Menanti Chico Mendez di Hutan Lai Wanggi

Minggu, 13 Juni 2010 | 18.51 WIB | Gotong Royong

Oleh: Rudi Hartono*)

Chico Mendez, pemimpin serikat buruh penyadap karet dan sekaligus aktivis lingkungan itu, tentu sudah tidak asing bagi kita, aktivis pergerakan. Dia, meskipun diketahui buta huruf, telah menjadi simbol perjuangan rakyat Brazil, terutama dalam menghadapi kekurang-ajaran “korporasi besar”.

Walaupun Chico Mendez adalah putra dari rakyat Brazil yang biasa, namun adalah tidak tepat untuk menilainya sebagai fenomena yang khas Brazil. Penelitian terhadap fikiran-fikiran dan kiprahnya jelas telah keluar dari batas-batas nasional, malahan telah menginspirasi perjuangan rakyat di manapun di dunia, terutama perjuangan melawan korporasi raksasa perusak hutan.

Ini pula, yang menurut saya, sangat mempengaruhi kifrah perjuangan rakyat Sumba di NTT, dalam melawan kekuasaan korporasi besar, yaitu perusahaan asal Australia, Hillgrove Resources dan mitra lokalnya, PT Fathi Resources. Terlepas, apakah rakyat Sumba mengenal pejuang yang bernama Chico Mendez di hutan Amazon sana atau tidak, namun tidak dapat dipungkiri adanya kesamaan gagasan soal bagaimana memanfaatkan hutan untuk kepentingan rakyat dan ekologi; bahwa eksploitasi hutan di tangan segelintir orang akan mengarah pada “penghancuran”.

Hutan Lai Wanggi, kawasan seluas 47.014,00 ha, adalah kawasan hutan nasional yang diakui negara sejak keluarnya SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan No.576/Kpts-II/1998. Kawasan ini bukan sekedar tempat hidup bagi spesies hewan dan tumbuhan, tetapi juga merupakan “sumber kehidupan” bagi 16 desa di sekitarnya.

Sulit untuk memisahkan rakyat Sumba dan Hutan Lai Wanggi. Bagi rakyat Sumba, hutan Lai Wanggi tidak hanya menjadi “tempat” mencari kebutuhan-kebutuhan hidup, tapi menjadi penyedia suplai air untuk kebutuhan irigasi dan kebutuhan air minum. Sebaliknya, kehadiran masyarakat tradisional di sini, terutama melalui pendekatan kulturalnya, telah berkontribusi dalam pemeliharaan kawasan hutan ini selama bertahun-tahun.

Berkat hutan itu, warga Sumba Timur sedikit tertolong oleh bencana “kekurangan air” yang selalu mengancam daerah-daerah di Nusa Tenggara Timur. Tidak mengherankan, sebagai imbal balik atas manfaat tersebut, masyarakat juga sangat aktif dalam menjaga kelestarian hutan ini.

Namun, dibalik keindahan dan keberagaman fungsi tadi, hutan Lai Wanggi juga menyimpan potensi emas yang bernilai tinggi. Ibarat gula bagi semua semut, korporasi-korporasi tambang pun berkerumun hendak mencari jalan untuk menguasai emas tersebut.

Pada tahun 2008, PT. Fathi Resources berhasil mendapat kuasa pertambangan (KP) dari rejim setempat. Setahun kemudian, yaitu tahun 2009, perusahaan ini berhasil mengubah status ijin dari Kuasa Pertambangan (KP) menjadi Ijin Usaha Pertambangan (IUP) seluas 1000 ha.

Ada yang pernah mengatakan, menyerahkan persoalan ekologi kepada korporasi (swasta) sama saja dengan menyerahkan anak sapi pada seekor singa. Demikian pula dengan nasib Lai Wanggi, fungsi sosial dan ekologis hutan ini telah dipertaruhkan di tangan korporasi asing. Tidak berselang lama setelah dimulainya eksplorasi tambang, kerusakan dan kehancuran sudah terjadi dimana-mana, antara lain, air sungai menjadi keruh, endapan sedimen makin tinggi, dan ikan-ikan mulai mati.

Tidak begitu saja, eksplorasi tambang juga sudah hampir “membunuh” sebuah danau, yaitu danau Lai wolang di Desa Wanggameti, yang sebetulnya juga sangat penting bagi kehidupan warga. Tidak salah dengan perkataan orang, bahwa perusahaan tambang sangat jauh dari menciptakan kesejahteraan, malah meninggalkan kemiskinan dan kerusakan lingkungan.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa kerusakan hutan-hutan seperti ini sangat terkait dengan karakter politik rejim-rejim yang memerintah, baik di lokal maupun nasional. Pertama, rejim-rejim semacam ini telah berfungsi seperti “calo”, yang memperdagangkan potensi kekayaan alam kepada korporasi besar dan berharap mendapat persenan dari sana. Kedua, ketiadaan visi pembangunan yang berbasis di sektor produktif dan pro-rakyat, menyebabkan rejim-rejim seperti ini sangat mudah menggantungkan penerimaan pembangunan dari pajak eksplorasi perusahaan asing.

Terhadap ancaman itu, rakyat Sumba telah memberikan sebuah perlawanan, meskipun belum berhasil hingga saat ini. Sebagai missal, pada tanggal 7-12 Mei lalu, warga desa Wanggameti telah menduduki kantor Bupati Sumba Timur. Di tempat lain, berbagai organisasi pergerakan yang tergabung dalam Front Rakyat Anti-korupsi (FRAKSI), diantaranya PRD, LMND, SRMI, PMKRI, FPLH Sumba Timur, Jatam, dan lain-lain, berkali-kali menggelar aksi massa.

Dari perjuangan itu, kita tentu dapat melihat semangat Chico Mendez yang masih terus hidup, masih terus membidani dan menginspirasi perjuangan rakyat lokal di manapun. Bukankah Chico pernah berkata; “Pada awalnya saya pikir akan berjuang untuk menyelamatkan pohon karet, namun kemudian berjuang untuk menyelamatkan hutan amazon. Sekarang saya menyadari, bahwa saya harus berjuangan untuk kemanusiaan.”

Saya menjadi teringat dengan perkataan Mahatma Gandhi; “”Bumi dan semua isinya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap orang, sayangnya tidak akan pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan satu orang yang serakah.

Kalau Gandhi sudah berkata begitu, masihkah kita mau menyerahkan nasib rakyat dan generasi masa depan kepada korporasi besar?

*) Penulis adalah Deputi Kajian dan Bacaan KPP-PRD dan Pimred Berdikari Online.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut