Kecam Penangkapan Petani, Gerakan Rakyat Datangi Markas Korem

Kamis, 3 Juni 2010 | 03.30 WIB | Kabar Rakyat

Laporan: Albar

PALU, Berdikari Online: Puluhan aktivis gerakan rakyat yang tergabung dalam Front Rakyat Advokasi Sawit (FRAS), Rabu (2/6) mendatangi markas Korem 132 Tadulaku. Mereka mengecam penangkapan para petani di Toili, Banggai.

Menurut Mat Pelor, salah seorang aktivis WALHI, pelibatan ratusan personil TNI dalam penggusuran paksa terhadap petani di desa Piondo, Toili, tidak dapat dibenarkan. “Dengan alasan latihan militer, ratusan personil TNI merusak sawah dan perkebunan milik petani,” ujarnya.

Dalam aksi brutal itu, para petani melakukan perlawanan secara spontan, yang mengakibatkan kerusakan alat berat milik PT. KLS. Namun, TNI dan kepolisian justru bertindak di luar batas saat merespon perlawanan warga itu, dengan menangkapi seorang aktivis FRAS Sulteng, Eva Susanti, dan dua orang pemimpin organisasi petani.

Penangkapan petani terus berlanjut hingga sekarang. “Sedikitnya 23 petani telah ditangkap, dimana Polisi mendatangi rumah mereka dengan bersenjatakan pistol. Dan, 12 orang petani belum diketahui keberadaannya,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Albar, salah seorang pengurus FNPBI Sulteng, bahwa penggunaan tentara untuk membantu penggusuran paksa oleh PT. KLS, sebagai perilaku yang menyerupai pola-pola Soeharto di masa lalu.

Dikatakannya, kejadian di Toili membuktikan bahwa reformasi di tubuh TNI belum terjadi, masih tetap menjadi alat kekerasan untuk melakukan penggusuran dan perampasan tanah milik rakyat.

Dalam aksi itu, para aktivis FRAS dan sejumlah organisasi seperti PBHR, LBH-Sulteng, FMN, LMND, FNPBI, LPS-HAM, WALHI, YMP SULTENG, SPHP, Cedharip, dan SP Palu, melakukan aksi teatrikal yang menggambarkan perilaku TNI menindas rakyat, khususnya petani.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut