Perempuan Pematangsiantar Bangkit Berorganisasi

Sejak reformasi bergulir hingga sekarang, semangat massa rakyat untuk berhimpun dalam berbagai wadah-wadah berbentuk organisasi cukuplah besar. Termasuk di kalangan kaum perempuan.

Begitu pula di kota Pematangsiantar. Di kota yang berjarak 128 kilometer dari Medan ini, kaum perempuan juga mewadahi diri dalam berbagai organisasi dan paguyuban. Hanya saja, kebanyakan organisasi perempuan tersebut tidak punya perspektif politik.

Tanggal 19 September lalu, belasan perempuan muda mendeklarasikan berdirinya sebuah organisasi perempuan lokal. Namanya: Kelompok Studi Perempuan Pertiwi atau disingkat KSPP. Para pendirinya berharap organisasi baru ini bisa menjadi wadah bagi kaum perempuan secara luas dan sekaligus memajukan kesadaran politiknya.

“Dahulu, sekitar tahun 2005, di sini ada juga organisasi perempuan. Tapi kurang dalam memajukan kesadaran anggotanya. Akibatnya, organisasi tersebut tidak bisa bertahan lama,” ungkap Minaria Christyn Natalia, salah satu deklarator dari KSPP ini.

Minar—demikian ia akrab disapa—adalah aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD). Ia bersama-sama dengan sejumlah kawan-kawan sekampusnya kerap menggelar diskusi bertajuk perempuan. Dari diskusi itulah bergulir keinginan untuk mendirikan organisasi perempuan.

“Kami ingin menghidupkan kembali organisasi perempuan di kota ini. Bukan sekedar untuk kumpul-kumpul, tetapi juga memajukan pemahaman dan kesadaran politiknya,” terang perempuan berusia 22 tahun ini.

Hal senada diakui oleh Rini, aktivis berusia 24 tahun yang juga turut membidani kelahiran KSPP. Menurutnya, di kalangan mahasiswa perempuan, semangat berorganisasi itu masih sangat kecil. “Kami ingin agar KSPP ini bisa menjadi wadah bagi perempuan Siantar, agar mereka lebih berani tampil di ruang-ruang publik,” imbuhnya.

Menurut Rini, kendati sudah banyak berdiri wadah perempuan di Siantar, tetapi sebagian besar menjauh dari upaya memajukan kesadaran kaum perempuan dalam memahami realitas sosial.

“Kebanyakan wadah perempuan di sini melakukan kegiatan-kegiatan seperti senam, menari, bagi-bagi nasi bungkus, dan lain sebagainya. Sangat jarang yang memberikan pendidikan politik dan ideologi kepada perempuan,” terangnya.

Membangun Kemandirian Ekonomi Perempuan

Kendati para inisiatornya sebagian besar adalah mahasiswa, tetapi KSPP bertekad menjadi organisasi massa perempuan yang berakar di tengah-tengah rakyat. Karena itu, KSPP mulai menggarap sektor-sektor rakyat.

Menurut Minar, salah satu persoalan terbesar yang dialami kaum perempuan di Pematangsiantar adalah kurangnya lapangan kerja yang layak. Akibatnya, banyak perempuan yang menganggur.

Senada dengan Minar, Rini juga mengungkapkan, kendati perempuan di Siantar mulai terdorong keluar rumah untuk mencari pekerjaan, tetapi sebagian besar terjatuh sebagai “tenaga kerja murah”.

“Pabrik-pabrik yang menawarkan upah tinggi biasanya hanya merekrut laki-laki. Sementara perempuan banyak terserap di sektor informal, seperti pedagang, penjaga toko, pembantu rumah tangga, dan lain-lain,” ungkapnya.

Karena itu, dalam rangka menarik partisipasi perempuan di kalangan bawah, KSPP menjadikan pembangunan kemandirian ekonomi perempuan sebagai program utamanya. Rencananya, KSPP akan membangun unit-unit produksi kolektif, semisal Koperasi, untuk memajukan dan memandirikan kaum perempuan secara ekonomi.

Bagi Minar dan Rini, tidak adanya kemandirian ekonomi bagi perempuan menjadi penghambat bagi mereka untuk berkembang maju, termasuk terjun dalam berbagai aktivitas sosial dan politik. “Agak sulit mengajak mereka terlibat dalam gerakan yang lebih luas, sementara mereka dipaksa berbicara pemenuhan kebutuhan ekonominya,” ujar Minar.

Diskusi Dan Aksi

Sejauh ini, sebagai tahap awal, KSPP rutin menggelar diskusi mingguan. Diskusi tersebut melibatkan sejumlah mahasiswa dari berbagai kampus di Pematangsiantar, seperti Universitas Simalungun (USI), AMIK Tunas Bangsa, Universitas Nomensen, Akbid Henderson, dan STIE Sultan Agung.

Kedepan, KSPP juga akan menggelar pendidikan feminis dan seminar-seminar terkait persoalan perempuan di Pematangsiantar. Dan, tentu saja, KSPP akan menggelar aksi massa sebagai jalan untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan.

Selain itu, sebagai upaya menggerakkan roda organisasi, KSPP melakukan arisan sebagai cara mengumpulkan dana. Nantinya dana itu akan dipergunakan untuk membiayai aktivitas organisasi sekaligus untuk memberangkatkan anggotanya pada Konferensi Nasional Perempuan, di Jakarta, pada pertengahan bulan Desember mendatang.

Perempuan Harus Menentang Neoliberalisme

Dalam platform perjuangannya, KSPP menempatkan neoliberalisme sebagai musuh pokok yang harus dilawan oleh kaum perempuan. “Kita sadar, bahwa persoalan mendasar rakyat Indonesia saat ini adalah neoliberalisme. Dan neoliberalisme ini sangat merugikan kaum perempuan,” kata Rini.

Dalam kerangka itu, KSPP berharap ada sebuah wadah perempuan yang berskala nasional dan berdiri di garda depan dalam kerangka menentang neoliberalisme tersebut. Karena itu, KSPP pun akan siap bekerja untuk menginisiasi lahirnya organisasi perempuan nasional yang progressif dan anti-imperialis.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut