Jaker gelar Panggung Kebudayaan Rakyat

Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker) menggelar Panggung Kebudayaan Rakyat di markas Jaker, di jalan Sawo Kecik, Bukit Duri, Jakarta Selatan.

Panggung rakyat ini merupakan bagian dari acara Konferensi Nasional Jaker. Di acara ini, pekerja budaya dari berbagai kota menampilkan karya-karyanya: seni pertunjukan; teater, musik, juga seni sastra meliputi puisi, novel dan seterusnya.

Acara yang bermula pukul 13.30 WIB itu langsung terbakar setelah disulut oleh Penampilan Jack Albantani, pemusik yang merupakan peserta konferensi perwakilan Kota Tangerang. Beberapa karyanya yang keras menohok ketimpangan kesejahteraan sosial yang terjadi di tuangkan dalam lagu: O..Bundar, Gerakan Pasal 33, Awas Imperialis dan seterusnya.

Berikutnya, ada Medi Muamar, aktivis sekaligus penyair yang menjadi perwakilan kota Yogyakarta, tampil membawakan puisi-puisi pergerakannya. Reportoar puisi yang ditampilkan malam itu disesuaikan dengan situasi yang dihadapi gerakan: bila di masa pemerintahan otoriter orde baru puisi-puisi banyak bicara soal perjuangan kebebasan demokrasi dan ruang berekspresi, maka puisi-puisi Medi bersuara soal kedaulatan nasional dan redupnya kepribadian bangsa oleh gempuran budaya asing.

Setelah perwakilan dari Yogyakarta, berturut-turut tampilan Tari Adinda, Inta Nuka dan Komunitas Rebel Indonesia. Lagu-lagu bertema sosial karya Roy Jeconiah (Boomerang, RI-1, Jecovox) dibawakan oleh komunitas Rebel Indonesia.

Rebel Indonesia sendiri adalah sebuah komunitas musik yang berisi para rocker penggemar grup Boomerang dan Roy Jeconiah (RI 1 maupun Jecovox). Mereka kerap menyuarakan tema–tema sosial kerakyatan, perdamaian dan persaudaraan.

Tari Adinda mewakili Jaker Pusat menyanyikan lagu-lagu bertema buruh. Sementara Intan Nuka mewakili peserta konferensi nasional mewakili Kota Kupang Nusa Tenggara Timur tampil membawakan dengan indah lagu-lagu khas tanah kelahirnya; Bolelebo, Mai Fali E, Ofalangga dan Naweni Tana.

Pada sore hari, sekitar pukul 15.00 WIB, giliran Sanggar Teater Biru tampil membawakan lakon “Indonesia”. Komunitas teater yang bermarkas di Jakarta Timur ini mementaskan karya Ragil Biru di halaman markas Jaker.

***

Malam harinya, panggung kebudayaan rakyat dilanjut dengan Perkenalan dan Diskusi Buku Novel Metanusantara karya aktivis Jaker dari Riau, Suharyoto Sastrosuwignyo.

Menurut Aryo (panggilan akrab Suharyoto Sastrosuwignyo), novel ini tidak seperti novel lain karena ada kelebihan dalam proses penciptaanya yakni: puasa mutih 40 hari, selesai menjadi buku dalam 40 hari dan memiliki tebal 400-an halaman.

Aryo menyebut karyanya sebagai karya hiper realis. Ada keinginan penulis agar Indonesia sangat memenuhi syarat untuk menjadi mercusuar dunia. Menurutnya, ini adalah karya fiksi, tetapi di balik yang fiksi itu ada yang nyata. Upayanya memunculkan nama nama orang yang dikenal sebagai tokoh penting di buku tersebut dimaksudkan sebagai upayanya mendorong mereka mewujudkan cita-citanya.

Diskusi dan perkenalan novel Metanusantara malam itu dipandu oleh Marsiswo Dirgantoro (peserta konferensi perwakilan kota Madiun), dengan pembahas buku Nasrudin Nasution (seorang jurnasil dari kota Bogor) dan AJ. Susmana (penulis dan pengurus Jaker).

Panggung Kebudayaan Rakyat ditutup oleh penampilan grup musik New Radio. Grup ini menyajikan teatrikal musik dalam tampilan lagu Piggy Stardust, Gelap dan “Itu”, dimana puisi dan eksplorasi bunyi adalah kekuatan grup ini. Qiyam Khrisna Aji yang menjadi motor grup perlu untuk menggosok-gosok gitar elektriknya guna mendapat bunyi yang tak umum, dia juga memakai hair dyer dan botol-botol beling isi air berbeda tiap botolnya sehingga bila diketuk menghasilkan bunyi berlainan.

Para personil New Radio hadir di Konferensi Nasional JAKER hari pertama 27 Agustus 2016 sebagai perwakilan Jaker Jakarta Selatan.

Konferensi Nasional Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat menghasilkan beberapa rekomendasi baik politik dan organisasi, yakni antara lain:

Satu, pendirian Institut atau semacam lembaga pendidikan Jaker

Dua, turut aktif dalam kampanye Pencarian Ketua Umum Widji Thukul yang hilang.

Tiga, kampanye “Memperkuat Kebudayaan Nasional” dengan menggalang kerjasama dengan Lembaga Pemerintahan terkait seperti Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Lembaga Ketahanan Nasional serta unsur-unsur diluar pemerintahan.

Empat, pembentukan Koperasi Jaker

Lima, menggalang gerakan literasi di seluruh kota yang menjadi jaringan Jaker.

Enam, menyelenggarakan Konferensi Kota, paling lambat 2 (dua) bulan terhitung setelah terselenggaranya Konferensi Nasional.

Tujuh, menyelenggarakan Kongres 1 (satu) tahun setelah Konferensi Nasional.

Tejo Priyono

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut