Imperialisme Tua Dan Modern (IV)

Lapangan imperialisme-tua

Sebelum zaman kapitalisme-modern itu, bahasa Inggris sudah menguasai sebagian dari Amerika, sebagian dari India, sebagian dari Australia dan lain-lain, yakni sudah menaruh sendi-sendi “British Empire” nantinya, –sudahlah bangsa Prancis menguasai sebagian pula dari Amerika dan sebagian juga dari India,–sudahlah bangsa Portugis mengibarkan benderanya di Amerika Selatan dan di beberapa tempat di seluruh Asia,–sudahlah bangsa Spanyol menguasai Amerika Tengah dan kepulauan Filipina,–sudahlah bangsa Belanda menduduki Afrika Selatan, beberapa bagian kepulauan Indonesia, terutama Maluku, Jawa, Sulawesi Selatan dan Sumatera. Sudahlah di zaman itu kita melihat hebatnya tenaga berusaha dari nafsu mencari rezeki tadi, yakni tenaga berbuat yang kuat dari imperialisme-tua!

Balapan cari jajahan di zaman imperialisme-modern

Dan tatkala kapitalisme-modern beranak imperialisme-modern, maka kita menjadi saksi atas “balapan cari jajahan” yang seolah-olah tiada berhingga! Kini orang Inggris sudah bisa mengusir bangsa Prancis dan Protunis dan Belanda dari India. Tiada musuh besar-besar lagi yang menghalang-halangi menjalarnya imperialismenya, tiada hingganya lagi bendera Inggris ditanam di mana-mana, tidak puas-puasnya kehausan kapitalisme Inggris mencari dan meminum sumber-sumber kekayaan di luar pagar dari “the Empire” sendiri, tiada suatu benua yang tak mendengar dengungnya pekik perjuangan imperialisme Inggris:

    “Tatkala Inggris demi sabda Gusti
    Menjelma dari samudera biru
    Itu memanglah haknya negeri
    Dan bidadari menyanyikan lagu:
    Perintahlah, Inggris, Perintahlah ombak!
    Bangsa Inggris tak kan menjadi budak!”

India takluk, Singapur dan Malaka diduduki, Tiongkok direbut haknya menetapkan beya dan hak-hak exterritorial, dan dibikin “daerah pengaruh” dengan jalan keras dan jalan “halus”, Mesir “dilindungi”, Mesopotamia “dimandati”,–Hongkong, kepulauan Fiji, India Barat, kepulauan Falkland, Gibraltar, Malta, Cyprus, Afrika. . . . Imperialisme Inggris seolah-olah tidak puas-puasnya! Dan negeri-negeri lain? Negeri-negeri lain pun ikut dalam balapan ini:

Prancis menjejakkan kakinya di Afrika Utara, di Indo-China, di Martinique, di Guadeloupe, di Reunion, di Guyana, di Somali, di Nieuw Caledonia,–Amerika merebut Cuba, Portoriko, Filipina, Hawaii, dll.,–Jerman melancar-lancarkan tangan imperialisme ke pulau Marshall, ke Afrika Barat-Timur, ke Togo, ke Kamerun, ke pulau-pulau Karolina, ke Kiautsjau, ke kepulauan Mariana, geer perkara Marokko dll.,–Italia sibuk memperusahakan daerah pendudukannya Assab dekat selat Bab El Mandeb, mengatur kekuasaannya di Afrika Utara, mengambil Kossala, mencoba menaklukkan Abessinia, mengaut-ngaut di Tripoli dll. pula.

Bahwasanya, balapan mencari jajahan yang ktia alami dalam zaman kapitalisme-modern itu, yang mengaut-ngaut ke kiri dan ke kanan dan memasang mulut serta mengulur-ngulur kukunya sebagai Maha-Kala yang angkara murka,–balapan mencari jajahan ini tidak ada bandingannya di seluruh riwayat manusia.

Jepang

Dan di Asia sendiripun, imperialisme-modern itu membuktikan asal-turunannya: asal-turunan dari kehausan-kehausan ekonomi, anak dari kapitalisme, yang di dalam lingkungan rumah tangga sendiri kekurangan lapang usaha. Di atas sudah kami katakan, bahwa imperialisme itu bukan tabeat bangsa kulit putih saja, bukan “kejahatan hati” kulit putih saja:–Bukan saja imperialisme-modern, tapi juga imperialisme-tua kita dapati pada bangsa manapun juga. Kita ingat akan imperialisme bangsa Tartar yang di dalam abad ke-13 dan ke-14 sebagai “angin simun” menaklukkan sebagian besar benua Asia; kita ingat akan imperialisme bangsa-bangsa Aria, Machmud Gazni dan Barber yang memasuki negeri India; kita ingat akan imperialisme Sriwijaya yang menaklukkan pulau-pulau sekelilingnya; kita ingat akan imperialisme Majapahit, yang menguasai hampir semua kepulauan Indonesia beserta Malaka. Tetapi imperialisme-modern Asia baru kita lihat pada negeri Jepang tempo akhir-akhir ini; imperialisme-modern di Asia adalah suatu “barang baru””, suatu unicum, suatu nieuwigheid; memang hanya negeri Jepang saja dari negeri-negeri Asia yang sudah masuk ke dalam kapitalisme-modern itu. Kapitalisme-modern Jepang yang butuh akan minyak tanah dan arang batu, kapitalisme-modern Jepang yang juga membangkitkan tambahnya penduduk yang deras sekali sehingga melahirkan nafsu mencari negeri-negeri emigrasi[1], –kapitalisme-modern Jepang itu membikin rakyat Jepang lupa akan kesatriaannya dan menanamkan kuku-kuku cengkramannya di semenanjung Sachlin dan Korea dan Mancuria.

Nama “kampiunnya bangsa-bangsa Asia yang diperbudak”, nama itu adalah suatu barang bohong, suatu barang dusta, suatu impian kosong bagi nasionalis-nasionalis kolot, yang mengira bahwa Jepanglah yang akan membentak imperialisme Barat dengan dengungan suara: “Berhenti!”—Bukan membentak “Berhenti!”, tetapi dia sendirilah ikut menjadi belorong imperialisme yang angkara murka! Dia sendirilah yang ikut menjadi hantu yang mengancam keselamatan negeri Tiongkok, dia sendirilah yang nanti di dalam pergaulan mahahebat dengan belorong-belorong imperialisme Amerika dan Inggris ikut membahayakan keamanan dan keselamatan negeri-negeri sekeliling Lautan Teduh, dia sendirilah salah satu belorong yang nanti akan perang tanding di dalam perang Pasifik!

Wujud balapan sekarang

“Wujud cari jajahan” di dalam bagian kedua dari abad ke-19, mula-mula adalah suatu balapan antara negeri-negeri Eropa saja. Tetapi sesudah di dalam balapan ini negeri Inggris menjadi yang paling depan, susudah kapitaisme Inggris di dalam imperialismenya bisa membelakangkan sekalian musuh-musuhnya, sesudah John Bull boleh berjanji “Perintahlah, Inggris, perintahlah ombak”, sesudah itu masuklah dua kampiun baru di dalam gelanggang imperialisme dan menjadilah balapan ini di dalam abad ke-20 suatu balapan baru antara Inggris, Amerika dan Jepang, suatu balapan baru untuk mengejar kekuasaan di atas negeri mahakaya yang sampai sekarang belum bisa “terbuka” seluas-luasnya itu, yakni negeri Tiongkok!

Perebutan kekuasaan di Tiongkok inilah kini menjadi nyawa persaingan antara belorong-belorong imperialisme yang tiga itu, perebutan kekuasaan di Tiongkok kini menjadi pokok politik luar negeri Jepang, Amerika dan Inggris. Siapa kuasa di tiongkok, dialah akan kuasa pula seluruh daerah Pasifik. Siapa yang menggenggam rumah tangga Tiongkok, dialah yang akan menggenggam pula segala urusan rumah tangga seluruh dunia Timur, baik tentang ekonomi maupun tentang militer. Oleh karena itu, Tuan-tuan Hakim, negeri Tiongkok itu akan diperebutkan mati-matian oleh belorong-belorong tadi, diperjuangkan mati-matian di peperangan Lautan Teduh!

Tentang propaganda kami berhubung dengan bahaya perang Lautan Teduh itu, akan kami uraikan lebih lebar di lain tempat.


[1] Emigrasi, pemindahan rakyat.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut