Hip Hop Dalam Revolusi Di Venezuela

Kelompok Hip Hop Revolusioner di Venezuela

Sejarah musik hip-hop tidak bisa dipisahkan dari sejarah perlawanan kaum tertindas. Banyak sejarahwan mengatakan, musik hip-hop mulai berkembang di New York, Amerika Serikat, pada tahun 1970-an. Musik ini muncul di kawasan kaum miskin: Bronx.

Dengan cepat hip-hop menyebar ke berbagai penjuru dunia. Di Venezuela, anak-anak muda sangat akrab dengan musisi hip-hop, seperti Tupac, Biggie, Wu-Tang,  dan Jay-Z. Film-film tentang musik hip-hop, seperti  Style Wars dan Wild Style, juga beredar luas di negeri itu.

Namun, sebelum Chavez berkuasa, musik hip-hop masih dipandang sebelah-mata. Banyak yang mengidentikkan musik hip-hop dengan anak-anak jalanan, berandalan, dan kriminal. “Masyarakat menolak kami dan melabeli kami kriminalis,” kata Sunny, mahasiswa sekolah hip-hop di barrio La Vega, Caracas.

Tetapi situasi itu mulai berubah ketika Chavez jadi Presiden. Maklum, Chavez adalah penggemar musik hip-hop juga. Ia sangat faham bahwa musik hip-hop merupakan bagian dari kesenian dan energi kreatif massa-rakyat, khususnya kaum muda.

Pemerintahan Chavez kemudian memberi tempat kepada anak-anak muda penggemar hip-hop itu. Bahkan, Chavez sering mengundang musisi hip-hop untuk hadir dalam acara “Alo Presidente”, acara talk-show TV mingguan yang menghadirkan Presiden Chavez.

Tak jarang, Presiden Chavez ikut jingkrak-jingkrak dan nge-rap bareng. Dan itu ditonton oleh rakyat di seluruh negeri. Ini membuat musisi hip-hop mulai dihargai dan diakui oleh bangsanya. Tidak hanya itu, persepsi masyarakat terhadap musik hip-hop pun berubah.

Pada awalnya, anak-anak muda Venezuela tidak begitu tertarik dengan politik. Musisi hip-hop pun, yang sebagian besar memang anak-muda, sangat apatis terhadap politik. “Musik hip-hop untuk hip-hop itu sendiri,” itulah slogan mereka saat itu.

Namun, seiring dengan berkecamuknya revolusi, jalanan telah menjadi manifestasi kebangkitan massa. Anak-anak jalanan, termasuk musisi hip-hop, mulai terseret. Terlebih ketika pemerintahan Chavez membuka ruang bagi mereka.

Akhirnya, pada tahun 2003, musisi Hip-Hop Venezuela berkumpul dan mendirikan gerakan “Hip-Hop Revolución (HHR)”. Gerakan ini menghimpun seluruh musisi hip-hop dan mereka yang berfikiran muda. HHR kemudian mengorganisir sejumlah festival Hip-Hop internasional di Venezuela dan membangun 31 sekolah Hip-Hop di seluruh penjuru negeri.

Di sekolah hip-hop itu ada pembagian: 4 hari belajar keterampilan/teknik musik hip-hop dan sehari diskusi soal politik. Melalui sekolah-sekolah ini Hip-Hop diajarkan sebagai kesenian rakyat. Slogannya pun berubah: Hip-Hop untuk rakyat! Sekolah-sekolah itu diberi nama EPATU (Sekolah Kerakyatan Untuk Seni Dan Tradisi Urban).

Di sekolah-sekolah ini diajarkan betapa terkaitnya Hip-Hop dan politik. “Kami diajari sejarah bangsa kami. Dari situ, kami menjadi tahu betapa pentingnya politik sebagai senjata kami. Dan kebudayaan sebagai sarana memperluas ide-ide kami,” kata Jorney Madriz, seorang guru Hip-Hop di grup “Area 23” di barrio ’23 de enero”, Caracas.

Selain itu, setiap tahun digelar konferensi tentang gerakan Hip-Hop. Musisi dan pemerhati Hip-Hop akan berkumpul di acara ini. Selain menjadi ajang konsolidasi dan diskusi soal perkembangan Hip-Hop, pertemuan ini juga sering menjadi arena pertunjukan kreativitas musik hip-hop: musik, lyrik lagu, grafiti, aksesoris, film, dan lain-lain.

Dengan berdirinya HHR, gerakan Hip-Hop di Venezuela telah menjadi energi penting bagi revolusi. Melalui musik Hip-Hop, anak-anak muda Venezuela dipanggil untuk terlibat langsung dalam revolusi. “Kami adalah butiran-butiran pasir untuk melahirkan pemikiran baru dan masyarakat baru,” demikian isi Manifesto EPATU.

HHR percaya bahwa kesenian itu lahir dari rakyat untuk rakyat. Kesenian tidak dilahirkan di layar kaca atau museum-museum. HHR mempromosikan seni untuk Rakyat. “Hip-Hop adalah ekspresi daya kreatif massa rakyat. Ini adalah kebudayan yang dilatari oleh kondisi kemiskinan, di kalangan kaum terabaikan, termarjinalkan, dan kaum tertindas.”

Musik Hip-Hop terlibat dalam pengorganisasian rakyat. Tak hanya itu, musik Hip-Hop selalu hadir di tengah-tengah mobilisasi rakyat. Musik Hip-Hop telah membuat aksi-aksi rakyat lebih kreatif, ekspresif, dan dinamis.

Musisi Hip-Hop Venezuela seakan mengikuti pesan aktivis dan penulis kiri terkenal, Tariq Ali: “mengumpulkan kaum muda dari berbagai sektor masyarakat untuk mendiskusikan dan mendidik dirinya untuk melawan salah satu musuh terbesar kemanusiaan, yakni Imperialisme.” Dan, di Venezuela, kolektif Hip Hop Revolusioner sudah berdiri di garda depan perjuangan melawan imperialisme dan kapitalisme.

Mahesa Danu, kontributor Berdikari Online

[youtube]gkEOJrK9CDk[/youtube]

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut