Exit Poll: Evo Morales Menang Telak Di Pilpres Bolivia

Evo Morales-2.jpg

Hasil penghitungan exit poll sejumlah lembaga survei menunjukkan bahwa kandidat Presiden yang diusung Gerakan Untuk Sosialisme (MAS), Evo Morales, menang telak dalam Pemilu Presiden (Pilpres) Bolivia yang berlangsung pada hari Minggu (12/10/2014).

Menurut exit poll yang dilakukan oleh  Ipsos Reid, Evo Morales meraih suara sebesar 60% suara. Sedangkan pesaing terdekatnya dari sayap kanan, Samuel Doria, hanya memperoleh 25,3% suara.

Kemudian, hasil exit poll yang diselenggarakan oleh Badan Informasi Bolivia (ABI) juga menunjukkan kemenangan telak Evo Morales, yakni 60,5% suara. Stasiun TV ATB juga memprediksi Evo Morales meraih suara hingga 60,5%.

Di La Paz, ibukota Bolivia, Morales diperkirakan menang dengan perolehan suara 70%. Di Cochabamba, kota terbesar ketiga di Bolivia, partainya Evo Morales, yakni MAS, menang dengan 60%.

Hasil ini menunjukkan bahwa Evo Morales akan kembali terpilih sebagai Presiden Bolivia untuk ketiga kalinya. Ini juga berarti revolusi untuk mewujudkan “sosialisme komunitarian” akan berlanjut di Bolivia.

Tak lama setelah perhitungan exit poll keluar, Evo Morales dan wakilnya, Alvaro Garcia Linera, bersama dengan sejumlah pimpinan serikat buruh dan gerakan sosial, menemui massa pendukungnya yang berkumpul di luar Istana Kepresidenan.

Ia mengucapkan banyak terima kasih kepada pendukungnya. “Kami akan terus naik, kami akan terus menyimak hasil awal dan kami akan naik di semua provinsi (departementos). Kami menang di 8 departementos,” katanya di hadapan massa pendukungnya.

Lebih lanjut Evo mengatakan, “ada perasaan yang mendalam, bukan hanya di Bolivia, tetapi di seluruh benua Amerika, yaitu kebebasan, kemenangan anti-imperialisme.” Kata demi kata dari pidato Evo disambut oleh massa pendukungnya dengan yel-yel: “Tanah Air, Ya!..Kolonialisme, Tidak!”

“Di jalan demokrasi, sudah disahkan bahwa Bolivia bukan lagi bulan setengah, tetapi bulan penuh,” terangnya merujuk kepada upaya sekelompok oposisi yang disokong oleh imperialisme AS pada tahun 2008 untuk memisahkan daerah kaya Santa Cruz dari Bolivia.

Evo juga mengatakan, sebanyak 60% suara yang memilihnya adalah kemenangan nasionalisasi atas privatisasi. Ia juga mengingatkan pentingnya memperdalam debat, untuk terus mendengar, untuk membuat proposal baru, dan untuk berpikir tentang perspektif yang lebih besar.

Evo juga berbicara tentang pentingnya pelayanan dasar dan menjamin bahwa Bolivia akan menjadi pusat energi Amerika Latin. Ia juga mendedikasikan kemenangannya untuk Fidel Casto dan Hugo Chavez.

Terakhir, Evo berpesan kepada pendukungnya: “hanya Rakyat yang terorganisir…sektor sosial, pekerja…adalah bagaimana kita membebaskan diri kita sendiri, secara demokratis.”

Seorang warga Bolivia, Flavia Nunez, mengaku memilih Evo Morales karena tidak ingin sayap kanan berkuasa. “Aku memilih untuk Morales. Ini kandidat sayap kanan ingin membawa kami kembali mundur ke waktu itu. Saya tidak menginginkan hal itu,” katanya.

Memang, beberapa minggu sebelum pemilu, berbagai survei sudah menjagokan Evo Morales. Dua periode pemerintahannya membawa kemajuan sangat pesat bagi rakyat Bolivia, terutama bagi sektor-sektor sosial yang selama ini dikesampingkan.

Begitu berkuasa di tahun 2006, Evo Morales membanting haluan negeri itu dari pro-neoliberal menjadi anti-imperialis. Evo menasionalisasi sejumlah perusahaan asing, terutama perusahan migas, hidrokarbon, telekomunikasi, listrik, timah, dan lain-lain. Langkah nasionalisasi ini menjadi modal bagi Bolivia untuk menegakkan kedaulatan negerinya dan sekaligus memanfaatkan kekayaan alam bagi kesejahteraan rakyatnya.

Laporan PBB pada bulan September lalu mengakui sukses besar Bolivia dalam memerangi kemiskinan di kawasannya. Menurut PBB, Bolivia berhasil memangkas kemiskinan sebesar 32% antara tahun 2000-2012. Dan sejak Evo Morales memegang tonggak kekuasaan negeri itu, kemiskinan ekstrim berkurang dari 38,2% menjadi 21,6%.

Menurut Jeffrey R. Webber, seorang pengamat Amerika Latin di Queen Mary University of London, oposisi sayap kanan di Bolivia sangat terpecah, lemah, dan tidak bisa menawarkan sebuah bentuk kebijakan alternatif.

“Baik Doria Medina dan Quiroga ternoda oleh peran mereka di masa lalu sebagai Menteri terkemuka di periode neoliberal ortodoks di tahun 1990-an.  Neoliberalisme ortodoks, atau Washington Consensus, sudah secara massif didiskreditkan di Bolivia pada abad ke-20,” katanya.

Untuk melihat kemajuan signifikan di bawah pemerintahan Evo Morales, silahkan kunjungi link berikut: 10 Kemajuan Penting Di Bawah Pemerintahan Evo Morales

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut