan saat ini yang mampu menyamai Gerwanii.

Kini, ditengah tumbuh suburnya neokolonialisme yang menggunakan wajah neoliberalisme di negeri ini, kiranya kaum perempuan tidak hanya sibuk meneriakkan kesetaraan. Gerakan perempuan harus menjadi bagian aktif dari gerakan rakyat menentang neoliberalisme dan imperialisme. Apalagi, jika diperiksa baik-baik, kebijakan neoliberalisme sangat mengorbankan kaum perempuan.

Tentang hal ini, Jauh-jauh hari bung karno sudah mengatakan, bahwa perempuan akan terbebas dari segala bentuk ketertindasan jika tujuan akhir bangsa Indonesia telah tercapai, yakni sosialisme. Karenanya, upaya pembebasan perempuan harus seiring dengan perjuangan untuk menyusun masyarakat yang demokratis dan berkeadilan sosial.“Wanita harus mengerti, bahwa hanya sosialisme sajalah yang dapat menolong dia dari ketertindasan, dan karenanya wanita harus ikut serta dalam penyelenggaraan segala hal-hal yang menjadi pokok perjuangan dengan cara yang sehebat-hebatnya,” kata Soekarno dalam bukunya, Sarinah.

Untuk mencapai sosialisme tersebut, kata Soekarno, perlu menciptakan syarat-syaratnya terlebih dahulu. Menurutnya, sebelum kita berbicara jauh pada tahap revolusi sosial, maka tahapan awalnya adalah perjuangan menuntaskan revolusi nasional. Inilah batu loncatan untuk memperjuangkan sosialisme Indonesia.

Karena itu, tak ada alasan bagi gerakan perempuan untuk terlibat dalam perjuangan menuntaskan revolusi nasional. Pun tidak ada alasan bagi kaum pergerakan secara umum, termasuk di kalangan laki-laki, untuk mengabaikan peranan kaum perempuan dalam perjuangan pembebasan nasional. Soekarno menggambarkannya sebagai “dua sayap dari seekor burung” dalam perjuangan pembebasan nasional. Sebab, tidak ada pembebasan perempuan Indonesia tanpa pembebasan nasional, dan pembebasan nasional tidak mungkin dituntaskan tanpa pembebasan perempuan di dalamnya.

Indah Indrayani A. Razak, kader Partai Rakyat Demokratik (PRD) Sulawesi Tengah

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut