Jangan Pisahkan Kebudayaan dan Politik

Kebudayaan tidak seharusnya ditempatkan pada ranah yang terpisah dari dinamika politik. Demikian pula sebaliknya, setiap tindakan politik tidaklah bebas dari konsekuensi budaya. 

Demikian disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Partai Rakyat Demokratik (PRD), Dominggus Oktavianus, saat memberi sambutan di pembukaan Konferensi Nasional (Konfernas) Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker), Sabtu (27/8/2016).

Menurut dia, peristiwa-peristiwa politik penting dalam sejarah perjalanan Bangsa Indonesia sekaligus juga adalah peristiwa budaya. Dia mencontohkan Revolusi Agustus 1945.

Revolusi Agustus, kata dia, bukan hanya merombak tatanan politik kolonial menjadi tatanan yang berkedaulatan, mengganti aparatus dan sistem ekonomi kolonial dengan aparatus dan sistem ekonomi yang berpihak pada Bangsa Indonesia.

“Tetapi juga merombak budaya kolonial dan feodal, merontokkan budaya takut, budaya lemah dan budaya rendah diri dari bangsa Indonesia,” jelasnya.

Lebih lanjut, Dominggus menjelaskan, setiap kerja seni-budaya merupakan peleburan daya kreatif, atau pengejewantahan diri untuk mengangkat persoalan rakyat ke permukaan.

“Ekspresi dalam karya itu diharapkan dapat menggugah kepekaan individu menjadi kepekaan sosial yang pada gilirannya dapat membangkitkan kesadaran massa,” kata dia.

Sebagai konsekuensinya, lanjut Dominggus, setiap pekerja seni-budaya dipinta untuk tidak hanya menguasai aspek-aspek teknis berkesenian tapi juga persoalan ekonomi-politik yang lebih luas yang berdampak terhadap kehidupan, pola pikir, serta perilaku Bangsa Indonesia.

“Itulah mengapa pemahaman atau kesadaran politik menjadi penting bagi kerja seni-budaya,” tegasnya.

Dia pun mengutip kata-kata penyair Jerman, Bertold Brecht:

Buta yang terburuk adalah buta politik. Dia tidak mendengar, tidak berbicara dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik…

Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, dan lain-lain semua tergantung pada keputusan politik.

Orang yang buta politik begitu bodohnya sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik.

Si dungu ini tidak tahu bahwa akibat kebodohan politiknya lahirlah pelacur, anak terlantar, pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi busuk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional…. (Bertolt Brecht, 1898-1956)

Karena itu, dalam menghadapi persoalan bangsa saat ini, yakni imperialisme, Dominggus mengajak pekerja seni-budaya mengambil peran yang lebih terencana, lebih terorganisir, dan yang lebih masif untuk melawan imperialisme.

“Kami usulkan agar Konferensi ini, selain merumuskan strategi kebudayaan yang bersifat umum, juga dapat merumuskan bentuk kongrit gerakan yang paling memungkinkan dan efektif untuk mengembangkan kesadaran perlawanan terhadap imperialisme,” tuturnya.

Dominggus berharap Jaker tidak berposisi netral atas realitas sosial. Untuk itu, Jaker harus melebur ke kekedalaman untuk dapat menyentuh hakekat dari keadaan antara—mengutip Pramoedya A. Toer–“yang harus dibabat” dan “yang harus ditumbuhkan”.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut