Mahasiswa Unair Gelar Pegelaran Budaya Anti Kenaikan Biaya Pendidikan

Sebuah acara pegelaran budaya diorganisir oleh puluhan aktivis mahasiswa dari dua organisasi, yaitu Front Advokasi Mahasiswa (FAM) Unair dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).

Pegelaran budaya ini merupakan rangkaian perlawanan mahasiswa Unair menentang kebijakan pejabat Universitas menaikkan biaya pendidikan. Acara itu mengambil tempat di Tandon Herman-Bimo (Pertigaan Fisip dan FIB Unair). Herman Hendrawan dan Bimo Petrus adalah dua aktivis yang gagah-berani melawan rejim Orde Baru.

Dengan memilih tempat itu, para mahasiswa mencoba mengingatkan civitas akademika bahwa kampus Unair merupakan hasil perjuangan rakyat, yaitu hasil nasionalisasi dua lembaga pendidikan milik Belanda, NIAS dan STOVIT.

Dalam pegelaran budaya itu, mahasiswa mempertunjukkan dangdutan, musikalisasi puisi, instrumental biola, dan ludrukan. Salah satu ludrukan menampilkan judul “Berbarengan Gagas Masa Depane Unair”.

Menurut jubir aksi ini, Albertus Beny, mahasiswa tetap melakukan perlawanan terhadap kenaikan biaya pendidikan. “Gerakan ini merupakan aksi simbolis untuk menyindir pejabat struktural unair yang menggunakan klaim defisit keuangan sebagai legitimasi mengambil jalan pintas menaikan biaya pendidikan,” ujar mahasiswa juruan Farmasi ini.

Selain itu, kata Albertus Beny, alasan defisit keungan juga belum bisa dibuktikan kebenarannya hingga sekarang ini, mengingat bahwa pihak pejabat Unair menolak untuk menerapkan transparansi keuangan.

Dalam aksinya itu, mahasiswa juga menyerukan agar seluruh civitas akademika bisa bergotong-royong menggalang dana, sebuah bentuk sindiran terhadap klaim pihak rektorat bahwa kenaikan biaya pendidikan terjadi karena defisit keuangan.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut