10 Kemajuan Penting Di Bawah Pemerintahan Evo Morales

Evo-pueblo.jpg

Besok, Minggu (12/10/2014), Bolivia akan menyelenggarakan Pemilihan Umum (Pemilu). Sekitar 6 juta rakyat Bolivia yang terdaftar sebagai pemilih menggunakan suaranya untuk menentukan kepemimpinan nasional Bolivia untuk lima tahun mendatang.

Salah satu kandidat yang akan bersaing adalah Evo Morales. Dia akan diusung oleh partainya:  Gerakan Menuju Sosialisme (MAS). Dan sama seperti dua pemilu sebelumnya, Evo akan berpasangan dengan seorang intelektual kiri terkemuka, Alvaro Garcia Linera.

Banyak survei mengunggulkan Evo akan tampil sebagai pemenang. Survei terbaru IPSOS memprediksi Evo akan meraih 59% suara. Sementara pesaing terdekatnya, Samuel Doria Medina, seorang raja bisnis semen dari daerah kaya Santa Cruz, akan meraih 18% suara.

Evo masih sangat populer. Dia adalah presiden keturunan pribumi pertama dalam sejarah Bolivia. Dan yang terpenting: kebijakan pemerintahannya telah mengeluarkan mayoritas rakyat Bolivia, terutama masyarakat pribumi, dari kemiskinan dan memulihkan martabat mereka.

Berikut ini 10 kemajuan penting yang dihasilkan pemerintahan Evo Morales:

Pertama, begitu berkuasa di tahun 2006, pemerintahan Evo Morales berjuang keras mengembalikan kedaulatan bangsa Bolivia terhadap kekayaan alam dan aset-aset nasionalnya dari tangan segelintir korporasi asing. Sejak berkuasa di tahun 2006 hingga tahun 2012, Evo sudah empat kali melakukan nasionalisasi secara besar-besaran: nasionalisasi minyak dan gas tahun 2006; nasionalisasi perusahaan telekomunikasi tahun 2008; nasionalisasi pembangkit listrik tenaga air tahun 2010; dan nasionalisasi perusahaan listrik utama tahun 2012. Tahun 2013 lalu Evo mulai menasionalisasi perusahan timah dan perak serta perusahaan pengelola bandara. Langkah ini berhasil mendongkrat penerimaan negara berkali-kali lipat.

Kedua, pemerintahan Evo Morales konsisten meningkatkan belanja sosial hingga 750% dalam 9 tahun terakhir. Peningkatan belanja sosial itu dimungkinkan karena keberhasilan pemerintahan Morales menaikkan penerimaan negara dari pengelolaan sumber daya alam.  Strategi ini berhasil mengurangi kemiskinan dari dari 60,5 persen (2005) menjadi 45% (2011). Sedangkan kemiskinan ekstrim berkurang 36,7% (2005) menjadi 20,1% (2011).

Ketiga, pemerintahan Evo Morales juga konsisten menaikkan upah minimum bagi pekerja. Menurut Organisasi Buruh Internasional (ILO), sepanjang tahun 2005 hingga 2013, upah minumum kaum buruh Bolivia meningkat sebesar 104%. Malahan, dalam dua tahun terakhir, peningkatan upah minimum buruh di Bolivia termasuk tertinggi di Amerika Latin.

Keempat,  pada tahun 2008, setelah melalui referendum yang melibatkan partisipasi luas massa rakyat, Bolivia berhasil melahirkan Konstitusi Baru. Konstitusi baru ini memuat hal-hal penting dan sangat mendasar: pengakuan terhadap hak dan martabat masyarakat pribumi dalam kerangka negara Pluri-nasional; tanggung-jawab negara dalam memenuhi hak-hak dasar rakyat; kedaulatan atas kekayaan alam; kesetaraan gender; pemenuhan hak-hak kaum buruh; dan pengakuan atas prinsip pembangunan yang mempromosikan kehidupan bersama dan harmonis dengan alam.

Kelima, pada tanggal 17 Juli 2014, UNESCO menyatakan Bolivia sebagai kawasan bebas buta-huruf. Keberhasilan ini diraih berkat usaha keras pemerintahan Evo Morales memberantas buta-huruf dan mendemokratiskan lembaga pendidikan. Dengan mengadopsi model Kuba, “Yo sí puedo” (Ya, Aku Bisa), pemerintahan Evo Morales berhasil memobilisasi rakyat dan sumber daya negerinya untuk membebaskan 1,2 juta rakyat dari buta-huruf.

Keenam, Sejak tahun 2011, pemerintahan Evo Morales memulai langkah penting untuk mendemokratiskan lembaga peradilan sebagai jalan menjebol sistim peradilan kolonial. Untuk pertama-kalinya di benua Amerika Latin, para hakim dipilih melalui pemilihan oleh rakyat. Model ini memungkinkan sektor-sektor rakyat yang selama ini dikesampingkan, seperti masyarakat adat dan kaum perempuan, bisa menjadi hakim.

Ketujuh, di bawah pemerintahan Morales, partisipasi kaum perempuan dalam ruang publik dan politik meningkat pesat. Konstitusi baru Bolivia mensyaratkan 50% jabatan atau posisi di pemerintahan diisi oleh kaum perempuan. Sekarang ini, sebanyak 43% dari Walikota dan Dewan Lokal di 327 pemerintahan lokal Bolivia adalah kaum perempuan. Dan 96% diantara mereka menempati posisi tersebut untuk pertama-kalinya. Pada tanggal 9 Maret 2013, Bolivia juga mengesahkan UU baru untuk memerangi kekerasan terhadap kaum perempuan.

Kedelapan,  sejak berkuasa di tahun 2006, pemerintahan Evo Morales sangat berkomitmen menjalankan land-reform sebagai jalan mendemokratiskan hubungan kepemilikan tanah. Menurut catatan Institut Reforma Agraria Nasional (INRA) Bolivia, sebanyak 3,5 juta tanah telah didistribusikan kepada para petani dan komunitas kolektif. Konstitusi baru Bolivia menjamin hak setiap warga negara atas tanah dan fungsi sosial tanah. Selain itu, konstitusi itu juga membatasi kepemilikan tanah maksimum 5000 hektar. Kemudian, pada tahun 2012 lalu, Bolivia mengesahkan UU yang melarang penjualan tanah kepada orang asing.

Kesembilan, pemerintahan Bolivia di bawah kepemimpinan Evo Morales menerapkan konsep “memerintah dengan mematuhi rakyat”. Di sini kedaulatan tidak di tangan negara, melainkan di tangan rakyat. Kedaulatan di tangan rakyat tidak diekspresikan hanya melalui kotak suara dalam lima tahun sekali, tetapi partisipasi aktif dalam berbagai proses perumusan dan pengambilan kebijakan yang berdampak pada kehidupan mereka sehari-hari. Di Bolivia, setiap penyusunan UU harus melalui diskusi dan perdebatan dengan organisasi-organisasi rakyat.

Kesepuluh, Bolivia di bawah pemerintahan Evo Morales mendorong kerjasama dan integrasi regional berbasiskan solidaritas dan penghargaan atas kedaulatan masing-masing negara. Evo berhasil menggabungkan Bolivia ke dalam Aliansi Bolivarian untuk Rakyat Amerika Latin (ALBA), Perhimpunan Negara Amerika Selatan (UNASUR), dan Komunitas Negara-Negara Amerika Latin dan Karibia (CELAC). Dalam politik internasionalnya, Bolivia bersama dengan negara Amerika Latin lainnya, seperti Kuba, Venezuela, dan Ekuador, sangat aktif dalam menggalang solidaritas internasional menentang kejahatan imperialisme di berbagai belahan dunia, termasuk di Palestina.

*Diolah dari berbagai sumber oleh Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut